Berkaca Pada Cut Nyak Dien - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Senin, 20 Februari 2017

Berkaca Pada Cut Nyak Dien



Oleh Deni Kusuma
Film Cut Nyak Dien yang diproduksi oleh PT. Kanta Indah Film pada 1988 memberikan inspirasi kepada kita untuk senantiasa tabah dalam menghadapi ujian hidup. Apalagi ketika melihat Cut Nyak Dien seorang perempuan yang dalam film tersebut digambarkan terlihat begitu tabah dalam menghadapi kemelut persoalan yang ada di sekelilingnya. Tidak hanya pemerintah kolonial Belanda yang  terus mengejar-ngejar dirinya untuk ditangkap, tetapi juga masyarakat di sekelilingnya yang ada sebagian di antara mereka, justru membuat Cut Nyak Dien merasa jengkel.
Hal itu terjadi karena ingin menangkap Cut Nyak Dien, lalu menyerahkannya ke pihak kolonial. Tujuannya adalah agar peperangan antara masyarakat Aceh dan pemerintah kolonial segera berakhir. Korban jiwa sudah terlalu banyak. Masyarakat Aceh sendiri sudah terdesak oleh tentara kolonial, sampai-sampai mencari perlindungan mundur ke hutan-hutan. Teuku Umar, suami Cut Nyak Dien pun sudah gugur lebih awal.
Sungguh pun demikian, Cut Nyak Dien dan sebagian besar masyarakat Aceh enggan menyerahkan diri kepada kolonial. Hal itu karena mereka merasa bahwa kalau menyerah pada akhirnya wilayah mereka juga akan dikuasai Belanda. Namun sayang, tekat yang kuat itu terpaksa terkalahkan oleh kondisi alamiah. Cut Nyak Dien sebagai pemimpin gerakannya, jatuh sakit, energi untuk bergerak sudah terkuras sampai-sampai ia harus ditandu bergerilya di hutan-hutan. Kondisi tersebut akhirnya juga mempengaruhi mentalitas orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mereka menjadi loyo dan pasrah pada kenyataan. Meskipun sempat bergairah, akan tetapi tidak berhasil menembus kuatnya pasukan kolonial. Peperangan pun berakhir.
Memang pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, peperangan antara pemerintah kolonial Belanda dengan masyarakat pribumi sering terjadi, tidak hanya di Aceh, tatapi juga terjadi di beberapa wilayah di Hindia Belanda. Sejarawan Ibrahim Al-Fian (1987) telah membahas peristiwa heroik yang terjadi di Aceh pada periode tersebut dalam bukunya, Perang di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912. Cristine Dobbin (1974) membahas peristiwa heroik di Sumatera Barat dalam tulisannya, Islamic Revivalism in Minangkabau at the Turn of the Nineteenth Century. Termasuk di Jawa-Barat, di Banten, sebagaimana ditulis oleh Sartono Kartodirdjo (2015) dalam desertasinya, Pemberontakan Petani Banten 1888, juga terjadi peperangan yang heroik antara pemerintah kolonial dengan masyarakat Banten.

Mereka kebanyakan adalah para petani yang disemangati oleh para ulama untuk membebaskan diri dari tekanan-tekanan pemerintah kolonial, baik itu tekanan yang bersifat mentalitas maupun tekanan ekonomi. Banyak sekali kisah heroik pada periode akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 di Hindia Belanda. Hal itu disebabkan karena adanya ketidakseimbangan di dalam tubuh masyarakat itu sendiri baik itu politik, ekonomi maupun sosial. Termasuk pemerintah kolonial sendiri sedang tidak seimbang karena usahanya yakni Sistem Tanam Paksa sudah mulai melemah. Oleh sebab itu dilakukanlah kerja keras yang melibatkan masyarakat untuk menjaga agar pemerintahan kolonial Hindia Belanda tetap stabil.
Namun di sisi lain, masyarakat juga tidak mau mengapresisasi proyek-proyek pemerintah. Selain karena sedikit keuntungan yang mereka peroleh, mereka juga punya jalan yang lain untuk tidak bergantung pada kolonial. Dalam film Cut Nyak Dien, terlihat dengan jelas bahwa prinsip yang dipegang masyarakat Aceh dibangun atas dasar agama. Agama bagi masyarakat Aceh adalah motivasi untuk meraih kemerdekaan, kebebasan dan keamanan dari segala macam bentuk tekanan hidup yang dilakukan pemerintah kolonial. Agama diyakini oleh mereka sebagai jalan untuk mendapatkan kehidupan yang adil, layak dan tanpa diskriminasi dari pihak pemerintah kolonial. Oleh sebab itu dalam gerakan memperjuangkan hak-haknya, mereka lakukan atas nama agama, yang oleh Ibrahim Alfian diberi judul Perang di Jalan Allah.
Berbicara mengenai agama di Aceh, masih bisa dilihat juga dari film Cut Nyak Dien. Dapat dilihat bahwa dalam perjalanannya bergerilya mencari tempat perlindungan di hutan-hutan, ia menyempatkan diri berzikir, bersalawat atas nabi dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Diharapkan itu semua dapat memberikan kekuatan mental terhadap dirinya. Dalam keadaan yang amat genting, pakaiannya sudah basah kuyup, sudah kekurangan asupan makanan, dan tidak bisa lagi berjalan,  berzikir menjadi alat penenang dirinya. Sampai kemudian tiba tentara kolonial tak mengira bahwa seseorang yang dicari-carinya adalah sosok wanita yang beraura, membuat mereka segan menyentuhnya, apalagi melukainya. Andai boleh membayangkan, mungkin mereka waktu itu berkaca-kaca dalam hati tak kala melihat Cut Nyak Dien duduk tergeletak di tanah dalam keadaan lemas, “ada perempuan sampai setegar ini”.
Kendati gambaran di atas berawal dari sebuah film, namun masih dapat kita jadikan pelajaran untuk bercermin di kehidupan sekarang. Tekanan hidup adalah konteks jamannya. Pada jaman kolonial, dominasi tekanan dilakukan oleh pemerintah kolonial juga orang-orang yang bekerja sama dengan mereka. Sekarang ini tekanan hidup juga masih terjadi dan itu tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia, karena tekanan hidup adalah bagian dari ujian Allah. Akan tetapi setidaknya, tekanan fisik, ekonomi dan sosial sekarang sudah tidak sebesar dahulu. Setidaknya Indonesia sudah tidak ada peperangan, tidak seperti yang terjadi dengan negara-negara di Timur Tengah. Dan kita pun tidak mau kejadian kelam pada masa kolonial terulang kembali.
Oleh sebab itu, perlu kiranya kita berusaha menjaga agar tekanan-tekanan yang meresahkan masyarakat tidak boleh terulang lagi, karena tekanan tersebut juga akan berpengaruh besar terhadap mentalitas kita. Kalau berkaca pada Cut Nyak Dien, ia punya keberanian dalam berbuat kebajikan. Itu didukung oleh prinsip agama yang diyakininya yaitu prinsip hidup mandiri. Bilamana tengah menghadapi ujian yang berat, tekanan hidup, terutama tekanan keterbatasan baik disebabkan oleh politik, ekonomi maupun sikap orang-orang yang ada di sekitarnya, ia punya cara mengobati dirinya sendiri yaitu berzikir kepada Allah.   

Deni Kusuma. Penulis, adalah mahasiswa di Departemen Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta serta santri di Madrasah Al-Muhith Pencerah Jiwa, Prof. Subandi, Sleman, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret