Harapan Kita Untuk Aceh Yang Lebih Baik - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Senin, 27 November 2017

Harapan Kita Untuk Aceh Yang Lebih Baik



Oleh  : Syarifah Ulfa Julita
Mahasiswi Prodi Perbankan Syariah, FEBI UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Hal ini memang sering menjadi berita, malah terlalu sering menjadi buah bibir setiap orang, biarpun tidak semua orang yang peduli terhadapnya. Bahkan ada orang tidak tahu sama sekali. Apa sih yang menjadi penyebab Aceh ini sangat rendah di dalam segala bidang?  Baik itu bidang sistem pemerintahan, kebersihan, sampai hal kebersihan membuat Aceh ini menduduki rating terendah dari wilayah Indonesia lainnya. Sebagai mana yang orang tahu Aceh ini adalah wilayah syariah. Yang pasti dalam hal kebersihan harusnya tidak lagi menjadi permasalahan, bukan?  Karena sebagaimana yang kita ketahui kebersihan adalah sebagian dari iman. Tetapi  apa buktinya? Ke mana-mana yang kita temukan itu adalah sampah. Jujur saat pertama sekali  keluar negeri bulan kemarin, bukannya ingin membandingkan Aceh dengan Negara lain, tetapi langsung hati  berkata “waah”, kecewa yaa !”  Kenapa bisa tidak ada yang membuang sampah sembarangan di sini, Kapan tanah kelahiran saya, Aceh  yang harusnya saya banggakan ini bersih?. Bukan hanya itu saja yang  mengecewakan, tentang ketaatan peraturan lalu lintas itu juga saya acungkan jempol untuk Negara tersebut. Mereka sangat menghormati para pejalan kaki, dan mau bersabar saat pejalan kaki itu menyeberang jalan.
Yang ingin saya tanyakan kepada masyarakat atau pun pembaca, apa yang menyebabkan hal itu terjadi?. Kita tahu Negara Indonesia dikenal sebagai penduduk dengan sosialnya paling tinggi, atau teramah dengan sesamanya, Apakan itu kesalahan dari pemerintah Aceh, kesalahan dari orang tua yang mendidik anak-anaknya ,kesalahan dari pribadi masing-masing seseorang yang sudah tahu peraturan, tetapi berpura-pura tidak tahu atau ketidakpedulian?  
Menurut saya dari persoalan di atas,yang menjadi faktor utamanya adalah ketidakpedulian dari masyarakat Aceh sendiri. Banyak masyarakat hanya berkoar-koar saja, tetapi tidak ada tindakan nyata. Mentang-mentang “Medsos” sekarang ini merajalela dan membebaskan untuk mengungkapkan pendapat,berkomentar, tetapi mengapa aplikasi pembuktiannya tidak ada. Seharusnya kita sebagai generasi muda ini harus dapat mengubah atau mengajak semua kalangan, baik tua maupun muda untuk turun tangan langsung dalam mengaplikasikan gerakan perubahan. Dimulai dari lingkungan rumah sendiri hingga sampai ke pelosok Aceh. 
Dimulai dari sistem pemerintahan Aceh dibentuk berdasarkan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa. Tapi buktinya apakah sudah bersifat istimewa dan dilayani sangat baik oleh pemerintah pusat? Dalam hal peraturan Syari’at Islam, saya lihat belum sepenuhnya berjalan dengan baik, biarpun kita tahu adanya Satpol PP atau WH yang tugasnya mengawasi atau memantau kegiatan masyarakat Aceh, tetapi terdapat kekurangan, yaitu saat jam melaksanakan ibadah shalat, terutama maghrib, banyak sekali warung atau café yang masih buka. Pengunjung pun tidak merasakan apapun, tidak ada niat untuk meninggalkan warung.  Malahan semakin ramai.
Kekurangan lainnya  keterlambatan dalam pelayanan masyarakat, contohnya pelayanan di bidang kesehatan, pengalaman yang saya rasakan. Waktu itu saya ingin membuat surat rujukan, tetapi terlalu diperhambat dalam proses pembuatannya, sehingga orang yang sakit malah bertambah sakit.
Dalam hal pendidikan, bagi penduduk kota kita lihat sudah berkembang, tetapi coba kita pantau ke pelosok desa, para masyarakat awam sungguh benar-benar tidak mengerti dengan sistem pendidikan yang kita hadapi sekarang. Sebagai contoh dalam hal beasiswa, bidik misi. Masyarakat kampung tidak mengetahui bagaimana cara untuk mendapatkan hal tersebut. Bagi sebagian orang memang sudah mengerti, tetapi bukan menjelaskan kepada mereka yang belum mengerti. Malah menyulitkan pemahaman mereka.  Dari hal yang mudah menjadi sangat sulit untuk mereka laksanakan. Hal ini sudah saya dengar sendiri dari kampung saya, di Sigli, saat saya menjelaskan sedikit tentang bidik misi , mereka terkejut, mereka tidak mengetahui apa itu bidikmisi. Dan ada yang menganggap bidik misi itu diperuntukan hanya kepada siswa yang mempunyai prestasi tinggi, bagi siswa yang menang dalam suatu perlombaan dan itu membuat para orang tua di sana memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, atau universitas. Hal itu dikarenakan anak mereka tidak mempunyai prestasi yang mencukupi dan tidak pernah mengikuti lomba apapun. Bukankah ini hal yang sangat lucu? Sangat mengherankan, bukan? Dengan kecanggihan teknologi sekarang, apa mungkin hal itu membuat mereka tidak mengerti?. Kesimpulan yang dapat saya ambil mengapa orang yang telah menempuh pendidikan di kota,tetapi tidak menjelaskan hal tersebut kepada orang di kampungnya. Hal itu dikarenakan mereka takut akan tersaingi apabila yang lain menempuh pendidikan yang tinggi sama seperti mereka.
Harapan terbesar yang sangat saya harapkan, biarpun terkadang masih berfikir apakah mungkin harapan ini akan terwujud, yaitu dapat mengubah semua hal yang telah mendarah daging bagi kita, sehingga itu menyebabkan hal buruk terhadap Aceh ini sendiri. Dapat mengubah sifat masyarakat untuk lebih memperhatikan lingkungan mereka, dengan lebih menjaga kebersihan, menaati peraturan. Ya, tidak membuat hal yang tidak penting, sehingga berefek buruk kepada mereka sendiri. Juga dapat mengubah sistem pemerintahan Aceh ini, terutama menyadarkan para pemimpin Aceh agar ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Tidak hanya duduk sebagai pemimpin, tetapi tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Kita berharap agar mereka dapat memberi pelayanan kepada seluruh masyarakat hingga ke pelosok daerah, terutama bidang kesehatan. Kita sangat berharap para pegawai di bidang kesehatan tidak mempersulit sistem pelayanannya, agar lebih mengutamakan pasien yang sedang sakit terlebih dahulu dari pada mengutamakan surat-surat pengurusan perawatan, sehingga memperburuk kondisi pasien yang sakit. Apa salahnya jika kita mengikuti gaya atau peraturan yang orang luar negeri terapkan, bukankah itu akan membawa efek positif bagi kita ke depannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret