Puisi- Puisi Rachmadi Akbar - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Kamis, 23 Februari 2017

Puisi- Puisi Rachmadi Akbar



“FATAMORGANA”

Malam tak kunjung hilang

Pagi tak jua datang

Dan otakku pun tak bisa diam

Terus bergelut menelusuri lembah pikiran

Ini dunia.. bukan surga atau neraka !

Kau ingin apa?

Sudahlah.. berhenti berkeluh kesah

Tuhan Maha Adil !

Lenyapkan dia dari logikamu

Sampai kau temukan jawaban dalam dalam ketidakpastian


“Menghamba Pada-Nya”
Pria itu tampak gagah

Badan tegap menghadap ke depan

Tatapan yakin dengan penuh keberanian

Suara lantang bak komandan dalam perang

Pakaian rapi tunjukkan wibawa

Dasi yang bergantung dileher adalah simbol kesejahteraan

Namun lihatlah..

Dia tampak lemah dan tak sanggup apa-apa

Merintih dan memohon dihadapan-Nya

Menangis dan mengharap belas kasih dari-Nya

Dia campakkan segala

Yang tinggal hanya sosok anak manusia yang lemah tak punya daya

Lenyapkan seluruh keangkuhan

Kubur dalam-dalam semua kesombongan

Buang segenap rasa bangga

Pejamkan mata dan bayangkan

Hanya Dia yang Maha Kuasa

Itulah hakikat menghamba pada-Nya







“Beda”

Beda manusia, beda wibawa

Jangan samakan aku dengan mereka

Rambut boleh sama pekat

Tapi pikiran mungkin tak seikat

Setiap tutur mewakili satu pribadi

Tulus hati siapa yang bisa diteliti

Kadang hanya tipu daya

Untuk memikat si kumbang yang ada

Aku tak mau berbalas pantun denganmu

Ini hanya satu

Dariku untuk mu

Hei lihatlah mereka!

Tak sama tapi serupa

Seolah bermain sandiwara di panggung gembira

Sudahlah wahai saudara

Kita bukan raja yang sedang bercerita

Hanya kaum kecil yang tengah mencoba menyatukan rasa





“Kota Naga”

Sejuta manusia hidup diatas bumi-Nya

dari yang miskin sampai yang sedikit kaya

sebagian kecilnya mungkin ada disini

dibumi Teuku Cut Ali ini

Hidup sederhana sangatlah gembira

Asalkan perut dapat diberi rasa

Nelayan pergi menyapa ombak

Menemui ikan dan karang di lautan

Disambut heboh oleh angin dan burung

Dihempas gelombang semakin bergoyang

Perahu ini kuat!

Tak mudah lenyap dengan sedikit hempasan

Karena dibuat oleh tangan-tangan yang iklas

Hei lihatlah

Anak-anak sedang bermain

Bercengkrama ria dengan sesama

Terkadang berkelahi untuk kembali berkawan

Sungguh keharmonisan yang tak tergantikan

Tempat ini indah, lebih indah dari yang kau temukan

Di pasar, di stasiun dan tikungan jalan

ini kampungku

Di kaki gunung dibibir pantai

Tapaktuan

Tapaktuan

Kota Naga dari legenda tuan tapa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret