5 Bom Pemborbardir Pahala Ibadah

advertise here



Oleh
Hendra Gunawan, MA
Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan, Sumatera Utara

Pahala adalah tabungan di akhirat dan merupakan tanda kemuliaan, maka buat orang-orang yang pahalanya lebih dominan daripada dosanya akan dimuliakan dengan penyerahan buku catatan amalnya ke tangan kanannya. Sebaliknya, orang-orang yang kwantitas dosanya lebih dominan daripada pahalanya akan dihinakan dengan pemberian catatan amalnya ke tangan kirinya.
Dunia adalah tempat memaksimalkan tabungan pahala, lewat ibadah dan berbuat kebaikan yang kemudian mengahsilkan pahala. Layaknya, tabungan maka terkadang bisa bertambah dan sebaliknya bisa berkurang, tidak selamanya awet dan berkembang. Sebab, betapa banyak saldo yang tersimpan, namun bisa menjadi nihil seketika. Mengenai pentingnya pahala,  dalam sejarah disebutkan bahwa para sahabat sangat takut amalan mereka tidak diterima oleh Allah SWT. Mereka juga mengkhawatirkan gugur pahala amal mereka. Berbeda dengan umat zaman now, baru bersedekah 1.000,- rupiah, itupun dikarenakan terpaksa sudah merasa calon penghuni surga.
Karena memang, terkadang tanpa disadari amalan-amalan yang sudah kita kerjakan tidak mendapatkan balasan pahala apapun dan malah justru mendapatkan keburukan di sisi Allah SWT, karena melakukan maksiat yang dapat mengurangi bahkan menghapus pahala dari amal ibadah seseorang seperti :

1.   Syirik
Syirik atau menyekutukan Allah SWT, merupakan kezaliman besar dan penghinaan terhadap Allah SWT, sehingga dianggap sebagai suatu kezaliman yang besar dan perbuatan tersebut merupakan penghinaan terhadap Allah SWT. Karena telah menyamakan Allah SWT dengan makhluk ciptaan-Nya, Maka amal mereka tidak akan diterima sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-An’am ayat 88 sebagai berikut :
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:
Seandainya mereka menyekutukan Allah SWT, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” {Qs. Al-An’am/6:88}.

Termasuk juga, riya’ yaitu seseorang yang beribadah atau beramal bukan karena mengharap ridha Allah SWT melainkan hanya karena ingin mendapatkan kenikmatan duniawi semata, seperti bersedekah, shalat, puasa, naik haji dan sebagainya agar dipilih atau dipuji orang lain alias pamer. Bahkan sebagian ulama, mengategorikan beramal dengan riya’ merupakan syirik kecil, sehingga amalan semacam ini semua akan sia-sia sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam surah Huud ayat 15 dan 16 sebagai berikut :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” {Qs. Huud/11: 15-16}

Menurut para mufassir, ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang suka berbuat riya’ (pamer) akan didatangkan kepada mereka kebaikan di dunia, bahkan mereka tidak didhalimi sedikit pun. Mau dipuji ia akan dipuji atau mau dipilih ia akan dipilih. Namun di akhirat mereka akan merugi karena tidak mendapat pahala sedikit pun dari ibadah riya’ mereka tersebut. Untuk itu, buat umat Islam biarlah ibadah sedikit asalkan ikhlas mengharap ridha Allah SWT dari pada banyak tapi karena riya’ (pamer). Maka seyogianya, lebih baik bersedekah banyak karena mengharap ridha Allah SWT daripada sudah sedikit ,itupun gak ikhlas. Yang paling bahayanya lagi seorang menyumbang miliyaran rupiah untuk membangun masjid biasa-biasa saja, tiba-tiba seseorang yang menyumbangkan satu jutaan tiba-tiba merasa pemilik masjid tersebut.
Qatadah mengemukakan: “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan, niat dan kejarannya, maka Allah akan memberi balasan dunia atas kebaikannya yang telah ia lakukan. Sehingga ketika menuju alam akhirat kelak, tidak ada lagi kebaikan baginya yang dapat diberikan sebagai balasan. Seperti orang yang berhaji, hanya untuk dipanggil Pak haji, maka begitu pulang akan dipanggil orang Pak haji. Namun ia termasuk orang yang merugi, sebab sudah menghabiskan uang puluhan juta dan menghabiskan waktu penantian yang begitu panjang untuk bisa berangkat haji. Lantas hanya ingin dikatakan pak haji supaya dihormati masyarakat.

2.   Durhaka kepada orang tua
Durhaka kepada orang tua, juga merupakan sebuah kemaksiatan yang dapat menggugurkan amal ibadah seseorang, sebagaimana dituliskan dalam kitab shahih al-jami` ash-shaghir meskipun status hadisnya hasan, namun patut menjadi pertimbangan kaum muslimin sebagai berikutr :
ثَلَاثَةٌ لَايَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَاعَدْلًا: عَاقٌّ،وَمَنَّانٌ،...
Artinya:
“Ada tiga golongan manusia yang Allah SWT tidak akan menerima dari mereka amalan wajib, dan tidak pula amalan sunnat mereka pada hari kiamat kelak; seorang yang durhaka kepada orang tuanya, seorang yang menyebut-nyebut sedekah pemberiannya,...”.

Karena memang, jasa kedua orang tua terhadap anaknya sangat besar, mulai ibu yang mengandung dan melahirkannya dengan mempertaruhkan hidup dan mati sampai kepada ayah yang menantang panas dan hujan guna mencukupi kebutuhan keluarganya. Maka tidak heran keduanya memiliki hak yang harus dipenuhi oleh sang anak, ssebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 36 “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak”.

Dalam ayat ini, memang posisi berbakti kepada orang tua mendapat posisi yang penting setelah perintah jangan syirik, maka sebagian ulama mengkategorikan perbuatan durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar. Namun, meskipun demikian masih banyak orang yang melupakan tuntunan agama yang suci ini, bahkan sanggup memutuskan hubungan dengan keduanya. Padahal mengatakan ah atau semacamnya dilarang, apalagi memutuskan hubungan dengan ayah dan ibu terkadang karena isteri dan dikarenakan yang lainnya.



3.   Dengki
Dengki dalam bahasa Arab, disebut hasad (iri) yaitu perasaan tidak suka akan suatu nikmat yang dianugrakan Allah SWT kepada orang lain, baik itu tetangganya, temannya, dan bahkan kepada saudaranya sendiri. Namun sebaliknya, merasa senang melihat orang lain susah, yang sering disebut orang zaman now ini SMS (Susah Melihat orang Senang atau Senang Meliahat orang Susah). Perasaan seperti ini, sangat dilarang Allah SWT dalam al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 32 Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagianmu lebih banyak dari sebahagian yang lain...”. Untuk itu, dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW memperingatkan kepada umat Islam sebagai berikut :
اِياَّكُم وَالحَسَدَ فَاِنَّ الْحَسَدَ يَاْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَاْكُلُ النَّارُ الحَطَبَ (رواة ابوداود)
Artinya:
”Jauhilah darimu sifat hasad karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu-bakar.” {HR. Abu Dawud}.

Apalagi, rasa dengki itu menyerembet kepada ghibah (menggunjing atau gosip) dengan menaburkan cerita gosip agar tetangga, sahabat, ataupun saudara yang mendapat nikmat tersebut terhina dan dikucilkan. Nah apabila sudah sampai ke sini, maka bukan pahala ibadah saja yang terkikis tapi dosa pun akan semakin bertambah sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 12 “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), sebab sebagian prasangka adalah dosa; janganlah (kalian) mencari-cari keburukan orang, dan jangan (kalian) menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara engkau suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?...”.

4.   Mengungkit-ungkit amal ibadah
Termasuk mengungkit pemberian sedekah sehingga menyakiti perasaan si penerima, baik di belakangnya apalagi di depannya. Sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 264 sebagai berikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang seperti itu bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” {Qs. Al-Baqarah/2:264)

Misalnya, dengan mengatakan bukankah saya pernah membantu mu! atau aku telah memberimu sedekah maka berbuat baiklah padaku, apalagi dengan cara yang membuat si penerima tersakiti dan terhina, seperti bersedekah sambil mengejek ataupun menceritakan sedekah tersebut kepada orang lain yang membuat si penerima menjadi malu. Terlebih bersedekah dengan sombong, termasuk ucapan kalau bukan karna sedekah yang saya berikan kamu tidak akan bisa hidup!. Ingat kesombongan atau merasa dirinya paling baik ini merupakan sifat iblis. sebagaimana iblis yang amal ibadahnya sangatlah luar biasa kepada Allah SWT. Namun karena kesombongannya dilaknat oleh Allah SWT sehingga seluruh amal ibadah iblis yang sangat luar biasa tersebut terhapus oleh sifat kesombongannya tersebut dan dijuluki gelar penghuni neraka jahannam. Naudzubillah…!

5.   Suka mengklaim
Mengkalaim atau berucap atas nama Allah SWT, bahwa seseorang tidak akan diampuni dosanya, apalagi sampai menyebabkan orang lain berputus asa dari rahmat Allah SWT sehingga membuatnya tenggelam dalam kemaksiatan. Seakan-akan dia menjadi penyebab menutup pintu kebaikan dan membuka pintu keburukan. Ingatlah bahwa ampunan Allah SWT adalah merupakan hal yang ghaib, tidak seorang pun yang dapat mengetahuinya. Perbuatan semacam ini sangat dibenci Allah SWT, sehingga dapat menggurkan pahala amal ibadah pelakunya sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut :
مَنْ ذَاالَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَاأَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
Artinya:
“Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan, dan Aku menggugurkan amalmu”. {HR. Muslim}

Sekalipun, secara lahir seseorang banyak terlihat melakukan dosa dan maksiat, namun seseorang tidak dibolehkan mengklaim bahwa ia tidak akan diampuni Allah SWT, apalagi sampai bersumpah bahwa Allah SWT tidak akan mengampuninya. Sebab ampunan Allah SWT adalah otoritas Allah SWT, bisa jadi di suatu saat dia bertaubat sehingga Allah SWT mengampuninya.

Penutup
Setiap Muslim, berharap agar seluruh amalannya diterima oleh Allah SWT, namun sesungguhnya limpahan pahala hanya akan didapatkan orang-orang yang beramal dengan ikhlas dan berharap keridhoan Allah SWT, banyak amal ibadah insan manusia yang tidak dihitung sebagai ketaatan termasuk ibadah yang hanya sekedar rutinitas (kebiasaan) atau mencari pujian semata.
Maka dalam beramal ibadah, jangan hanya mementingkan kuantitas (banyaknya) amal ibadah yang dilaksanakan. Tetapi juga menjaga amal ibadah agar tidak rusak dan tidak gugur dari hal-hal yang dapat merusak pahala amal ibadah yang telah kita laksanakan. Termasuk riya’, seperti suka memposting atau menunjukkan amalan ibadahnya, saat  naik haji, saat baca al-Qur’an berfoto, dan saat berdoapun difoto lalu dipajangkan di media sosial. Syukur alhamdulillah, apabila niatnya untuk memotivasi orang lain supaya rajin beribadah namun sebagai menusia biasa dikhawatirkan niatnya berubah menjadi memamerkan ibadah.

Click to comment