Belajar dari Proses KKN - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Senin, 23 Oktober 2017

Belajar dari Proses KKN



Ade Pratiwi
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan kegiatan yang menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan tinggi yang meliputi kegiatan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. KKN ini merupakan wujud dari pengabdian kita kepada masyarakat. Pada dasarnya, pelaksanaan KKN merupakan pengamalan dari teori yang kita pelajari semasa di perkuliahan dengan sistem pendekatan kepada masyarakat dan sebagai sumbangan pikiran untuk tempat KKN.
KKN menjadi mata kuliah wajib bagi beberapa jurusan di tiap-tiap Universitas, sebagai contoh di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang melakukan KKN di berbagai daerah terpencil di Aceh. Kini sudah dilakukannya KKN hingga periode ke 13 pada tanggal 25 Juli 2017 - 24 Agustus 2017 dengan periode kali ini tujuannya adalah Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Aceh Tengah terletak di dataran tinggi Gayo. Di daerah yang sejuk ini, penduduknya didominasi oleh suku Gayo.  Kami anggota KKN kelompok ATGH012 yang terdiri dari 7 mahasiswa dengan berbagai jurusan ditempatkan di Desa Paya Dedep, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Paya yang berarti rawa, dan dedep yang berarti pohon dedep, karena dulunya tempat ini banyak ditumbuhi oleh rawa dan pohon dedep. Sebelum akhirnya masyarakat Jawa bertransmigrasi ke daerah ini dan menghuni daerah Paya Dedep, makanya daerah tempat KKN kami ini rata-rata bersuku Jawa.
Seminggu sebelum dilakukan KKN, kami melakukan survey pada daerah tempat KKN untuk mengetahui potensi yang ada di daerah tersebut yang bisa diciptakan atau dikembangkan lagi untuk perencanaan kegiatan yang akan dilaksanakan nantinya. Diketahui masyarakat di desa Paya Dedep bermata pencaharian petani, dengan komoditas utamanya kopi, lalu ada jeruk, kesemek, jambu biji, dan sayur-mayur, serta peternakan kambing dan sapi.
Pertama sekali datang ke desa Paya Dedep, kami satu kelompok sedikit kesulitan. Kesulitan tersebut seperti cuaca yang sangat dingin. Berbeda dengan cuaca panas yang biasa kami dapat di kota Banda Aceh. Tempatnya yang berliku-liku melewati bukit-bukit pegunungan. Apalagi perjalanannya yang panjang memakan waktu hampir 10 jam dari kota Banda Aceh, sehingga membuat kepala pusing. Tetapi hal tersebut tidak terasa lagi ketika kedatangan kami di desa Paya Dedep, disambut dengan tangan terbuka oleh keramahan warga.
Dengan masyarakatnya yang rata-rata bertanam kopi, maka setiap kami bertamu ke rumah warga, rasanya tiada hari tanpa minum kopi. Kopi Gayo yang telah dikenal bahkan hingga keluar negeri ini memang sudah menjadi budaya untuk daerah yang berada di dataran tinggi Gayo. Kami yang sebelumnya tidak menyukai kopi, jadi ketagihan dengan kopi yang ditawarkan oleh warga ini.
Ada banyak kegiatan yang kami lakukan di desa Paya Dedep ini, dari 1 bulan masa KKN, di minggu pertama kami fokus untuk silaturrahmi ke rumah warga-warga untuk saling mengenal dan mendekatkan diri. Kemudian kami lanjut dengan berbagai kegiatan kelompok dan individu sesuai dengan jurusan kami masing-masing.
Adapun bentuk kegiatan kelompok kami di tempat KKN seperti penomoran rumah, pembuatan nama dusun, gotong royong, bekerja sama dengan Polindes untuk memberikan vitamin kepada anak-anak, serta ikut menjadi panitia dalam memeriahkan 17 Agustusan. Hal tersebut kami lakukan bersama teman sekelompok dan warga desa Paya Dedep.  Bukan hanya itu, tidak lupa kegiatan individu juga mewarnai hari-hari kami di tempat KKN bersama dengan masyarakat, khususnya anak-anak yang sangat antusias mengikuti gerak-gerik kami.
Di tempat KKN ini kami sudah dianggap sebagai anak sendiri, menjadi bagian dari acara di kampung, ikut serta dan membantu kegiatan kampung menjadi jadwal wajib kami. Banyak hal yang kami dapat dari kegiatan KKN ini, teman, keluarga dan rumah dengan nuansa kekeluargaan, serta pembelajaran hidup yang sangat berguna. Bahkan di hari terakhir kegiatan KKN barulah terasa kehilangan dan tangispun pecah terasa akan jauh dari keluarga, terasa waktu yang dijalani masih kurang dan terasa bahwa pengabdian yang kami lakukan masih butuh lebih.
Kendatipun KKN itu adalah sebuah kewajiban kampus. Namun setelah melewati proses tinggal bersama masyarakat di desa, kegiatan KKN tersebut telah menyatukan kami dengan desa yang sangat indah, keluarga yang nyaman merupakan tempat pengabdian yang tak terlupakan.  Banyak pelajaran penting yang kami dapat peroleh selama masa KKN tersebut.
Terima kasih atas rasa kasih yang kami terima selama ini, Paya Dedep akan selalu kami kenang dan menjadi acuan kami untuk lebih baik dalam bermasyarakat kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret