Kesehatan Pendengaran, Investasi Masa Depan - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Sabtu, 04 Maret 2017

Kesehatan Pendengaran, Investasi Masa Depan




Dalam rangka peringatan World Hearing Day 2017

Jutaan orang di seluruh dunia hidup dengan kehilangan pendengaran (hearing loss), serta kurangnya akses untuk mendapatkan pelayanan perawatan telinga dan pendengaran. Hal ini menjadi salah satu masalah dunia, khususnya Indonesia dalam menangani kasus ini. Kasus kehilangan pendengaran merupakan kasus yang memiliki banyak akibat yang berimbas pada penderita, keluarga bahkan, Negara. Tindakan preventif dan promotif untuk kehilangan pendengaran di Indonesia, terutama di Aceh sangat minim. Oleh karena itu, perlunya edukasi mengenai hal ini.

Berbicara masalah gangguan pendengaran, maka perhatian utama mengarah kepada telinga sebagai organ tubuh yang berfungsi sebagai organ pendengaran. Telinga adalah salah satu organ panca indera manusia yang berfungsi dalam pendengaran. Telinga memiliki tiga bagian utama yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Pada telinga luar kita bisa menemukan liang telinga yang dapat kita lihat dengan kasat mata. Pada telinga tengah, kita dapat menemukan membran timpani (gendang telinga) serta organ sekitarnya yang berhubungan dengan tenggorokan dan pada telinga dalam terdapat saraf pendengaran dan keseimbangan. Ketiga bagian ini jika salah satu memiliki masalah maka dapat timbul komplikasi ke bagian yang lainnya.

Kehilangan pendengaran (hearing loss) menurut organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization) adalah seseorang yang tidak dapat mendengar sebaik seseorang dengan pendengaran normal (ambang pendengaran manusia adalah 25 desibel lebih ,maksimal 80 desibel pada kedua telinga). Kehilangan pendengaran dapat ringan, sedang dan berat serta sangat berat. Kehilangan pendengaran dapat terjadi pada satu atau kedua telinga dan penderita juga mengalami kesulitan mendengar pembicaraan konservasional atau suara yang keras.

“Kesulitan mendengar” (hard of hearing) mengacu pada kehilangan pendengaran derajat ringan sampai berat, sedangkan” ketulian” (deaf) berada pada derajat kehilangan pendengaran sangat berat, yang biasanya penderita berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Penyebab kehilangan pendengaran dapat disebabkan karena kongenital dan didapat (acquired). Sebab kongenital atau sebab sejak lahir dapat diakibatkan karena berat badan lahir rendah, infeksi kehamilan dan lain-lain. Sedangkan kehilangan pendengaran didapat diakibatkan karena infeksi, cedera, suara yang terlalu keras dan lain-lain

Data epidemiologi yang dikutip dari WHO menunjukkan bahwa, 360 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan kehilangan pendengaran dan 5 dari 1000 anak yang lahir dapat menderita ketulian serta gangguan pendengaran. Sedangkan pada dewasa, 1-3 orang dewasa di atas 65 tahun menderita kehilangan pendengaran serta lebih dari 1 milyar orang di seluruh dunia memiliki risiko kehilangan pendengaran, mengacu pada mendengar musik dengan suara yang keras dalam jangka waktu yang lama. Di Indonesia sendiri menurut WHO angka kehilangan pendengaran mencapai 4,42-6,13% per 100 populasi.

Kehilangan pendengaran dapat memiliki dampak ke komunikasi, edukasi, pekerjaan, dan social serta emosional penderita. 

Contoh dampak gangguan komunikasi adalah, seorang anak yang tuli tidak dapat berbicara jika tidak dilakukan intervensi, dan seorang anak yang menderita gangguan pendengaran (dapat mendengar, namun tidak sebaik pendengaran normal) memiliki keterlambatan dalam perkembangan berbicara dan bahasa. Dalam hal edukasi, seorang anak dapat gagal dalam pelajaran yang diikuti, bahkan tidak naik kelas karena dampak kehilangan pendengarannya. Pada pekerjaan, dapat berdampak pada diputuskannya hubungan kerja karena tidak produktif dan dampak sosial dan emosionalnya adalah penderita menjadi terisoloasi, merasa kesepian dan frustrasi karena kehilangan pendengarannya.

Kehilangan pendengaran ini bukan hanya difokuskan pada orang dewasa dan orang tua saja, tetapi anak-anak dan remaja juga menjadi perhatian bahkan lebih ditekankan karena berhubungan dengan masa depannya kelak. Dan masa depan suatu bangsa ditentukan oleh anak mudanya. Juga sehubungan dengan bonus demography (bonus yang dinikmati suatu Negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif, rentang usia 15-64 tahun) bagi Indonesia yang diperkirakan pada tahun 2030.

Fakta hari ini dalam kecanggihan teknologi yang terus berkembang, banyak orang yang menggunakan earphone atau headset untuk mendengar musik, film dan lain-lain. Yang menjadi masalah dalam hal ini, masayarakat banyak tidak mengetahui dampak dari penggunaan earphone yang tidak benar dan pengguna earphone sekarang paling banyak adalah anak-anak dan remaja.

Masalah selanjutnya yang juga tidak kalah penting bahwa kebisingan sekitar, misalnya arena bermain di mal-mal dan wahana bermain lainnya yang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi juga dapat berdampak serius bagi pendengaran, terutama anak-anak.

Untuk mengatasi masalah ini, WHO setiap 3 Maret memperingati hari pendengaran sedunia (World Hearing Day) sebagai cara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap masalah pendengaran. Pada tahun 2017 ini tema dari hari pendengaran sedunia adalah Action for hearing loss: make a sound investment. Hari pendengaran sedunia berfokus kepada, harga yang sangat besar yang dikeluarkan karena kehilangan pendengaran dan intervensi yang cost-effective atau intervensi yang efektif dalam biaya.

WHO dalam Hari Pendengaran Sedunia tahun 2017 ini, menyarankan aksi kepada para pembuat kebijakan: (1) mengalokasikan sumberdaya yang sesuai, (2) mengintegrasikan perawatan telinga dan , pendengaran menjadi sistem kesehatan, (3) membangun sumber daya manusia yang bekompeten, (4) mengimplementasikan identidikasi dini dan program intervensi, (5) Meningkatkan kewaspadaan diantara semua sektor sosial.

Dalam hal pencegahaan kehilangan pendengaran Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (KOMNAS PGPKT) menyarankan beberapa cara yang aman dalam menyikapi masalah-masalah yang sering timbul yang menyebabkan kehilangan pendengaran yang secara umum tidak kita sadari.

Pertama adalah tatacara pengguanaan earphone yang benar. Kunci aman dalam menggunakan earphone adalah (1) batasi volume pada 60% dari volume maksimal, (2) batasi waktu mendengar 60 menit, kemudian stop agar organ pendengaran dapat beristirahat. Tanpa beristirahat organ pendengaran akan rusak selamanya dan akan terjadi tuli permanen.

Kedua, tatacara yang aman beraktifitas ditempat dengan kebisingan tinggi (tempat bermain anak di mal, tempat bekerja yang memiliki suara yang keras) adalah dengan menggunakan earplug atau penutup telinga. Anak-anak hanya boleh bermain selama 30 menit tanpa earplug di tempat main anak yang memiliki tingkat kebisingan tinggi.

Dan ketiga adalah edukasi tentang membersihkan telinga. Sebenarnya pembersihan telinga tidak perlu dilakukan, ada usaha tubuh untuk membersihkan sendiri. Namun, jika dirasa perlu, gunakan lidi kapas bersih, gosok pelan-pelan di 1/3 luar liang telinga (kedalaman lebih kurang 1 cm).

Itulah fakta dan edukasi tentang kehilangan pendengaran. Dengan adanya peringatan Hari Pendengaran Sedunia ini, maka harapan kita sebagai masyarakat adalah kita sendiri harus sadar dan paham pentingnya menjaga pendengaran, mengerti tatacara yang benar dalam menyikapi factor resiko yang menyebabkan kehilagan pendengaran serta pemerintah atau pembuat kebijakan juga dapat menerapkan aksi nyata terhadap hal ini, agar akibat besar yang ditimbulkan karena kehilangan kepada daerah dan Negara yang paling besar yaitu jumlah harga sangat tinggi yang harus dibayar dapat sedikit-demi sedikit teratasi.





Andhika Citra Buana, S. Ked 

Dokter Muda RSUDZA

dr. T. Husni. T.R. M. Kes., Sp. THT-KL



Ketua Komisi Daerah Penaggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian Aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret