DEGRADASI PENDIDKAN KELUARGA DAN DEKADENSI MORAL PADA ANAK - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Senin, 07 Agustus 2017

DEGRADASI PENDIDKAN KELUARGA DAN DEKADENSI MORAL PADA ANAK




Oleh  Muhammad Fajri
Mahasiswa, UIN Ar-raniry Banda Aceh
Email : muhfajj2709@gmail.com

Anak merupakan anugerah terindah sekaligus amanah dari Tuhan untuk dijaga. Layaknya seperti kertas putih yang masih polos, anak akan menampilkan hasil tulisan apapun yang kita buat. Jika dia tumbuh menjadi anak yang baik, maka sebagai orang tua pasti akan merasa bangga, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu hasil jadi seorang anak sangat ditentukan seperti apa dia dididik. Semua tergantung yang memegang kendali atas kertas putih tersebut, yaitu orang tua. Orang tua adalah pondasi utama di dalam keluarga dan merupakan guru yang memberikan pendidikan pertama bagi anak. Dengan memainkan peranan yang benar dalam mendidik dan mengasuh anak, anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal. Yang tidak kalah pentingnya anak akan tumbuh menjadi seorang yang berkarakter dan tidak mudah larut oleh budaya buruk dari luar serta menjadi anak yang berkepribadian baik sebagai aset generasi penerus bangsa.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, dengan teknologi yang semakin canggih membuat anak-anak dengan mudahnya mengakses apapun. Tidak jarang membawa mereka terjerumus terhadap hal- hal yang negatif karena pengaruh dari luar. Tidak dipungkiri lagi jika sekarang ini anak-anak bisa dengan sangat mudahnya mengakses berbagai macam informasi, materi, video yang berbau pornografi, baik itu dengan ponsel pintar (gadget) mereka pribadi ataupun di warnet (warung internet) sekitar. Efek dari perkembangan teknologi itu sendiri juga dapat kita temukan dalam stasiun televisi. Saat ini tayangan tentang pendidikan sangat sedikit, malah banyak ditemui stasiun televisi yang menyajikan tayangan-tayangan yang buruk bagi perkembangan fisik dan psikologis anak. Seperti tayangan yang banyak bermuatan kekerasan, pembunuhan, memukul, bahkan tayangan yang menjurus ke pornografi yang tidak semestinya dilihat oleh anak-anak. Di sini, peran orang tua terhadap anak-anaknya harus selalu dilakukan. Jangan sampai orang tua lepas dari tugasnya sebagai pendidik pertama bagi mereka. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menghindarkan anaknya dari hal yang buruk.

Batasi waktu anak di depan layar elektronik

Anak-anak yang menonton televisi atau menggunakan komputer lebih dari 2 jam setiap hari lebih berisiko untuk mengalami masalah psikologis dari pada anak-anak yang tidak melakukan hal tersebut. Menurut dr. Jessica Florencia, seperti dilansir dari web klikdokter.com, anak-anak yang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam di depan layar elektronik, baik menonton televisi, ataupun menggunakan komputer, atau kombinasi keduanya, memiliki kecenderungan untuk bermasalah dalam hubungan sosial dengan orang lain dan teman-teman sebayanya. Mereka juga cenderung memiliki kesulitan untuk mengungkapkan perasaaan sedih atau tidak bahagia yang mereka alami.

Selektif memilih tayangan TV untuk anak

Menonton televisi merupakan aktivitas rutin yang umum dilakukan setiap hari, tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun sangat suka menonton televisi. Informasi yang didapat dari tayangan televisi bisa berdampak positif maupun negatif. Menurut Tika Bisono seperti di kutip di jitunews.com, anak adalah obyek yang paling rentan terkena dampak negatif. Sebab mereka belum bisa berfikir secara dewasa mana tontonan yang seharusnya mereka tonton dan mana yang tidak boleh mereka lihat. Seperti yang kita ketahui saat ini banyak siaran televisi yang memengaruhi mental anak seperti adegan perkelahian, permusuhan, dan adegan berbau pornografi yang seharusnya tidak pantas untuk dilihat oleh anak-anak. Tak jarang usai menonton televisi anak-anak langsung meniru adegan tersebut. Ini yang masif terjadi pada anak-anak Indonesia sekarang ini.

Karena itu, sudah seharusnya kewajiban orang tua untuk memilih siaran yang akan ditonton oleh anak. Adapaun beberapa jenis tayangan TV yang sangat disarankan misalnya : Orang tua lebih memilih tayangan keagamaan yang mampu memperkuat keimanan anak, tayangan ilmu sains yang sederhana yang mudah dipahami oleh anak, tayangan dunia binatang, alam atau ruang angkasa, tayangan yang memperlihatkan unsur- unsur budaya dan tayangan-tayangan inspiratif, kreatif dan inovatif. Dengan program-program tersebut diharapkan mampu membawa anak kepada hal-hal yang postif. Namun demikian, tetap harus dipertimbangkan program apa yang pantas diberikan sesuai untuk usia setiap anak.

Dampingi anak-anak dalam mengakses internet


Terkait kecanggihan internet yang sedang terjadi dan anak-anak dengan bebasnya bisa akses apapun, sangat dianjurkan untuk orang tua agar dapat mendampingi mereka ketika mengakses internet. Memang di satu sisi tidak selamanya internet membawa efek yang buruk, akan tetapi ketika orang tua memberi anak ruang dan peluang untuk mengakses internet maka ada baiknya untuk mendampingi mereka. Jangan sampai anak itu mengakses hal-hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan masa tumbuh kembangnya sehingga menumbuhkan rasa ingin coba-coba hal yang baru. Dan saya menghimbau agar orang tua dapat mengikuti perkembangan teknologi agar sang anak dapat dibatasi ketika berurusan dengan dunia maya.

Peran keluarga sangat penting dalam menumbuhkan budi pekerti seorang anak. Melalui peran keluargalah pendidikan karakter bisa terealisasikan dan melalui pendidikan karakter inilah kita dapat mempercepat revolusi mental. Kemudian peran keluarga dalam pendidikan anak menjadi salah satu faktor utama dalam menunjang pendidikan anak di sekolah. karena orang tua memiliki peran strategis sebagai pendidik pertama dan utama dan mereka juga mengetahui tentang referensi ataupun sumber belajar yang baik bagi anaknya. Oleh sebab itu dibutuhkan penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak, karena pendidikan dari keluargalah yang akan melahirkan generasi terbaik yang berlandaskan akhlakul karimah. Pendidikan orang tua terhadap anaknya merupakan pendidikan dasar yang tidak dapat diabaikan sama sekali. Maka dari itu orang tua hendaklah seorang yang bijaksana dan pandai mendidik anak-anaknya. Baik dan buruknya pendidikan mereka terhadap anaknya berpengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan dan juga wataknya di kemudian hari. Orang tua yang baik akan memberikan satu tradisi yang baik dan berguna bagi anaknya. Tradisi tersebut seperti melekatkan hati sang anak dengan masyarakatnya melalui berbagai aktifitas yang berguna.

Ada beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan untuk menguatkan peran keluarga dalam pendidikan anak, agar anak terhindar dari kemorosotan moral.

Sediakan waktu berinteraksi dengan anak

Orang tua yang punya cukup perhatian dan kedekatan emosi dengan anaknya akan membuat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang terbuka. Selain itu komunikasi efektif yang dilakukan orang tua secara intens dengan buah hatinya akan membuat anak lebih mudah bersosialisasi. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk berinteraksi dengan sang anak salah satunya adalah mendampingi anak belajar. Luangkanlah waktu lebih kurang 15 menit saja di saat malam untuk mendampingi mereka belajar. Maka dengan itu anak akan merasa selalu diperhatikan. Kemudian sediakan waktu untuk mendengar cerita anak mengenai aktivitasnya seharian dan berikan komentar juga arahkan anak secara positif. Karena malam hari merupakan waktu yang efektif untuk menanamkan budi pekerti dan sikap-sikap yang baik. Selanjutnya berinteraksilah saat di kendaraan ketika mengantar anak ke sekolah, terutama jika menggunakan mobil. Selipkanlah nasihat seperti pentingnya berkendara dengan santun dan mengikuti aturan lalu lintas.

Jadilah tokoh teladan dan idola bagi anak

Keteladanan orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter anak, karena sejak kecil mereka selalu berusaha meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Anak pada usia pertumbuhan umumnya lebih banyak menggunakan indra penglihatan dan pendengaran untuk merangkum ilmu atau pembelajaran yang akan mereka tiru .Cara peniruan yang paling awal dan primitif dapat dilihat pada hubungan antara anak dengan orang tuanya. Melalui peniruan-peniruan awal itulah seorang anak mulai secara aktif mengarahkan diri untuk memasuki lingkungan sekitarnya, terarah menjadi bagian dari lingkungan, terutama lingkungan sosialnya. Contoh kecil peniruan yang dilakukan oleh anak yaitu ketika dia melemparkan sepatunya di depan kulkas sepulang sekolah dan ibunya menegur, dengan sigap ia menjawab “ ayah saja setiap pulang dari kantor sepatunya di taruh di bawah meja makan boleh, kadang di bawah meja ruang TV juga boleh. Aku kan ingin seperti ayah.

Kebanyakan orang tua memandang sepele masalah keteladanan ini, padahal keteladan orang tua menjadi jembatan bagi anak untuk mampu memahami hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dikatakan orang tua. Jangan heran jika orang tua kewalahan meminta anak pergi mengaji, sementara anak tidak pernah melihat orang tuanya mengaji. Anak tidak akan tertarik membaca ketika jarang melihat orang tuanya membaca. Hal ini sebanding dengan, anak akan tertarik bermain gadget ketika setiap kali berada di wilayah rumah mereka melihat orang tua bahkan seluruh anggota keluarga fokus dengan gadget nya masing-masing. Teladan memang proses utama dalam mendidik anak. Kesadaran orang tua dalam mendidik anaknya memberi kontribusi besar dalam pembentukan karakternya. Jadi, orang tua yang menginginkan anaknya menjadi baik maka mereka harus terlebih dulu membuat dirinya sendiri menjadi baik. Jika menginginkan karakter anaknya cerdas maka lebih dahulu orang tualah yang harus membangun karakternya menjadi cerdas.

Pantau pergerakan anak


Orang tua harus memantau pergerakan anak agar anak mereka tidak terlibat dengan masalah sosial yang semakin meruncing saat ini. Orang tua harus memainkan peranan penting dalam memastikan anak-anak mereka tidak terlibat dengan masalah sosial yang merupakan penyakit utama anak-anak muda saat ini.

Keluarga adalah tempat pertama dan utama seorang anak dididik dan dibesarkan. Fungsi dari keluarga seperti diuraikan di dalam resolusi majelis umum PBB adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik. keluarga adalah tempat yang paling orisinal dan efektif untuk membentuk moral anak. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi terbaik, maka akan sulit bagi lembaga-lembaga lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalan nya.

Pendidikan keluarga saat ini terancam degradasi. Banyak orang tua yang sibuk dengan urusan pribadinya, sehingga mereka tidak ada kesempatan untuk mengarahkan dan mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, banyak terjadinya dekadensi moral pada anak-anak saat ini dan terbentuknya kepribadian yang buruk pada diri mereka. Harus kita sadari bahwa keluarga memainkan peran sangat besar, jika anak merasa di dalam keluarga sudah tidak ada yang memperdulikannya maka dimana lagi ia harus berlabuh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret