Bangsa Pecundangkah Kita? - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Kamis, 26 Oktober 2017

Bangsa Pecundangkah Kita?



Oleh Dinda Triani
Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Unsyiah, Banda Aceh.

Masyarakat mana yang tidak mengenal bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya? Negara dengan karya Tuhan yang melimpah. Pelajar Indonesia mana yang tidak mengetahui fakta tersebu?t. Sedianya pemerintah kita selalu mengagung-agungkan kekayaan Indonesia. Menyembah karya Tuhan pada tanah, yang katanya tongkat, kayu dan batu pun jika dilempar akan berubah menjadi tanaman. Lagu Kolam Susu yang didendangkan oleh Koes Plus dan populer di tahun 70 an tersebut, menggambarkan bagaimana Indonesia dinilai dahulunya. Negara yang lautan pun seolah menjadi kolam susu. Sehingga hidup di tanah ini tak perlu usaha yang keras, seadanya saja, tak terdapat masalah hingga keuntungan lah yang akan mendatangi kita.

Tidak ada yang salah dengan lirik lagu ciptaan Yok Koeswoyo tersebut, karena memang begitulah tanah air ini diumpamakan, yang “kata orang” tak perlu berkeringat untuk kaya. Kita terbiasa menyanyikan lagu-lagu tanpa memahaminya lebih dalam, generasi kita terbiasa tertawa meski tidak tahu apa yang lucu. Generasi ini yang bersemboyankan pengetahuan, tapi “bodoh” pada dasarnya. Apa yang membuat lagu tersebut terdengar hanya omong kosong belaka merupakan fakta bahwa sekarang, jika kita tafsirkan Indonesia telah kehilangan kekayaannya tersebut, saat tambang emas dikuasai orang asing, tanah-tanah subur tempat menanam padi dibangunkan gedung-gedung besar, seni dan budaya sendiri diakui negara lain, hingga kekayaan bahari kita pun dicuri oleh kapal asing.

Mungkin kasarnya, Tuhan ingin berkata pada kita betapa kecewanya Ia pada manusia yang hanya ia tugaskan menjaga ciptaannya pun tidak mampu. Dalam beberapa kalam Allah, dikutip dari Qur’an surah An-Naml (27) 73 “Dan sesungguhnya tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar, (yang diberikannya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.”

Perlahan orang-orang waras mulai menyadari kesalahan mereka terhadap bumi. Terhadap lautan dan nikmat tuhan. Kemudian berangsur-angsur mengajak orang lain untuk bersahabat dengan bumi. Dalam lirik lagu “berita kepada kawan” karya Ebiet G. Ade bahwa alasan Tuhan memberikan cobaan pada kita, salah satunya karena ia telah bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa. Atau bisa jadi, alam yang mulai enggan bersahabat dengan kita.

Dalam tahun-tahun berjalan hingga 2017 di abad 21 kini kita dapat melihat bagaimana kampanye akan kesadaran lingkungan meningkat, pemahaman akan konservasi dan pelestarian alam mulai ramai diperbincangkan, jadi bahan workshop, simposium, hingga tema dalam lomba menulis esai, poster, blog dan lainnya. Oh, ternyata kita mahasiswa yang hanya sebagai pengamat ini mulai angguk-angguk, percaya dengan niat baik peneliti dan sejenisnya, saat mereka mulai tampak serius memperbaiki bumi.

Kembali pada permasalahan yang harusnya tidak terlalu sering dibahas, Indonesia telah kehilangan kepercayaan dirinya ketika fakta bahwa enam kali kapal ini berganti nahkoda, tak tahu juga kemana arahnya, masih saja kapal tua ini tersesat. Bukan arahnya yang tidak jelas, namun bisa jadi nahkodanya yang tidak mampu membaca arah. Sudah jelas akan kemana Indonesia ini, tapi tidak juga Indonesia sampai pada kesejahteraan untuk masayarakatnya. Kemiskinan merajalela, kelaparan membumbung, kesenjangan sosial masih juga begitu berjarak.

Secara rasional mudah dijelaskan mengapa nelayan, yang lahan kajian pencarian nafkahnyaa adalah lautan Indonesia yang jauh lebih besar dari daratannya menjadi tak terperhatikan, mudah saja menguliknya mudah saja merumuskan kesalahan-kesalahan pemangku jabatan yang tidak bertanggung jawab.

Negara yang di buku pelajaran kurikulum SD hingga SMA kita kenal dengan sebutan agraris yang sebahagian besar masyarakanya adalah petani dan nelayan, yang dikenal dengan kekayaan bahari serta kesuburan tanahnya yang melegenda (kembali ke lagu kolam susu) tidak berhasil mensejahterakan petani juga nelayannya. Kita yang masih mengalamatkan diri sebagai pengamat ini bertanya tanya tentang fakta Anggaran dan Belanja Negara (APBN) yang dikeluarkan pemerintah sebesar Rp 6.368,7 triliun pada tahun 2015. Meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah Rp 5. 784,7 (Kertas Posisi Bersama Masyarakat Sipil 2015: 3) masih dikutip dalam paper yang berjudul sama, kita melihat bahwa cita-cita pemerintahan Jokowi yang mencanangkan 9 agenda pembangunan ekonomi maritim pemerintah 2014-2019 atau yang dikenal dengan “Nawa Cita” masih jauh dari kata sempurna.

Tantangan yang ada selama ini ialah meski pemerintah telah mengalokasikan masing-masing dananya dan berusaha membantu peningkatan produksi, kenaikan produksi tersebut masih saja tidak memberikan kesejahtraan kepada nelayan, pembudidaya, maupun penambak garam. Dapat dilihat dari bagaimana garam produksi dalam negeri tidak mampu menyaingi barang impor. Oleh sebab itu, kita yang masih sebagai pengamat ini juga menganggap bahwa pemerintah masih belum serius menggarap produksi perikanan dalam negeri yang diolah oleh kampung-kampung nelayan. Sebab hal tersebut, menjadi ironis ketika perluasan kawasan konservasi yang bertujuan baik menjadi anggran dan mempersempit wilyah tangkap nelayan, sehingga harga jual hasil tangkapan ikan dan modal melaut tidak lagi sebanding.

Kita, yang mulai akrab dengan panggilan kids jaman now, masih menilainya sebagai kelalaian pemangku jawaban, bahwa niwa cita yang ia canangkan kita anggap tidak menyasar permberdayaan kesejahtraan nelayan. Nelayan masih bertahan dengan potret kehidupan yang sesederhana itu.

Salah satunya merupakan daerah pesisir Provinsi Aceh. Aceh didukung oleh letak geografisnya yang berada di penghujung pulau Sumatera menjadikan provinsi bergelar Serambi Makkah tersebut memiliki potensi kekayaan bahari yang melimpah. Dalam proses adaptasinya provinsi paling barat Indonesia ini memang dihuni oleh sebagian besar masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan. Baru baru ini pada Mei 2017 lalu, Aceh, pemerintahnya yang dimaksud mungkin merasa cukup bangga setelah “sukses” menggelar Pekan Nasional Petani-Nelayan XV pada tanggal 6 sampai 11 Mei tepatnya. Kemudian keluarnya Aceh sebagai juara umum even kelompok tani yang diikuti oleh 23.000 petani nelayan se-Indonesia itu menambah panjang daftar kesuksesan yang diperoleh sebagai Aceh dengan daerah berotonomi khusus. Namun, kemudian kenyaataan pada Nelayan Aceh memberikan fakta bahwa profesi nelayan pada daerah Aceh masih membutuhkan perhatian lebih.

Nelayan Indonesia, khususnya daerah wisata seperti Aceh, kini dihadapkan dengan berbagai ambiguitas. (Makara, Sosial Humaniora Vol. No 1, Juli 2012: 68) Diantaranya ialah (mereka) dihadapkan dengan ekspoitasi daerah wisata yang mempersempit daerah tangkapan ikan mereka, kemudian belum lagi eksploitasi daerah pesisir dengan janji pemeliharaan daerah seperti daerah wisata yang kembali mempersempit daerah tangkapan nelayan. Pemerintah di satu sisi dalam kesuksesan perayaan even terbesar petani nelayan pada Bulan Mei lalu tidak dapat memberikan kesejahteraan secara langsung bagi para nelayan Aceh khususnya.

Pemerintah secara tidak langsung memaksa nelayan untuk beradaptasi dengan posisi mereka yang sangat tidak diuntungkan. Masih dikutip dalam jurnal yang sama banyak hal yang dilakukan oleh nelayan untuk beradaptasi pada kedaan yang tidak menguntungkan tersebut dalam berbagai cara, beberapa diantaranya dengan menganekaragamkan sumber pendapatan, memanfaatkan hubungan sosial, memobilisasi anggota rumah tangga, melakukan penganekaragaman alat tangkap , dan melakukan perubahan daerah penangkapan, hingga strategi yang bisa jadi berdampak merugikan, seperti penebangan hitan mangrovr secara illegal dan mengandalkan bantun-bantuan pihak lain.

Adaptasi merupakan salah satu bagian dari proses evolusi kebudayaan, yakni proses yang mencakup rangkaian usaha-usaha manusia untuk menyesuaikan diri atau memberi respon terhadap perubahan lingkungan fisik maupun sosial yang terjadi secara temporal (Mulyadi, 20017) oleh karena itu contoh-contoh di atas tampil sebagai bentuk respon nelayan terhadap apa yang mereka rasakan.

Jika kita perhatikan dalam buku, jurnal maupun artikel, masih sulit didapati kajian mengenai keterkaitan perubahan ekologis terhadap respon nelayan. Sehingga kita mahasiswa yang masih sibuk hanya sebagai pengobservasi ini menyimpulkan kurangnya perhatian pemerintah meupun peneliti dalam hal-hal sedemikian rupa yang pada dasarnya sama pentingnya, ketimbang hanya terus menaikkan harga diri profesi nelayan secara umum hanya sekedar untuk penilaian orang luar.

Di samping beberapa nelayan yang sukses, kita sebagai mahasiswa yang sangat hobi mengamati ini berusaha mengingatkan dalam tulisan sederhana ini bahwa sebahagian besar masyarakat dengan profesi nelayan merupakan kaum marginal yang terpinggirkan. Dalam setiap ceramah dan kata sambutan oleh “orang-orang besar” dan para pemangku jabatan selalu mengagungkan dengan kerendahan hati

“kita tidak akan pernah merasakan makan ikan tanpa nelayan” papar mereka seolah menyadarkan sesama dalam tiap-tiap kegiatan yang berhubungan dengan nelayan. Kita pun menyadari dengan sangat jelas bahwa mereka hanya berusaha membesarkan hati para nelayan. Masih sangat sedikit hal yang menynggung kesejahtraan nelayan.

Di samping digalakkannya permasalahan akan ekosoistem, bahari dan lain sebagainya dalam (suistanable Development Goals) SDGs oleh negara anggota PBB, kita sebagai mahasiswa juga dituntut secara langsung untuk terlibat dalam memperbaiki negeri ini. Tidak hanya untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan negara. Mensejahterakan rakyak Indonesia. namun, lebih kepada panggilan hati untuk berbakti, berbagi pada bumi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret