ARISMAN MENEBAR VIRUS LITERASI DI UJUNG NEGERI - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Jumat, 24 November 2017

ARISMAN MENEBAR VIRUS LITERASI DI UJUNG NEGERI



(Catatan di Sekolah Pedalaman Pulau Banyak Barat)
Oleh Bayhaqy
 
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ujong Sialit, Kecamatan Pulau Banyak Barat, merupakan salah satu sekolah paling terpencil di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Mungkin saja ada yang belum pernah tahu dengan nama desa, lokasi sekolah ini berada, karena letaknya yang di pulau yang disebut pulau Banyak itu. Konon ini termasuk dalam jajaran pulau terluar. Pasti tidak  mudah untuk bisa  menjangkau atau sampai menginjakan kaki ke sana.  Dikatakan demikian, karena untuk menuju Pulau Banyak, dari Singkil kita harus  menempuh perjalanan selama empat, sampai lima jam dengan menggunakan kapal ferry atau Speedboat.  Cukup lama. Ya, begitulah perjuangan untuk bisa sampai ke ibukota Kecamatan Pulau Banyak yang disebut  dengan Pulau Balai.

Maka, bila anda  berkunjung ke sana, sesampai di dermaga Pulau Balai dan ingin menuju ke Haloban, ibukota Kecamatan Pulau Banyak Barat, anda harus menempuh  lagi perjalananan darat sepanjang 35 Km. Selanjutnya dari Haloban menuju Desa Ujung Sialit menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan menggunakan perahu. Perjalanan yang sangat panjang dan menantang, bukan?

Di sinilah SD Negeri Ujung Sialit yang menjadi sasaran atau target menebar virus literasi itu. Dapat dibayangkan betapa jauhnya sekolah itu. Sekolah yang berada di pedalaman Kecamatan Pulau Banyak Barat ini, dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang masih minim, apalagi jauh dari akses informasi bahkan aliran listrik dari PLN sama sekali tidak ada. Masyarakat di sana menikmati listrik hanya dari pukul enam sore hingga pukul sepuluh malam. 

Adapun aliran listrik yang di peroleh oleh masyarakat setempat bersumber dari mesin milik desa dan sebagiannya ada yang menggunakan genset. Barangkali akibat keterbatasan kesediaan alat penerang di malam hari, salah satu faktor seperti yang di beritakan Harian Serambi Indonesia Minggu yang lalu, desa ini memiliki enam sampai sembilan orang anak dalam satu keluarga.

Desa Ujung Sialit bisa dikatakan daerah berbatasan dengan Pulau Nias-Sumatera Utara. Karena letak geografisnya yang langsung tembus ke Pulau Nias melewati lautan, sehingga mayoritas masyarakat di desa ini beragama Kristen. Namun guru-guru yang mengajar pada SDN Ujung Sialit beragama Islam berasal dari Pulau Banyak.

Terlepas dari perbedaan budaya dan keyakinan. Tidaklah menyurutkan langkah bagi Arisman Pulo, seorang guru PNS alumni S-1 PGSD FKIP-Unsyiah ini yang siap ditugaskan dimana saja, sekalipun di daerah paling terpencil. Bagi Arisman ini adalah tantangan sekaligus pengalaman untuk mencerdaskan anak negeri di mana saja, siapa saja dan kapan saja.

Pada awal bulan Oktober  2017 yang lalu, Arisman dipanggil oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh untuk menerima penghargaan (award) sebagai salah seorang guru berdedikasi dari daerah khusus. Ia  penerima hadiah Anugerah Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Provinsi Aceh Tahun 2017 yang diserahkan di Kota Banda Aceh oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Lelaki humoris dan murah senyum ini, seorang alumni FKIP-Unsyiah. Ia  seorang sarjana pendidikan yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia bertekat untuk bisa melakukan pengabdian yang terbaik bagi anak-anak dan masyarakat di pedalaman Pulau Banyak Barat. Sebagai sosok yang sangat peduli akan nasib anak-anak sekolah di tempatnya. Maka, ketika ia berada di Banda Aceh, menjelang kembali ke Pulau Banyak, ia sempat membeli satu paket majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas. Paket yang berisi lebih kurang 100 majalah POTRET dan Anak Cerdas. Ya,  satu kardus berisikan seratusan Majalah Anak Cerdas dan Majalah POTRET yang sebagiannya dibeli oleh Harisman, ia sisihkan dari uang hadiah yang diterimanya dari Pemerintah Aceh pada malam anugerah Hardikda dan sebagian lagi merupakan sumbangan bahan bacaan dari majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas. Sumbangan bacaan yang dijadikan  sebagai modal untuk menggerakkan "Literasi di Ujung Negeri." Semoga memberikan manfaat bagi anak-anak di Pulau Banyak yang jauh dari akses perpustakaan dan toko buku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret