Header Ads

Potret Galery
Terkini
recent

Proyek Berkelanjutan dan Mentalitas Pembangunan Kita



Oleh Tabrani Yunis
Direktur Center for Community Development and Education


Ada rasa bahagia di hati, kala menyaksikan geliat pembangunan yang pesat sedang berlangsung di beberapa tempat di Aceh. Di kampong-kampung, geliat pembangunan itu juga sangat kelihatan.Ada yang bangun jalan, memperluas jalan. Ya. Pokoknya geliat proyek memang sangat terasa. Apalagi di kota Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh ini. Deru mesin pembangunan tersebut terdengar di berbagai sudut kota. Berbagai macam proyek, besar dan kecil seakan saling berpacu. Ada proyek perluasan jalan, pembangunan jembatan, proyek fly over di Simpang Surabaya, hingga bongkar pasang taman kota dan trotoar. Ada pula pembangunan pedestrian track di daerah Lamteh-Ille dan Pango Raya, kecamatan Ule kareng. Ya pokoknya, mesin pembangunan memang sedang bekerja keras untuk menyediakan sarana dan prasarana kota, agar masyarakat bisa menikmati pembangunan. Kita sebagai warga kota, dan juga warga bangsa memang patut bersyukur.

Ya, selayaknya memang kita bersyukur dan memberikan apresiasi kepada pemerintah, baik kota, Provinsi maupun pusat. Sekali lagi, terima kasih banyak. Namun di balik derasnya geliat pembangunan di Aceh dan khususnya di kota Banda Aceh, sebagai warga kota dan warga Negara yang mungkin sebagai penikmat pembangunan saat ini pasti punya ide dan gagasan, punya penilaian dan punya uneg-uneg dalam menyaksikan perjalanan mesin pembangunan tersebut. Di balik kebahagiaan karena mendapat banyak kemajuan dalam penyediaan fasilitas umum dan social di kota ini, semua kita memiliki catatan-catatan tentang pembangunan kota dan daerah yang sedang berlangsung hingga kini. Kita coba lihat saja apa yang terjadi dengan beberapa hal berikut ini.

Trotoar

Kota Banda Aceh, di sepanjang jalan kota ini, kita menemukan trotoar yang dihiasi dengan berbagai tanaman, besar dan kecil. Trotoar yang membelah jalan menjadi dua jalur itu menjadi jalur hijau kota. Ya, karena di trotoar tersebut dijadikan taman dengan berbagai tanaman bunga yang menambah indahnya kota. Kita membutuhkan trotoar tersebut untuk kepentingan kenyamanan dalam berlalu lintas dan keindahan kota. Tentu saja trotoar itu dibutuhkan, walau sebenarnya keberadaan trotoar mempersempit badan jalan.

Nah, apa yang kita saksikan dengan trotoar di kota Banda Aceh selama ini? Jujur saja, ada banyak catatan penting tentang trotoar di kota Banda Aceh. Mungkin anda pernah dan sering melewati wilayah jembatan Pango, hingga ke kantor Gubernur Aceh. Trotoar di atas jembatan yang ditanami dengan bunga dan sejumlah pohon itu menjadi potret buram pembangunan dan perawatan sarana public di kota Banda Aceh. Seharusnya, tanaman yang ada di trotoar itu tumbuh subur dan segar. Namun, faktanya, tanaman bunga dan pohon-pohon kecil itu seakan bercerita bahwa nasib mereka selama ini memang mengenaskan. Tanaman-tanaman yang ada di trotoar jembatan hingga ke perbatasan Lamteh ini tampak seperti memeng dipelihara kematiannya. Rumput yang dahulu ditanam, menguning bahkan memerah. Ada indikasi rumput di trotoar itu jarang atau bahkan memang tidak disiram untuk sekian lama. Walau di kota Banda Aceh sebenarnya ada banyak armada atau mobil penyiram tanaman. Untung Allah Maha Pemurah yang mendatangkan hujan.

Kalau pun ada mobil penyiram taman, ada hal yang aneh kita saksikan. Penyiraman, tampak seperti sesuai pesanan. Entah mengapa selama ini mobil penyiram taman dan trotoar itu hanya menyiram tanaman-tanaman yang baru ditanam saja. Sementara tanaman yang sudah tumbuh termasuk rumput, tidak pernah pernah disiram lagi. Petugas penyiram, tidak menyirami rumput dan tumbuhan atau pohon yang kelihatan menjerit minta air. Kita pun merasa heran menyaksikan perilaku penyiram tanaman di trotoar kota ini. Entah ini memang perintah atasan, entah pula karena petugas penyiram yang tidak mau capek menyiran taman. Apakah mungkin takut kehabisan bahan bakar?. Mungkin juga karena tidak ada anggaran kota Banda Aceh untuk mengoporasikan mobil-mobil tersebut. Tapi itu tidak mungkin ya? Mana mungkin Wali kota Banda Aceh tidak menyediakan anggaran untuk itu. Bukankah kota Banda Aceh dirancang sebagai kota Madani dan kota masa depan? Ya, terserahlah. Yang penting saat ini kita menyaksikan rumput-rumput di trotoar itu sedang menyongsong kematian dalam lumatan kekeringan. Bisa jadi pohon-pohon yang sengaja ditanam di atas trotoar itu juga sengaja untuk dimatikan. Karena kalau rumput-rumput dan pohon-pohon itu cepat mati, ya akan cepat dicari ganti dengan rumput dan pohon yang baru. Sebab kalau sudah mati, ya akan ada lagi proyek baru, yang bisa mendatangkan keuntungan.

Kita masih harus melihat pada trotoar itu. Seringkali, ya karena sudah berkali-kali kita menyaksikan pembangunan trotoar di jalan itu berjalan bongkar pasang. Tidak ubahnya seperti permainan edukatif yang dimainkan anak-anak kita di rumah. Anak-anak kita bisa membongkar kapan saja dan mau seperti apa saja. Begitu pula kelihatannya pembangun trotoar di kota ini. Entah seperti apa ya pembangun di kota lain, entah sama seperti yang kita lihat di kota Banda Aceh ini. Kalau yang di kota Banda Aceh, kelihatannya pembangunan trotoar itu sering dilakukan. Seperti sengaja diatur sedemikian rupa. Membangun trotoar itu tidak seirama dengan proses pengaspalan jalan. Misalnya, pengaspalan jalan dilakukan sekarang, lalu dalam waktu tidak lama diikuti pula dengan pembongkaran trotoar, untuk diganti dengan block baru yang lebih tinggi. Lalu, sekitar setahun kemudian, jalan diaspal lagi, dan trotoar dibongkar lagi.

Nah, sekarang ini ada trotoar yang sedang dalam pengerjaan lagi. Beberapa hari yang lalu, sekitar hampir dua minggu lalu, trotoar yang ditumbuhi rumput dan pohon, orang Aceh mengatakan itu pohon hasan tampak tanahnya dibongkar dan diambil, dimasukan ke truk. Entah kemana tanah itu dibawa, ya itu urusan merekalah. Tapi yang membuat kita bertanya, mengapa tanah yang sudah ditumbuhi rumput dan pohon itu dikeruk lagi dan kemudian ditimbun lagi dengan tanah baru. Walau tampak ada campuran tanah humus dibawa atau ditumpahkan di trotoar itu. Itu kan sama saja pembangunan trotoar yang tambal sulam? Padahal, kalau memang mau dirawat dengan baik dan sungguh-sungguh, pengerukan dan penambahan tanah berhumus itu tidak perlu, karena rumput dan pohon mendapat asupan gizi dari proses penyiraman yang seharusnya rutin. Ya, sudahlah, Mungkin memang urusan pembanguna trotoar itu dirancang dengan model tambal sulam. Agaknya pola bongkar pasang dan tambal sulam itu, tidak hanya berlaku pada paradigma pembangunan trotoar di kota ini.

Kita juga sering disuguhkan dengan pemandangan lain dalam membangun fasiltas umum. Para pelaku pembangunan itu tampaknya memang tidak mau bersinergi. Artinya membangun bersama, sehingga tidak ada yang satu mulai membangun dan selesai, lalu datang lagi pihak lain yang membangun fasilitas umum yang lain, lalu fasilitas yang dibangun oleh pihak sebelumnya ada yang dibongkar. Sehingga yang sudah dibangun orang lain, rusak lagi karena ada pembangunan fasilitas lainnya. Kita ambil saja contoh misalnya, pihak telkom yang membangun jaringan lewat jalur menanam kabel di tanah, pengerjaannya selesai. Lalu pihak PU membangun pula saluran drainase. Tanpa koordinasi dengan Telkom sehingga saat pengerjaan kabel telkom terputus dan merugikan konsumen telkom. Begitu pula halnya dengan perusahaan PDAM yang memasang pipa air. Mereka menggali pinggiran dan bahkan memotong badan jalan, saat kondisi jalan bagus, lalu kemudian menjadi berlubang dan sangat mengganggu dan merusak. Pembangunan model ini bisa saja terjadi kapan saja dan sangat mengganggu pelayanan umum masyarakat. Seakan-akan ini memang disengaja, karena kalau cepat rusak, ya cepat dapat proyek lagi tahun depan. Apakah memang begini mentalitas pembangunan di negeri kita ini? Entahlah. Kita hanya bisa menyampaikan apa yang kita lihat dan rasakan. Beberapa kasus atau contoh di atas hanyalah contoh kecil saja. Karena sesungguhnya kebobrokan dan keanehan itu terjadi dalam banyak kegiatan pembangunan yang berlangsung selama ini. Tentu saja bukan hanya di kota Banda Aceh yang ber-icon- kota Madani ini, tetapi praktek serupa memang terjadi dimana-mana di Aceh dan bahkan juga di Indonesia. Jadi apa yang diungkapkan di atas, hanyalah sebuah contoh saja yang bisa kita saksikan saat ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.