Uang, Perang, dan Damai - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Kamis, 20 Oktober 2016

Uang, Perang, dan Damai

ilustrasi /hipwee.com
 
Oleh Tabrani Yunis
Pemimpin redaksi Majalah Potret
 
Bumi ini, kini sesak dengan manusia. Sudah lebih dari 7 miliar manusia mendiami bumi ini. Ini over loaded namanya. Ya sudah kelebihan muatan. Ibarat truk, trailer dan bus yang sarat penumpang. Kondisinya pasti sangat tidak menyenangkan. Pasti akan banyak ulah tingkah penumpang yang tidak menyenangkan. Begitu pulalah halnya dengan manusia yang mendiami bumi ini. Pasti banyak tidak enaknya. Ketika bumi ini over loaded dengan manusia, maka bumi juga akan over loaded dengan berbagai masalah. Bermasalah di sana-sini, di berbagai bidang kehidupan, politik, ekonomi, social, agama, budaya dan sebagainya.

Padatnya penduduk bumi membuat tata kehidupan semakin kompleks dan pelik. Berkonsekwensi terhadap distribusi sumber daya dan daya dukung alam. Kondisi ini semakin parah karena untuk mendapatkan sumber daya alam, dibutuhkan uang. Manusia membutuhkan uang untuk mendapatkan sumber daya alam tersebut. Oleh sebab itu, manusia berlomba –lomba mengumpulkan uang. Celakanya, ketika bumi dikuasai oleh lebih dari 7 miliar orang, banyak pula di antara 7 milyar itu yang bernafsu dan berwajah serta berperilaku sangat rakus, tamak dan hipokrit serta bengis.

Manusia-manusia seperti ini semakin memperburuk keadaan. Ambisi berkuasa dan nafsu mengumpulkan uang yang semakin besar dan semakin buruk. Untuk mendapatkan uang yang banyak, maka jalannya adalah menguasai segala sumber daya yang ada, terutama sumber daya alam. Penguasaan atas sumber daya alam yang dilakukan bisa melewati batas-batas kemanusiaan, karena manusia terus dengan penuh ambisi untuk merebut dan menguasai semua sumber daya alam dengan cara-cara yang bahkan melanggar hak hidup orang banyak.

Perebutan bisa dilakukan secara individu, kelompok atau keluarga, perusahaan atau korporasi dan bahkan Negara. Negara -negara kuat dan maju, hingga kini terus menguasai orang, kelompok, bangsa yang masih belum maju dan terbelakang dengan berbagai intriks. Para pengusaha atau pebisnis besar, terus memperbesar dan melebarkan jaringan bisnis mereka dengan membuka perusahaan-perusahaan raksasa yang melakukan ekspansi bisnis, memperluas jaringan investasi ke berbagai sector, pertanian, perkebunan, hutan, pertambangan dan lain-lain. Mereka kemudian menguasai hajat hidup orang banyak. Mereka menguasai jutaan hektar lahan, sehingga orang miskin dan masyarakat biasa menjadi terpinggirkan dan tidak berdaya melawan kuatnya gurita bisnis korporasi - korporasi raksasa yang hadir menanam investasi di suatu wilayah.

Menjadi tak terelakan kemudian bila kegiatan-kegiatan bisnis ini melahirkan perselisihan, pertengkaran, bahkan konflik dan perang yang berkepanjangan antara perusahaan dan masyarakat sekitar dan bahkan dengan alam itu sendiri. Ketika pebisnis yang rakus, tamak, hipokrit dan bengis berkuasa, biasanya mereka menggandeng pemerintah untuk bekerja sama mengeksploitasi sumber daya alam secara legal atas nama investasi dan atas nama slogan-slogan pembangunan yang selalu dicecoki dengan kata menjadi maju.

Sejarah telah mencatat semua perilaku dan tindak tanduk manusia dalam menguasai sumber daya alam dan uang. Kita pasti masih ingat bagaimana dulu bangsa-bangsa Eropa ( baca Barat), seperti Inggris, yang menjajah sejumlah Negara di Asia hingga ke Australia. Belanda, selama berabad-abad menjajah Indonesia untuk menguras sumber daya alam yang hasilnya dibawa ke Belanda. bahkan Portugis diceritakan sempat menjajahpun sempat menjajah Indonesia. Jangankan bangsa barat, banyak pula yang berkata bahwa bangsa Indonesia yang pernah dijajah pun ikut menjajah wilayah lain, seperti Timor Timur dan Papua. Penjajahan secara territorial, yang menguasai Negara lain dengan cara perang itu, menajdi bukti keserakahan suatu bangsa akan sumber daya dan uang.

Nafsu untuk mendapatkan uang memang sangat besar. Nafsu akan uang membuat banyak orang berperilaku binatang. Bahkan lebih buas dan bengis dibandingkan binatang. Manusia banyak yang hilang rasa kemanusiaannya ketika berhadapan dengan uang. Misalnya, melakukan tidakan-tindakan criminal yang bisa menghilangkan nyawa manusia, seperti merampok dan membunuh orang lain karena ingin memperoleh uang. Tidak sedikit pula nafsu mengejar uang tersebut dilalukan dengan perang yang dahsyat. Perang begitu mudah ditabuhkan, demi uang yang nota bene mensejahterakan itu. Buktinya, banyak Negara yang ingin mensejahterakan rakyatnya, namun menyengsarakan rakyat Negara lain, karena untuk memperoleh uang tersebut dengan memerangi dan membunuh rakyat Negara lain. Negara-negara yang bernama Negara kuat dan maju tersebut memerangi Negara-negara yang dianggap lemah dan juga dianggap sebagai lawan.

Hingga kini perilaku beringas dan tidak berperi - kemanusiaan itu dilakukan oleh manusia dan Negara – Negara yang tergolong adi kuasa. Tidak heran, kalau saat ini Negara-negara di Timur Tengah, seperti Irak, Suriah dan lain-lain yang menjadi ladang pembantaian ( the killing field) akibat perang perebutan sumber daya dan kekuasaan itu. Padahal, di zaman modern sekarang ini, ketika banyak orang menginginkan kehidupan dunia yang penuh dengan kedamaian, perebutan sumber daya yang menghasilkan uang pun terus melahirkan sengketa, pertikaian dan bahkan perang yang sengit yang mematikan.

Tidak terkecuali di Indonesia, yang katanya Negara yang katanya kaya raya dengan segala macam sumber daya ini. Perilaku-perilaku biadab sering membunuh rakyatnya sendiri. Para penguasa besar berselingkuh dengan pengusaha dan mengalahkan kepentingan orang banyak. Kegaduhan politik saat ini di Indonesia, juga tidak lepas dari nafsu birahi para politisi, pengusaha merebut kursi di parlemen dan lembaga-lembaga pemerintahan untuk menguasai sumber daya alam dan uang. Lihatlah apa yang sedang terjadi di panggung politik kita di Indonesia. Para pengusaha, pemilik korporasi, dan bahkan pengusaha media kini ikut berebut kekuasaan di lembaga-lembaga legislative dan eksekutif, karena umumnya mereka ingin bisa mempengaruhi kebijakan yang akan melindungi asset dan kekayaan mereka lewat politik. Sebut saja beberapa nama yang sangat banyak muncul adalah Abu Rizal Bakri yang punya catatan buruk dengan Lapindonya di Jawa Timur, kini berkuasa di partai Golkar. Juga saat Capres muncul raja media Hari Tanoesudibjo yang muncul sebagai calon wakil Presiden dan masih banyak lagi pengusaha yang terjun ke politik, karena ingin mengejar kekuasaan dan uang. Sayangnya, para politisi dan pengusaha tersebut, tidak jarang terlibat perang lewat media yang mereka miliki , baik media cetak maupun media elektronik dan bahkan lewat jalur media dunia maya. Begitulah pertaruhan mengejar uang tersebut dilakukan banyak orang.

Bukti nyata dari semua ini di Indonesia hingga saat ini bisa kita lihat dengan mata kepala kita. Paling tidak, kita mencatat selama ini, pada setiap kali menghadapi Pemilu dan pemilukada, Pemilihan Presiden, para politisi memainkan peran politik busuknya demi kursi kekuasaan. Mereka bukan saja menghamburkan uang untuk meraih kursi, tetapi juga menebar rasa benci antar sesama politisi, lawan politik dan bahkan berjamaah dengan para pendukung fanatic mereka. Sengitnya lagi, panggung politik pun tampak sangat beringas dan bahkan bisa sampai pada tahap saling bunuh, termasuk membunuh karakter lawan.

Barangkali tidak ada satu orang pun yang mau mengaku bahwa perebutan kekuasaan di Indonesia selama ini berlangsung dengan damai. Damai hanya menjadi slogan-slogan politik yang ditebarkan para politisi dan dikonsumsi oleh masyarakat awam, tanpa upaya analitik. Sehingga terasa sangat jauh dari nuansa damai. Karena pada kenyataannya, tidak sedikit para politisi yang disebut wakil rakyat itu adu mulut dan bahkan adu jotos. Mereka saling menyerang dari berbagai sudut dan kekuatan yang mereka miliki. Bukan hal aneh kalau di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kita, wajah-wajah beringas itu muncul dan mengobrak abrik meja pertemuan dan mengejar lawan politiknya. Pendek kata, berbagai bentuk kekerasan dan kejahatan, yang diperankan oleh para politisi dan pengikut atau pendukung fanatic menjadi tintonan yang menjijikkan. Bahkan menjadi suguhan headline berita media masa sepanjang hari yang membuat kita kehilangan selera untuk membaca dan mengikutinya. Karena bahasa-bahasa yang digunakan media dalam pemberitaan-pemberitaan tersebut pun, jauh dari nuansa dan semangat damai.

Akhirnya, dapat kita katakan bahwa uang dan perang adalah dua hal yang saling terkait. Banyak orang berkata, bahwa uang adalah segala-galanya, uang bisa membeli segalanya. Namun sayang banyak orang yang menyalahkan uang. Padahal uang tidak pernah menyalahkan kita. Misalnya, ketika seseorang ingin berkuasa, karena ingin meraup uang, maka yang disalahkan adalah uang. Padahal, kesalahan ada pada orang yang berambisi untuk merebut kekuasaan itu. Bahkan lebih parah lagi, ada yang berkata, uang yang membawa perang. Artinya orang berperang disebabkan oleh uang, padahal uang bukanlah penyebab utamanya, uang adalah target. Penyebab perang, sesungguhnya adalah karena sifat manusia itu sendiri yang tamak, rakus, loba dan selalu ingin berkuasa. Perang muncul karena nafsu serakah manusia yang haus kekuasaan.

Nah, karena kekuatan nafsu uang dan perang sangat berpengaruh kepada nilai-nilai kemanusiaan dan sering menghancurkan nilai-nilai kemanusaian. Maka selayaknya kembalilah pada kemauan untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan. Bangun dan semailah damai sekarang juga. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan akibat keganasan nafsu akan uang dan kekuasaan. Hak asasi manusia malah dirampas dengan cara-cara yang criminal dan perang. Padahal, bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai dan menghormati hak asasi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Haruskah kita terus berperang dan membunuh manusia, karena uang? Ingatlah, dunia yang damai ada di tangan kita. Kelolalah sumberdaya alam dengan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret