Si Capcin Yang Murah Meriah - Potret Online

Breaking

Post Top Ad

Potret

Post Top Ad

Potret

Kamis, 02 November 2017

Si Capcin Yang Murah Meriah



Oleh Cut Najla Rahmatika
Mahasiswa Prodi Perbankan Syariah, FEBI UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Pasti semua orang mengetahui minuman ini. Minuman yang terbuat dari serbuk capcin yang dikombinasi dengan es batu dan cincau sebagai topingnya yang disebut capcin. Capcin adalah minuman familiar bagi para masyarakat, baik dari kalangan anak anak, hingga orang tua. Selain familiar, minuman ini sangat mudah ditemukan dan harganya cukup terjangkau, hanya Rp6000 saja, anda sudah mendapatkannya. Jika cuaca panas, maka ini adalah salah satu andalan masyarakat termasuk saya, karena minuman ini dapat melepaskan dahaga pada saat kita sedang dehidrasi. 

Pada hari Kamis lalu, dimana cuaca di Kota Banda Aceh sangat terik, sehingga membuat saya ingin meminum minuman yang dingin dan menyegarkan. Saya langsung keluar dari kos dan mencari minuman tersebut yang tidak jauh jarak dari tempat tinggal saya. Saya menemukan jualan atau usaha yang sangat rame pembelinya. Ketertarikan itu timbul dari diri saya sendiri. Saya datang ke tempat orang penjual tersebut dan saya melihat mereka menjual cappuccino cincau atau yang disebut capcin yang berada di daerah Lamgugob, Banda Aceh. Saya memesannya dengan antrian cukup panjang. Hal itu tidak membuat saya harus membeli ke tempat yang lain. Karena saya sangat penasaran apa sih kelebihan dari capcin itu dari pada capcin yang ada di sebelahnya, dan bagaimana rasa atau tasty dari capcin tersebut?. 

Tidak lama kemudian selang lima menit, para penjual tersebut mananyakan kepada saya “capcin yang bang , h1 aja” lalu para penjual capcin tersebut membuatnya dan rasa penasaran itu semakin besar, sehingga saya pun berbicara kepada abang penjual tersebut. “Bang, sudah lama berjualan disini?” Pedagang capcin itu menjawab “ sudah dek, kira- kira sudah dua tahun kami berjualan capcin ini sambil tersenyum”, Lalu saya menjawab “ramai ya bang pembelinya, kenapa ramai bang? Apa yang membedakan capcin di sini?” Lalu penjual itu menjawab “ Alhamdullilah ramai selalu disini dek”. Apalagi kalau cuacanya panas lebih dari ini, dan apa yang membedakan capcin kami dari yang lain, kami disini mengutamakan kepuasan pelanggan dan menarik pembel yang baru, agar menjadi pelanggan tetap di sini. Misalkan kami menawarkan capcin yang beda rasa, lalu memakai toping yang bervariasi, lalu banyak yang menjual capcin dengan harga murah, akan tetapi dari segi tekstur dan tasty tidak manis dan encer atau cair. Disini kami berbeda dari yang lain. Kami membuat tasty dan tekstur sesuai dengan pemintaan pelanggan dan pastinya kental. Semakin menarik perbincangan itu, lalu saya melanjutkan pertanyaan yang lain, apa sih ancamannya dan dari mana dapat modal untuk membangun usaha ini? Lalu Abang Capcin itu menjawab “ ancaman itu pasti ada, seperti orang yang berjualan sama di sebelah kami. Mereka juga menjual minuman seperti kami juga, otomatis terjadi persaingan, baik dalam kenyaman dan ketepatan waktu saat memesannya. 

Kesimpulannya yaitu perlu adanya inovasi atau hal yang baru dari ini .Kalau dari segi modal, di sini kami hanya sebagai karyawan saja yang dititpkan oleh atasan untuk berkerja, Kita dikasih peralatan untuk berjualan, kita tinggal jalani saja apa yang sudah ditentukan oleh atasan dan keuntungan dari itu sebagai gaji perbulan kami. Hitung -hitung penghasilan ini untuk menambah uang perbulan dan biaya untuk wisuda tahun depan dan selebihnya bisa untuk mengirimkan kepada orang tua di kampong. Kami berprinsip sekarang bukan jaman lagi orang tua yang mengasih uang tiap bulan ke kita, tapi ini jaman untuk hidup mandiri . Saya mendengar hal seperti itu ikut bangga melihat seorang mahasiswa yang ingin mandiri . Pertanyaan terakhir dari saya kepada penjual tersebut , apakah usaha ini ada tidak, pasang surutnya? Lalu dia menjawab “pasangnya waktu ketika cuaca panas , dan surutya ketika musim hujan. Sedikit penghasilan yang didapatkan” Capcin pun siap dan saya berterimakasih kepada Abang penjual Capcin itu, sudah mau berbincang dengan saya, walaupun banyak pembeli yang sedang menunggu pesanannya yang sedang dibuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Potret