Majalah Anak Cerdas Itu Mencerdaskan

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Delima Saflidara
Mahasiswi Jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat,
UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Kesadaran akan pentingnya ilmu dan pengetahuan merupakan hal yang semakin asing dalam budaya kita. Aceh yang berada di pulau Sumatra adalah sebuah negeri yang masih miskin. Terutama miskin literasi, membaca dan menulis. Kurangnya kesadaran itu sangat mewabah hampir di setiap lapisan masyarakatnya. Sedikit sekali kesadaran yang dirasakan masyarakat terkait akan pentingnya makna dari  ilmu pengetahuan. Termasuk mereka yang cenderung dianggap sudah berilmu oleh mereka yang awam, sejatinya tidak benar-benar demikian. Ada perbedaan antara ilmu dan pengetahuan, di mana pengetahuan merupakan apa saja yang kita tahu, baik yang kita baca, maupun yang kita dengar.

Namun berbeda dengan ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita miliki dan sudah mendarah daging dalam diri kita dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai kebiasaan. Selain itu, ilmu adalah pengetahuan yang kemudian kita jadikan atau dapat dijadikan sebagai alat, kacamata dan pisau. Baik untuk melihat fenomena, mengupas persoalan-persoalan, maupun dalam hal membangkitkan kesadaran orang banyak. Artinya, sebuah pengetahuan dikatakan sebagai ilmu, ketika itu dapat dimanfaatkan dan bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang banyak.
Kelihaian seorang pilot menerbangkan pesawat, disebabkan sang pilot menguasai ilmu mesin dan penerbangan. Kecakapan seorang motivator membangkitkan semangat, karena dia paham ilmu komunikasi. Kemampuan seorang penulis menghipnotis orang lain melalui tulisannya, juga disebabkan karena ilmu dan begitulah seterusnya. Kemajuan dan peradaban terjadi karena ilmu. Namun pertikaian, saling membenci dan dendam, juga terjadi karena ilmu. Ilmu yang kurang, sehingga kita mudah diperdaya dan diadudomba. Tentu akan ada orang yang mengatakan bahwa ada yang lebih tinggi derajatnya dari pada ilmu, yaitu akhlak atau adab. Premisnya adalah, ketika seseorang memiliki ilmu, namun jika ia tidak memiliki akhlak, maka seseorang itu sama sekali tidak berharga. Pernyataan ini tentu sangat benar. Namun hakikatnya adalah, seseorang yang “benar-benar” berilmu, tentu akan berakhlak pula. Kembali pada makna ilmu di paragraf sebelumnya. Sehingga pantaslah rasanya jika ilmu itu harus mahal. Mengingat betapa pentingnya peran ilmu dalam kehidupan.
Minimnya kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan yang mewabah dalam budaya kita, kini mengundang perhatian pihak-pihak yang kesadaran melek ilmunya tinggi, yang melihat literasi membaca dan menulis negeri kita yang begitu ironis. Sebut saja seperti majalah “Anak Cerdas”, yang merupakan media pembangkit semangat siapa saja yang membacanya. Terutama anak-anak yang menjadi subjek dan objek majalah ini. Ini adalah satu-satunya majalah anak di Aceh, bahkan di Sumatra. Majalah ini terbit rutin sejak 2012 hingga 22 edisi dalam versi cetaknya. Edisi ke-23 akan segera menyusul, namun sudah tersedia dalam edisi online. Penting sekali majalah ini terbit dalam edisi cetak, karena  akses internet tidak relevan dengan dunia anak. Anak-anak seharusnya tidak dibenarkan mendapatkan “hak milik” dari orang tuanya untuk memiliki satu gadget untuk mengakses internet misalnya. Selain karena radiasi, gambar-gambar dalam dunia maya yang sering tidak senonoh jika dilihat anak, dan dampak buruk lainnya. Anak menjadi malas bergaul di luar rumah, terbentuk menjadi pribadi yang indivualis dan sebagainya. Sehingga budaya awal kita mulai bergeser akibat pengenalan kecanggihan teknologi yang salah pada anak-anak kita. Pengenalan kecanggihan teknologi terhadap anak, bukanlah sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Justru harus dilakukan. Agar anak tidak gaptek alias gagap teknologi, karena kita hidup di zaman itu.
Kita tidak bisa pungkiri, selain dampak internet yang buruk, ia juga memberi banyak dampak baik bagi kehidupan kita. Seperti memudahkan setiap urusan menjadi lebih hemat waktu dan uang. Penyebaran informasi di dunia maya, sering membuat kesalahpahaman antar masyarakat pun terjadi. Padahal baik sebagai penyebar maupun penerima informasi di internet adalah orang-orang dewasa yang kurang ilmunya, sehingga informasi yang masuk ke otak, tidak melalui proses filterisasi terlebih dahulu, tidak dikritisi terlebih dahulu. Lalu bagaimana bisa kita membiarkan anak sebagai posisi penerima informasi dari dunia maya. Bagaimana bisa kita dapat mengontrolnya dengan sangat intensif. Kita tahu persis “anak” adalah manusia yang usianya masih dalam tahap perkembangan, meniru dan labil. Sehingga sangat baik jika membiasakan mereka akrab dengan buku-buku dan majalah yang mendukung keaktifan mereka berkarya, daripada membiarkan mereka akrab dengan gadget dan dunia maya.
Seperti yang dikatakan pada paragraf tiga di atas, majalah “Anak Cerdas” bukan hanya media pendukung kecerdasan anak untuk mengenal banyak pengetahuan dan berimajinasi, namun juga menjadi wadah tempat anak untuk belajar menjadi produktif. Anak juga dapat berlatih menulis dan mengirimkan tulisannya di majalah “Anak Cerdas”. Hal ini agar anak termotivasi untuk terus senang menulis. Melatih anak untuk berbagi melalui tulisannya. Menulis mungkin masih menjadi sebuah kegiatan yang buang-buang waktu dalam kebanyakan perspektif kita. Padahal menulis sejatinya bukan sekedar sebuah tulisan yang berisikan kata-kata dan kalimat-kalimat. Namun lebih dari itu, tulisan adalah “senjata”, tulisan adalah “perisai”. Menulis adalah kekuatan. Stephen King mengatakan “menulis itu adalah upaya menciptakan. Dan dalam prosesnya, kita tidak hanya mengerahkan pengetahuan, daya dan kemampuan saja. Namun seluruh jiwa, nafas hidup kita”. Dilanjutkan dengan perkataan Imam Al-Ghazali. Dikatakan bahwa “jika engkau bukan anak seorang raja, bukan juga anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Dan bagi seorang penulis, membaca adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, kata Stephen King.
Dengan budaya literasi kita yang masih sangat menyedihkan dan mewabah, bukankah hal yang sulit untuk dipikirkan adalah jika harus memulai membangun kesadaran itu dari dasar sekali. Namun tidak bagi majalah “Anak Cerdas” yang terus konsisten mengupayakan, membangun kecerdasan yang ditujukan untuk kecerdasan anak-anak kita. Sehingga pantas untuk terus didukung eksistensinya. Kenapa harus anak-anak? Karena mereka adalah benih. Mereka adalah generasi penerus bangsa. Seperti kata Soekarno “ beri aku 10 pemuda seperti kau Sutan Syahrir, maka akan kuguncangkan  dunia”. Mengapa dalam penggalan kalimatnya itu, Soekarno menyelipkan nama Sutan Syahrir? Tentu itu memberi kita pemahaman bahwa, untuk mengguncangkan dunia, kita perlu pemuda-pemuda yang cerdas, aktif, kreatif, produktif, dan kritis. Nah, pemuda seperti itu berasal dari anak-anak yang dibentuk agar menjadi seperti itu. Tidak pemuda yang hanya mau berpangku tangan, yang hanya semangat kalau unjuk gigi saat selfie, senang ikut-ikutan tanpa paham, pemuda yang apatis, malas membaca apalagi menulis, dan sebagainya dan sebagainya.





Click to comment