KETIKA BAHASA ISYARAT HADIR DI TENGAH NON TUNA RUNGU - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Jumat, 10 November 2017

KETIKA BAHASA ISYARAT HADIR DI TENGAH NON TUNA RUNGU



Ade Pratiwi
Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Dalam kehidupan manusia, komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Manusia berkomunikasi menggunakan media yang digunakan komunikator untuk menyampaikan informasi. Setiap orang membutuhkan informasi agar tidak ketinggalan berbagai informasi. Media yang digunakan untuk berkomunikasi berbeda-beda sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh individu tersebut, sebut saja untuk tuna rungu yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Tuna rungu merupakan istilah yang digunakan untuk orang yang mengalami gangguan pendengaran,  baik sebagian atau seluruhnya. Oleh karena itu, bahasa isyarat digunakan oleh penyandang  tuna rungu dalam berkomunikasi dengan tuna rungu lainnya  ataupun dengan non tuna rungu. Inilah alasan mengapa orang non tuna  rungu juga harus mempelajari bahasa isyarat. Setidaknya ia paham sedikit tentang bahasa isyarat agar komunikasi yang dilakukan dapat berjalan lancar dan efektif.
Bahasa isyarat merupakan bahasa yang digunakan oleh komunikator tanpa menggunakan suara, namun mengandalkan pergerakan tangan, badan dan bibir serta ekspresi wajah dalam menyampaikan pesan kepada komunikannya. Bahasa isyarat ini mempermudah orang yang tuna rungu untuk menyampaikan dan menangkap pesan, karena simbol yang digunakan dapat terlihat oleh mata.
Oleh karena itu “I am Able” hadir untuk merangkul orang-orang yang ingin mengerti bahasa isyarat dengan mengadakan sosialisasi bahasa isyarat. Kegiatan yang dilakukan  di Museum tsunami ruang meeting lantai 2 dengan mengusung tema I am Able dan terbuka untuk siapa saja yang ingin mempelajari bahasa isyarat.
Kegiatan ini terbentuk sebagai project social dari Post Project Activity (PPA) alumni program kapal pemuda ASEAN-Jepang atau The Ship for Southeast Asian Youth Program (SSEAYP) 2016. SSEAYP sendiri merupakan program pertukaran pemuda bertujuan mempererat hubungan persahabatan dan mutual understanding yang disponsori oleh pemerintah Jepang. Program ini dilaksanakan di  dalam sebuah kapal pesiar milik jepang, Fuji Maru. Setiap tahunnya Post Project Activity peserta SSEAYP mengangkat tema berbeda, pada alumni SSEAYP 2016 ini diangkatlah tema dengan fokus pada disabilitas.
Vira Farhati yang merupakan alumni dari kapal pemuda ASEAN-Jepang 2016 dan sekaligus Project Officer dari I am Able di Aceh. Mahasiswi Universitas Syiah Kuala ini menjadi satu-satunya delegasi Aceh untuk SSEAYP 2016. Bersama 320 pemuda ASEAN-Jepang lainnya mengarungi lautan dan mengunjungi Negara-negara ASEAN selama 52 hari.
“Selama perjalanan, kita (peserta SSEAYP) merumuskan 1 project social yang akan kita aplikasikan di Indonesia kita angkatlah tema disabilitas dan kesetaraan, kita tertarik di spesifik sosialisasi bahasa isyarat” ungkap Vira.
Kegiatan I am Able sendiri dilakukan selama 4 kali pertemuan, dimulai pada tanggal 1 Oktober 2017 hingga tanggal 29 Oktober 2017 di Museum tsunami Aceh dan Keude Kupi Aceh.  Pelajaran bahasa isyarat yang diajarkan berupa huruf abjad, angka, warna, we are unity song, perkenalan dan percakapan sehari-hari dengan seorang pemateri yang mengajarkan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Adapun bahasa isyarat yang biasa digunakan di Indonesia ada 2 yaitu Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Bisindo merupakan bahasa yang diciptakan oleh kaum tuna rungu dan memiliki perbedaan di setiap daerah layaknya bahasa daerah yang berbeda-beda, sedangkan SIBI merupakan bahasa isyarat yang dibuat pemerintah dengan mengubah bahasa Indonesia lisan ke bahasa isyarat yang terdapat imbuhan layaknya ejaan di bahasa Indonesia.
Dari sosialisasi bahasa isyarat ini, Vira berharap bahwa masyarakat yang non  tuna rungu juga mengetahui tentang penggunaan bahasa isyarat, “selama ini bahasa isyarat hanya diajarkan kepada tuli-tunarungu aja, bahasa isyarat jadinya familiar di kalangan mereka (tuna rungu) sedangkan orang-orang tuli-tunarungu itu berinteraksi bukan cuma sesama mereka, tetapi juga dengan orang lain yang non tuli-tunarungu”. Ucap perempuan yang menerima penghargaan sebagai pemuda Aceh yang berprestasi 2016.
Kegiatan I am Able sendiri mendapatkan respon yang positif dan pemuda Aceh sangat antusias dengan kegiatan ini terlihat dari banyaknya peserta yang mendaftar online hingga 40-an peserta ketika Vira mempublikasikan kegiatan I am Able ini.
Perempuan kelahiran Lhokseumawe ini mengaku mengalami sedikit kesulitan untuk memulai kegiatan I am Able ini. Apalagi sosialisasi disabilitas belum familiar di Aceh, sehingga Vira harus memulai pendekatan dari nol, meminta masukan dari teman-teman disabilitas dan riset ke lembaga penelitian yang pernah meneliti tentang disabilitas.
Vira juga berharap kedepannya kegiatan I am Able ini akan tetap berlanjut dan dilaksanakan dengan santai, di setiap sesi pertemuannya bakalan ada topik yang akan dibahas dengan tetap menggunakan pelajaran bahasa isyarat “inginnya komunitas ini terbentuk karena adanya suka rela, komunitas yang leaderless, untuk bersama”. Ujar perempuan yang sekarang KOAS di  RS Zainal Abidin Banda Aceh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret