Sukses dengan Modal Nekat dan Gila - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Kamis, 05 Oktober 2017

Sukses dengan Modal Nekat dan Gila



Tidak banyak orang yang peduli dengan sampah. Namun, Vera Nofita, 42, mengubah pandangan tersebut. Dia mengajak warga kampung Pulo Kambing daerah tempat tinggalnya untuk menyulap sampah menjadi investasi yang berharga.

Adalah sosok perempuan kelahiran Jakarta, 21 Nofember 1975 memulai debutnya di dunia persampahan pada 2014.

Pada 2013, saat menjadi penyiar radio, dia bertemu dengan banyak orang yang menginspirasi. Hal ini lah yang mendorong dia melakukan kegiatan seperti yang terlihat saat ini. Kemudian, hatinya makin tergerak saat melayat tetangganya yang meninggal. Tidak banyak orang yang hadir saat itu. “ Kalau ini terjadi pada saya, ngeri juga ya ..” ujarnya. Sejak saat itu, dia menekankan agar dekat dengan orang orang sekelilingnya terutama tetangga yang dia jumpai setiap hari.

Sebagai seseorang yang sudah lama tinggal di Pulo Kambing, dia mulai berpikir mencari solusi atas kecemasannya. Solusinya adalah melakukan kegiatan yang bisa punya manfaat untuk orang lain.

Berbekal kenekatan, istri Herdison, 50 tersebut akhirnya memulai dengan membuat kegiatan tabungan simpan pinjam. Dasarnya adalah melihat banyak warga yang kesulitan mendapatkan pinjaman untuk modal usaha. Padahal warga hanya membutuhkan Rp 1 -2 juta. Meskipun nilainya kecil, pinjaman ke bank butuh proses yang cukup lama. Dan tak sedikit warga yang akhirnya meminjam pada rentenir atau bank keliling. Sesungguhnya keberadaan rentenir atau bank keliling ini tidak hanya ada di tempat dia tinggal, dia pun mengatakan bahwa di pelosok daerah pun sudah banyak bank keliling yang memberikan pinjaman mudah dan cicilan dengan sistem sobek. Resiko yang bisa diterima nasabah yang pinjam ke rentenir adalah harta yang ada bisa habis karena pinjamannya berupa bunga ber bunga. 
Kegiatan ini sudah mengalami metamorfosa yang luar biasa dari 2014 hingga saat ini, dimulai dari tabungan simpan pinjam berubah menjadi Pra Koperasi , lalu berubah menjadi Koperasi Konvensional dan kini menjadi Koperasi Syariah. Kini Kopreasi Bersatu Kerabat Pulo Kambing cetusan anak Magek ini sudah memiliki 6 Tim Pengelola yang terdiri dari Manager, Account Officer, Teller, Customer Service dan Marketing. Nasabah berawal 10 orang, kini mencapai 1.046 orang dan hampir 500 UKM yang sudah terbantu. Memulai kegiatan dengan memakai ruang tamu berukuran 3 x 3 m, kini sudah berkantor di gedung seluas 600 m2. Gedung ini pun diberikan oleh pemilik usaha LOIS Jeans dengan sistem guna pakai dan diberikan fasilitas secara maksimal.

Tiga bulan berjalan dalam tabungan simpan pinjam, nasabah tabungan simpan pinjam terus bertambah. Sampai pada suatu waktu ada warga yang tiba tiba menghampirinya dan warga itu ingin sekali memiliki tabungan tetapi apa daya kemampuan keuangannya tidak mencukupi. Saat itu, langsung terlintas dipikirannya tentang berita sampah yang baru beberapa hari dilihatnya di salah satu stasiun televisi lalu dia menanyakan pada si ibu apakah dirumah ada sampah. Saat dijawab ada, dia menyarankan ibu itu untuk menabung lewat bank sampah. Awal Maret Bank Sampah Kerabat Pulo Kambing pun terbentuk dengan dukungan 5 orang ibu yang dia rekrut.

Tahun ini, ibu dari Muhammad Fachrul Fathonah, 18 dan Madina Fathia Fathoniah, 16 membuat gebrakan baru yaitu mengajak warga untuk nyicil emas dengan sampah. Program ini bekerjasama dengan PT. Antam (Persero) Tbk UBPP Logam Mulia . Butuh perjuangan panjang untuk bisa bekerjasama dengan salah satu perusahaan BUMN ini, tetapi perempuan yang hanya lulusan SMA ini punya sikap pantang menyerah akhirnya kerjasama ini pun terjalin dan memasuki tahun ke 3.

Sistem nyicil emas dengan sampah ini tidaklah sulit. Dia hanya meminta warga memilah sampah dari rumah. Sampah yang dipilah pun hanya sampah kering seperti kertas, kardus, botol minuman. Sampah pilahan itu ditabung dengan cara membawanya ke bank sampah. Selanjutnya, tim bank sampah yang dia bentuk akan mengkonversikan nilai sampah ke rupiah. Semua dihitung berdasarkan jenisnya dan beratnya, lalu ditotal. Total rupiah inilah yang akan ditabung di bank sampah.

Selanjutnya, total tabungan tersebut akan diserahkan bank sampah ke koperasi. Setelah nilai tabungan mencukupi, tim pengelola koperasi akan memasukan nilai tabungan itu ke rekening NyiMas (Nyicil Emas ). “ Kami sekalian ingin ajari masyakarat bawah bahwa tidak ada kata tidak mungkin untuk berinvestasi, dengan pilah sampah maka dalam 4 bulan setelah pembukaan rekening masyarakat akan memiliki emas logam mulia seberat 1 atau 2 gr “

Sekilas kegiatan yang Vera mulai terlihat mudah. Namun sesungguhnya banyak rintangan yang dihadapinya. Mulai dari sulitnya merubah pandangan masyarakat tentang koperasi dan sampah hingga sulitnya mendapat dukungan pemerintah. Tetapi tak membuat hilang akal, aksi nyata langsung menemui warga pun dilakukan dengan membuat sosialisasi rutin ke rumah rumah warga. Dari hasil keliling ini Vera melihat mayoritas warga tidak aware dengan sampah, baik kalangan atas, menengah, mapun bawah. Semua beranggaapan sampah bukanlah urusan mereka. “ Kalau istilah kerennya not in my backyard. Jadi semua bersikap bodo amat” terangnya.

Tidak berhenti sampai disitu, dengan adanya bank sampah maka ada unsur sampah yang memang tidak bisa dijual di pabrik, salah satunya adalah plastik bekas minuman. Dia pun mulai merumuskan bagaimana caranya agar plastik ini bisa punya manfaat dan tercetuslah ide membuat kegiatan kreasi guna ulang, yaitu kegiatan membuat aneka karya dari bahan bekas seperti dari koran, botol plastik, kresek hingga tutup botol minuman. Memulai kegiatan ini pun harus diikuti dengan pemahaman, belajar ke segala penjuru dilakukan dengan membawa ibu ibu yang minat membuat kerajinan tentunya. Dan sekarang sudah memiliki tim yang gerak di kegiatan kerajinan dan memiliki karya karya yang keren. Dan ini bisa menjadi salah satu kegiatan manfaat yang juga bisa menghasilkan uang.

Berlatarkan masih banyaknya penolakan tentang edukasi sampah ini, Vera memiliki impian yakni membuka cabang kegiatan bank sampah di semua wilayah . Artinya warga bisa diarahkan untuk mengolah sampah untuk jadi tabungan Nyicil Emas, apalagi masyarakat kita pun menyukai emas dan logam mulia.

Kalau melihat kondisi kantor yang dihuni oleh 19 orang relawan ini maka akan decak kagum melihat semua sudut hijau dengan tanaman sayur, buah dan obat obatan. Sederhana sekali dasar kegiatan ini, seperti dilansir dari Dinas KPKP ( Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian ) pada masa akan datang terjadi perebutan sayur , buah dan beras antar warga karena minimnya hasil produksi sayur, buah, beras dan lainnya. Kenapa bisa minim? Jawabnya “karena konsumen lebih banyak dari produsen“. Hingga pada masa yang akan datang, barang mewah sekelas Lamorgini pun orang tak akan minat. Lalu apa yang Vera lakukan ? Dia membuat kegiatan Petani Kota bertanam dengan media hidroponik ( air ) di wilayahnya. Kini kegiatan ini bisa menghasilkan sayuran dan menciptakan pekarangan yang sehat. Bertani dengan metode hidoponik syaratnya hanya satu lokasi menghadap datangnya sinar matahri pagi. Metode ini pun bisa dilakukan dimana saja.

Begitu banyak kegiatan pemberdayaan yang Vera lakukan, meski begitu Vera tak ingin kegiatan ini hanya berkembang di tempat dia tinggal. Dia berharap akan banyak wilayah yang bisa duplikasi kegiatannya ini. Sampai saat ini terdata yang sudah mengunjungi kegiatan yang Vera adalah Prof. Haryono Suyono ( Ketua KBKKB Orde Baru ), Walikota Gorontalo, Pengelola Bank Sampah Rawa Lumbu, Ibu Juliana Pateh ( pemilik usaha Nefertiti kosmetik ), Komunitas pengrajin barang bekas se jabodetakbek, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup, Camat Cakung, Lurah jatinegara, Pemilik Nara Kreatif dan para pekerja sosial dari 13 negara ASEAN beserta Dinas Sosial. Untuk media cetak yang sudah meliput antara lain Malajah Manasik, Majalah TEMPO, Koran Terbit dan Koran Jawa Pos. 
Tak lupa diundang menjadi nara sumber di Radio DFM, Radio UFM , Radio RASIL, JakTV, TVRI dan Jawapos TV. Menghiasi you tube berkat liputan dari PKPU dengan tema Pintu Inspirasi Episode 12. Memulai dengan hanya modal semangat dan kenekatan yang akhirnya bisa menciptakan kebun bunga yang cantik dengan nama Rumah Kreatif Bersatu Nusantara ( RKBN ) yang akhirnya bisa mendatangkan investor atau donatur untuk mendukung kegiatan ini. “ Jika mau tahu kegiatan yang saya lakukan, bisa lihat di www.pulokambing.com , disana saya kupas semua aktifitas saya dan ibu ibu yang saya berdayakan “, katanya sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret