RENUNGAN DIRGAHAYU RI KE 72 TAHUN (Kerinduan Akan Ulama Berjiwa Pemimpin) - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Jumat, 11 Agustus 2017

RENUNGAN DIRGAHAYU RI KE 72 TAHUN (Kerinduan Akan Ulama Berjiwa Pemimpin)




Oleh  Hendra Gunawan, MA
Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan

Tinggal beberapa hari lagi, kita akan merayakan hari kemerdekaan Repubilik Indonesia tercinta. Apabila kita telusuri ke belakang, sejarah memperjuangkan kemerdekaan RI, akan menyadarkan kita bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini  adalah merupakan hasil titik peluh dan pengorbanan darah dari para pejuang bangsa. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam mengusir kaum imperialis atau penjajah dari tanah air tercinta ini, tidak terlepas dari peranan tokoh-tokoh Islam negeri ini. Bahkan, mereka tidak hanya menghadapi penjajah dengan pena dan lisan, tetapi juga dengan tangan. Terjun langsung berada di lini depan, memimpin perang sehingga tidak sedikit yang gugur sebagai syuhada. Di antara mereka, banyak yang ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, dan Bung Tomo serta masih banyak lagi, sebagai bentuk penghargaan pemerintah kepada para pejuang dalam memaksa penjajah hengkang dari bumi pertiwi tercinta ini. Terlihat sudah, bagaimana kiprah dan andil tokoh-tokoh Islam di negeri Pancasila yang kita cintai ini dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Kemerdekaan dalam perspektif Islam, adalah merupakan suatu kemestiaan sebab Islam hadir ke muka bumi membawa misi kemerdekaan dan membebaskan manusia dari penghambaan dan belenggu dari manusia. Makna kemerdekaan, dapat kita petik dari kisah nabi Musa AS ketika membebaskan bangsanya dari penindasan rezim Fira’un dan sampai kepada keberhasilan nabi Muhammad SAW dalam membebaskan umat Islam dari kaum kafirun. Allah SWT berfirman dalam surat Ibrahim ayat 1-2 ;

Artinya:
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang...” {QS. Ibrahim/14: 1-2}

Secara kontektual, firman Allah SWT di atas menerangkan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan. Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengutuk keras yang namanya kekerasan, penindasan, dan penjajahan. sebagaimana telah diperagakan Rasulullah SAW, yaitu membebaskan bangsa Arab dari belenggu tradisi-tradisi Jahiliyah yang gelap gulita. Artinya melenceng jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, maka Rasulullah SAW hadir dan berhasil membawa mereka ke zaman yang terang benderang yang disinari iman dan Islam dalam artian sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Yang pada akhirnya diterima di seluruh dunia sampai ke negeri Pancasila tercinta ini.


Mengenang Dirgahayu RI ke 72 di tahun ini, kita jangan terlena dengan romantisme sejarah, tidak sekedar perayaan serimonial saja, dan tidak sekedar semarak warna-warni bendera dan umbul-umbul lainnya. Tetapi kita lupa kepada semangat perjuangan para ulama-ulama terdahulu, yang telah sukses melakoni tugas mereka sebagai mishbahul ardhi atau pelita bumi, yaitu sebagai penerang dan penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Bukankan, dalam surah Yusuf ayat 111 Allah SWT menegaskan bahwa sesungguhnya pada kisah-kisah (sejarah) itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Apabila kita melihat catatan sejarah kemerdekaan RI, bahwa para ulama zaman dahulu, banyak ulama yang sekaligus sebagai umara atau penguasa, sehingga mereka memiliki kedudukan yang tinggi baik di mata Allah SWT maupun di masyarakat. Selain tempat mengadu masyarakat, tetapi juga memiliki power atau kekuatan dan kebijaksanaan dalam menentukan kebijakan-kebijakan menuntaskan segala problem masyarakat. Inilah yang diperagakan oleh kerajaan-kerajaan Islam nusantara yang dipimpin oleh umara yang berjiwa ulama.
Selain itu, para ulama juga banyak yang berinteraksi dengan penguasa, memberi masukan, dan saling bersinergi dalam menyelesaikan tugas negara. Namun akhir-akhir ini, antara ulama dan umara terkesan ada jarak pemisah. Para pemimpin sibuk mengeluarkan aturan dan program-program pemerintahannya, sedangkan para ulama biasanya hanya terfokus pada permasalahan agama dan ilmu agama, berceramah di masjid-masjid dan di surau-surau atau memberikan fatwa-fatwa halal-haram. Ironisnya, banyak sekarang anggapan-anggapan di masyarakat awam ketika seorang ulama terjun kedunia politik dianggap aneh bahkan dianggap suatu hal yang janggal. Padahal, di dalam  al-Maidah ayat 2 Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk saling tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan melarang tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Secara global, maka termasuk ulama dan umara harus menjalin hubungan yang harmoni, bahu-membahu dalam menata dan membangun bangsa tercinta ini.
Indonesia saat ini, telah memasuki era krisis yang cukup mengkhawatirkan. Bukan krisis ekonomi, bukan politik, melainkan krisis ulama yaitu semakin berkurangnya para ulama. Terutama ulama yang memiliki leadership atau berjiwa pemimpin, yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial. Ulama yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan umum lainnya, seperti pemerintahan, politik, teknologi sains, kedokteran, astronop, matematika, fisika, kimia, kedoktoran dan lain-lainnya. Kita merindukan sosok ulama yang berjiwa pemimpin dan berintelektual serta cendikiawan, yang senantiasa amanah, adil, jujur, dan profesional dengan ikhlas mengabdi untuk membangun negeri pancasila tercinta ini guna mengejar ketertinggalan kita dibanding negara-negara maju. Karena secara fisik, negara Republik Indonesia telah lama merdeka dari penjajah kolonial Belanda, namun secara fsikis saat ini bangsa tercinta ini tetap mendapatkan perlawanan dari virus yang merusak tatanan bangsa Indonesia, mulai korupsi yang menyelinapi para oknum-oknum pejabat negeri ini, narkoba yang menghancurkan generasi-generasi muda, sampai kepada sifat malas dan membangga-banggakan teknologi-teknologi made in negara-negara maju. Bahkan sampai saat ini, segala kebutuhan hidup sehari-hari kita masih sangat bergantung dengan produk-produk luar negeri. Padahal, negara Indonesia dikenal dengan negara yang kaya sumber daya alam! Harapan kita ke depan Indonesia juga terkenal dengan sumber daya manusianya. Inilah salah satu tantangan yang sedang dihadapi negeri kita tercinta saat ini.

Penutup
Peringatan 17 Agustus 1945, yang rutin setiap tahun dilaksanakan, harus dapat mendorong upaya memajukan masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia untuk meningkatkan kualitas diri guna mengambil peran dalam berbagai bidang, mulai hukum, politik, ekonomi, dan teknologi. Kita tidak perlu lagi, berteriak-teriak untuk merubah negeri Pancasila ini menjadi negara Islam. Tetapi cukup kita memasukkan substansi-substansinya saja. Kita cukup merealisasikan substansi seperti garam atau memberikan rasa tidak perlu seperti gincu atau merubah warna tapi tidak merubah rasa. Tidak perlu, merubah lambang dan simbol-simbol yang telah disepakati pendiri negeri ini, tetapi kita cukup mamasukkan substansi Islam dalam mewarnai negeri pancasila tercinta ini menuju kemajuan dan kejayaan di masa mendatang. Sebagaimana dalam satu riwayat Rasulullah SAW telah mengintruksikan kepada umat Islam;
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Artinya; “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret