PELEPAS DAHAGA PENYERAP TENAGA KERJA - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Jumat, 27 Oktober 2017

PELEPAS DAHAGA PENYERAP TENAGA KERJA



Oleh Bayu Pratama Putra
Mahasiswa Prodi Perbankan Syariah, FEBI UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh


Jika terdengar di telinga anda tentang pelepas dahaga, pasti gambaran yang terlintas adalah minuman isotonic dan beberapa jenis soft drink lainnya. Tetapi bagaimana jika anda disuguhkan dengan satu cup jus, apakah itu akan menghilangkan dahaga anda ? Lalu bagaimana jika anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Lima Ribu rupiah saja ? Pastinya itu akan menjadi suatu petimbangan bagi anda, bukan ?

Beberapa waktu yang lalu, dimana matahari terasa sejengkal di atas kepala, saya melintasi sebuah jalan. Lalu saya dikejutkan oleh sebuah fenomena yang janggal di mata saya, dimana saya melihat kerumunan orang dari yang berdasi merah Tut Wuri Handayani sampai yang berdasi panjang dengan motif polkadot. Sehingga badan saya serasa ditarik oleh medan magnet yang sangat kuat menuju ke sana. Setelah mendekat, ternyata itu adalah sebuah gerai jus lima ribu yang diberi nama One Juice.

Setelah saya merasakannya, tiba-tiba ada sesuatu yang lain pada jus ini, juga kondisi di sekitar saya terasa berbeda. Jadi saya langsung menjumpai sang pemilik usaha tersebut. Seketika saya merasa terkejut, Sang pemilik menjelaskan latar belakang dalam mendirikan usahanya. Beliau menjelaskan memulai usaha tersebut awalnya pada saat menginjakkan kaki di Banda Aceh dan kebetulan beliau sedang libur bekerja. Beliau berkeliling kota Banda Aceh dan melihat tidak ada seorangpun yang menjual jus seharga lima ribu rupiah, sedangkan di daerah asalnya sudah banyak yang membuka usaha tersebut. Kemudian sang pemilik mencoba bertukarfikiran dengan rekan sejawatnya. Akhirnya, beliau mengambil kesempatan ini untuk memulai bisnisnya dengan membuka gerai jus lima ribu.

Kemudian hal menarik lainnya yang saya dapatkan dari cerita beliau adalah tujuan utama dalam membuka usahanya yaitu beliau ingin membuka peluang kerja bagi para pengangguran, khususnya kalangan remaja. Sungguh mulia hatinya sampai berfikir seperti itu dan hal ini sepatutnya dapat ditiru oleh para pelaku usaha . Beliau beranggapan agar mereka tidak terjerumus pada kenakalan remaja seperti penyalahgunaan narkotika dan lainnya. Lalu bukan hanya karyawan yang digaji, tetapi sang pemilik juga membantu meningkatkan taraf hidup keluarga dari para keryawan beliau dengan menerapkan prinsip kekeluargaan agar tidak adanya kesenjangan antara sang pemilik dan para karyawannya. Maka dari itu, saya melihat para karyawannya bekerja dengan senyum terlukis lebar dan semangat yang sangat bergelora.

Untuk strategi yang diterapkan pada usaha itu, sang pemilik berfokus pada tiga prinsip dasar yaitu, kebersihan, pelayanan dan disiplin. Beliau berfikir dengan mengutamakan kebersihan itu akan menarik minat konsumen terutama konsumen “kelas atas” yang indentik dan sensitif dengan kebersihan. Hal itu juga dapat menjadi nilai lebih bagi usahanya.

Tak semua usaha itu dapat berjalan dengan mulus. Tentulah ada kerikil-kerikil kecil yang menghambat jalannya usaha. Dalam hal ini, sang pemiik juga memiliki beberapa kendala yang dihadapi seperti kendala dalam hal penyediaan bahan baku seperti buah, gula dan lainnya. Kita tahu bahwa buah itu sifatnya musiman, jadi ada suatu waktu dimana buah yang tersedia terbatas sedangkan jumlah permintaan konsumen tak terbatas. Juga masalah lainnya yang tak kalah mengkhawatirkan pemilik adalah problematika karyawan yang jumlah karyawan masih sangat minim. Upaya yang ditempuh sang pemilik adalah dengan merekrut karyawan baru, tetapi dengan catatan pegawai baru tersebut ditempatkan di bagian belakang sebelum mereka mampu untuk melayani konsumen.

Jika kita berbicara bisnis, maka dua hal yang akan kita hadapi, yaitu modal dan keuntungan. Dalam hal ini, saya mendapati bahwa sang pemilik usaha ini memulai dengan modal yang sangat sedikit. Padahal menurut penjelasan beliau, di awal berjualan itu cuacanya hujan tetapi jumlah konsumen malah meningkat. Setelah melalui sebuah proses yang sangat panjang diikuti dengan ketekunan dan kesabaran dalam menjalani bisnisnya sekarang beliau dapat meraup untung yang besar.

Walaupun dengan keuntungan besar yang diperoleh, beliau tidak pernah lupa akan hak orang lain yang ada pada rezeki yang diperolehnya. Beliau tidak pernah lupa untuk menyisihkan rezekinya setiap bulan untuk diberikan kepada anak yatim, panti jompo, dan dayah pesantren yang ada di kota Banda Aceh dan sekitarnya. Kemudian hal yang di luar dugaan pun terjadi, beliau berkata selama sering melakukan hal itu walaupun pesaing semakin banyak tetapi income baginya semakin besar.

Saya mencoba memberikan saran kepada sang pemilik, kenapa sejauh mata memandang tidak ada tempat duduk atau tempat khusus untuk orang yang datang membeli dapat menikmati jus di tempat itu. Jawaban dari sang pemilik adalah dulu pernah saya buka tempat duduk di dalam yang lebar, menyediakan fasilitas seperti tv dan bahkan sampai wifi untuk para pelangganya, tetapi kurang dimanfatkan dengan baik oleh para konsumen. Karena menurutnya, ketika adzan berkumandang para konsumen terlalu terlena dengan fasilitas yang ada, bahkan tidak terlalu memperdulikannya. Maka dari itu pemilik menghilangkan semua fasilitas itu. Jadi konsep berjualan sang pemilik adalah pelanggan memesan karyawan jus melayani lalu pembeli pulang dengan membawa pesanan jusnya.

Pelajaran yang saya dapatkan adalah dalam merintis usaha diperlukan kerja keras sesuai dengan konsep tanggal sukses agar mampu menjadi star class company, tetapi hal menarik dari sang pemilik adalah tujuannya dalam membuka usaha agar jumlah pengangguran berkurang, bisa membantu anak yatim dan ureung jak beut. Karena di dalam rezeki kita masih terdapat hak orang lain di dalamnya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT surah Al-Hadid ayat 7 “berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang telah membuat kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya menghasilkan pahal yang besar”. Maka oleh sebab itu, tujuan akhir dari melakukan sesuatu bukan hanya berorientasi dunia saja, tetapi sesuai konsep ekonomi islam yaitu kebahagaiaan di dunia dan akhirat (Falah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret