Header Ads

Pusat souvenir
Terkini
recent

Berfikir Nasionalis Untuk Majukan Perfilman Indonesia

ilustrasi /forbes.com

Oleh Donna Issabella

Mengapa orang Indonesia lebih menyukai film luar negeri dari pada film Indonesia? Sepertinya sangat mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, pasti banyak orang beranggapan film luar negeri lebih keren, lebih menarik, lebih seru dengan animasi yang luar biasa. Ya, itu adalah bebrapa jawaban yang benar karena film luar negeri sudah menggunakan teknologi yang canggih nan super. Sedangkan kita dari mana kita bisa menggunakan peralatan film yang canggih atau kasarnya uang darimana supaya kita bisa menggunakan peralatan film yang canggih itu?

Padahal jika orang-orang Indonesia mau menonton film lokal buatan Indonesia sendiri, sangat tidak diragukan perfilman Indonesia bisa maju. Secara teknis seperti ini, jika banyak yang menonton film tersebut, maka banyaklah juga pendapatan dari production house tersebut. Seandainya production house tersebut balik modal dan merasa puas akan hasil kerja kerasnya selama ini, production house tersebut pasti akan membuat karya film yang jauh lebih bagus dengan modal besar yang telah mereka kantongi. Pernyataan diatas langsung dari salah satu produser film yang pernah berbincang-bincang dengan saya yang tak lain adalah tante saya.

Saya sebagai mahasiswi broadcasting yang tidak jauh dari dunia perfilman sangat prihatin dengan film-film Indonesia yang kurang banyak peminatnya di negara sendiri. Saya juga pernah merasakan sulitnya membuat film pada masa SMK, saat itu saya hanya disuruh membuat karya film pendek berdurasi 24 menit dan itu sangatlah tidak mudah. Dengan berbagai proses panjang, barulah film itu bisa saya tontonkan di sekolah. Makanya saya tahu betul rasa capeknya para film maker membuat suatu karya utuh.

Mengapa film Indonesia masih kurang dicintai oleh orang Indonesia sendiri? Ada berbagai macam alasan, namun disini saya melihat bahwa film-film Indonesia dari segi karakter pemain masih sangat kurang melekat di hati masyarakat. Sejauh ini, Indonesia masih kurang membuat ide cerita yang bisa meluluhkan hati masyarakat. Banyak ide-ide cerita yang di ambil dari novel-novel best seller. Contohnya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, 5 cm, Laskar Pelangi, Supernova, Negeri 5 Menara,Surat Kecil Untuk Tuhan, Hafalan Shalat Delisa dan lain-lain.

Namun, sebenarnya itu tidak menjadi sebuah masalah, karena novel-novelnya pun asli Indonesia. Film-film Indonesia yang ceritanya diangkat dari novel pun memang sedang digandrungi oleh masyarakat, saya pun begitu. Karena mungkin dengan sudah terbitnya novel memberikan sedikit gambaran bagi para calon penonton dan akhirnya pada saat menonton kita bisa tau sejauh mana film maker Indonesia bisa memvisualisasikan dalam film. Disana lah para penonton menilai Film Indonesia. Jika sesuai dengan bayangan penonton, tentu penonton akan senang dan memberikan apresiasi, tapi jika tidak inilah yang dikhawatirkan, penonton akan kecewa dan menganggap film Indonesia memang masih di bawah.

Seharusnya penonton Film di Indonesia harus lebih aktif dengan memberikan kritik maupun saran kepada production house, maupun menteri perfilman Indonesia. Tidak hanya masalah BBM, Gas, Kenaikan harga bahan pokok saja yang perlu dikritik pedas, tapi masalah perfilman juga butuh untuk dipertegas. Aktifnya penonton Indonesia membuktikan kepeduliannya kepada perfilman Indonesia.

Perlu diingat-ingat bahwa sebenarnya sudah banyak film Indonesia yang mulai merambah perfilman Internasional. Sebut saja film bergenre action The Raid dan Merantau yang menembus pasar Amerika. Tak hanya itu, banyak film yang sudah lebih dulu tayang hingga keluar negeri, yaitu Ada Apa Dengan Cinta, Rumah Dara, Sang Pemimpi, Berbagi Suami, Merah Putih II-Darah Garuda, Laskar Pelangi, Pintu Terlarang dll.

Dari sekian banyak banyak film Indonesia yang berprestasi membuktikan bahwa sudah sejak dari dulu perfilman Indonesia bangkit, namun kurang support dan perhatian dari masyarakat Indonesia sendiri. Orang-orang Indonesia masih berpendapat bahwa kalau sudah menonton film luar negeri, maka dia sudahlah keren. Jadi, pantanglah melewatkan salah satu film luar negeri yang padahal film tersebut tidak mengandung unsur pendidikan bagi penontonnya dengan sinematografi yang biasa saja. Anak-anak muda zaman sekarang juga saya perhatikan malah salah gaul, terkadang menonton film luar negeri hanya untuk pamer di sosial media. Hanya karena itu mereka dulu-duluan menonton film luar negeri, hal itu sangat memprihatinkan. Jika kalian berfikir sedikit lebih nasionalis, sebenarnya kita tidak diuntungkan. Coba bandingkan dengan kita menonton film Indonesia di Bioskop, uang yang balik modal kepada production house akan dibuatkan film yang lebih baik lagi dan tentu saja memperbaiki kualitas film lokal.

Saya pernah mendengar berita bahwa yang salah satu alasan film Indonesia cepat turun dari bioskop adalah karena begitu banyaknya film luar negeri yang masuk dengan mudahnya ke tanah air. Sungguh disayangkan mengapa pemerintah tidak memperhatikan perfilman lokal sendiri. Karena alasan ingin balik modal lah banyak production house menjual film mereka di televisi begitu cepatnya. Ini lah saudara-saudara alasan mengapa banyak film Indonesia yang baru 3 bulan turun dari layar lebar sudah tayang di layar kaca.

Semua memang kembali lagi pada minat dan selera masyarakat masing-masing. Saya hanya memberikan sedikit opini dan saran, karena saya akan menjadi calon sineas Indonesia dan tentunya ini memotivasi saya untuk berkarya jauh lebih baik lagi. Masa kita bela-bela nonton film luar negeri di bioskop dengan kisaran harga Rp. 25.000 hingga Rp 35.000r atau bahkan Rp 50.000 hingga Rp.75.000 yang sebenarnya tidak menguntungkan untuk kita. Kita sebagai warga negara yang baik sepantasnya lah untuk selalu mendukung karya negeri sendiri, karena karya sangatlah mahal. Coba lah untuk berfikir nasionalis untuk kemajuan negara kita sendiri khususnya dalam bidang perfilman, lebih baik kalian mendownload film luar negeri dan tontonlah film lokal di bioskop. ^^

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.