KIDUNG ALAM

advertise here


Oleh Rizkina Meutuah
Mahasiswa aktif Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Unsyiah, Daurssalam, Banda Aceh


Siang itu, matahari tepat di tengah ubun-ubun. Begitu terik. Bak Kayee termenung menatap langit. Awan berarak perlahan menampakkan keeksotikan langit biru yang terbentang luas. Dedaunan yang menari tak membuyarkan lamunan Bak Kayee. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
“Apa yang kau pikirkan, Bak Kayee?” tanya Naleung. Bak Kayee tak menghiraukan pertanyaan Naleung. Tarian dedaunan tampak tak seindah biasanya, karena Bak Kayee sedang enggan bernyanyi. “Bak Kayee, ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini. Apa yang kau pikirkan?” kini giliran Angen yang bertanya. Bak Kayee tetap bergeming.
Sejurus kemudian, ia menghela napas. “Aku hanya sedang merenungi kesalahanku.” Akhirnya Bak Kayee buka suara. Naleung dan Angen tampak tak mengerti. “Kesalahan? Apa maksudmu? Kau tidak bersalah atas apapun. Kita selalu bertasbih pada Allah. Apa yang salah?” tanya  Naleung.Naleung benar. Kita ciptaan Allah yang mulia. Kesalahan apa yang kita perbuat?  Aku, Naleung, dan kau mendapat tugas yang mulia. Kita berpengaruh bagi alam. Dan itu sangat menyenangkan dan mulia.” ucap Angen sambil membelai halus Bak Kayee. “Itulah yang aku khawatirkan, Angen!” jawab Bak Kayee dengan nada gundah. Naleung dan Angen semakin bingung dengan perkataan Bak Kayee. Naleung bertanya lagi, “Aku dan Angen belum mengerti maksudmu.” Bak Kayee menjawab, “Awalnya aku pun tidak mengerti akan semua ini. Namun, seiring berjalannya waktu,  aku mulai mengerti. Biarkanlah waktu yang menjawab ketidakpahaman kalian itu.” Kemudian Bak Kayee diam dan menunduk.
            Malam tiba, Angen kembali menghampiri. Naleung yang dari tadi pagi menari sudah tak terdengar lagi suaranya. Barangkali dia kelelahan. Sementara Bak Kayee sedang memandangi rembulan. “Bak Kayee, ceritakanlah! Apa yang sedang terjadi padamu?” tanya Angen. “Sudah aku katakan, tidak ada yang perlu dijelaskan, Angen! Biarkanlah waktu yang memberi titik terang tentang semua ini. Sekarang, pergilah!” jawab Bak Kayee tegas. “Kau telah berubah, Bak Kayee. Kau sangat aneh!” Angen tampak kecewa dengan tingkah laku Bak Kayee. “Katakanlah sesuka hatimu, Angen! Karena kau tidak paham akan semua ini!” Bak Kayee berkata tanpa melirik Angen. “Ya, aku memang tidak paham. Karena kau tidak berniat membuatku paham! Terima kasih atas semua kata-katamu yang kasar itu!” kemudian Angen  pergi sambil menangis.
            Sementara Bak Kayee masih bergeming seraya melihat kepergian Angen. Hatinya teriris. ‘Kenapa aku bisa berbuat demikian? Pantaskah?’ batin Bak Kayee. Kemudian butiran bening jatuh perlahan. Kini Bak Kayee benar-benar menangis.
Di pagi hari, tak ada Angen yang biasanya setia menemani Bak Kayee dan Naleung untuk bernyanyi dan menari. “Angen!” panggil Naleung. Angen! Angen! Dimana kau? Angen!”.
“Apa yang terjadi? Mengapa Angen tak menemani kita?”
“Entahlah! Mungkin dia sedang berkelana untuk mencari teman yang lebih baik.”
“Apa maksudmu, Bak Kayee? Itu tidak mungkin. Mana mungkin Angen meninggalkan kita begitu saja?”
“Buktinya, dia tidak menemui kita hari ini. Biasanya, kau terjaga karena belaiannya yang halus. Tapi hari ini kau terjaga lantaran tidak ada yang membelaimu.”
“Tutup mulutmu, Bak Kayee! Kurasa, aku tahu apa sebabnya Angen tidak kemari. Ini karena kau!” Naleung tampak marah.
“Aku? Salahku? Apa alasanmu menyalahkanku?” Bak Kayee tak mau kalah.
Akhirnya, keduanya saling mengejek satu sama lain.
“Aku tak menyangka! Sahabatku yang paling aku sayangi bisa berkata seperti itu. Andai aku bisa pergi dari sini seperti Angen...Naleung mengakhiri pertikaian yang tidak berguna itu. “Hm, ya! Pergilah kemana kau mau.” Jawab Bak Kayee. ‘Karena itu akan baik bagimu’ batin Bak Kayee dengan nada kesedihan. ‘Andai kau mengerti, Naleung!’
            Seminggu berlalu, hari demi hari dilalui oleh Bak Kayee dengan kegelisahan dan kesendirian. Angen kini sendiri, menelusuri jalannya alam. Naleung dan Bak Kayee tak pernah lagi bercanda ria. Ah, jangankan bergurau, bicara pun tak lagi. Hanya sesekali melirik satu sama lain. Kebersamaan kini pecah menjadi kesendirian. Bak Kayee semakin galau. Apa yang ia bayangkan sedikitnya telah terjadi. Ia takut berpisah dari sahabatnya untuk selamanya. Ia terus merasa dirinya takkan lama lagi melindungi alam dan burung yang berteduh dari sengatan matahari.
Pagi itu terasa kelam bagi Bak Kayee. Naleung yang sudah tak tahan dengan perang dingin ini hendak berdamai. Begitupun dengan Angen. Ia yang sudah lama pergi, berniat untuk menemui kedua sahabatnya.
            Bak Kayee...” panggil Naleung. Bak Kayee menoleh ke arah Naleung. “Aku ingin mengakhiri perang dingin ini.” Jelas Naleung. “Aku juga, Naleung. Tetapi, perlu kau ketahui, aku sengaja melakukan ini dengan keterpaksaan.” Balas Bak Kayee. “Tapi, kenapa, Bak Kayee?” tiba-tiba terdengar bunyi langkah-langkah yang mendekat ke arah Bak Kayee. Itu serombongan Ureung. “Mereka sudah tiba.” Ujar Bak Kayee pasrah. “Ada apa, Bak Kayee? Siapa?”
“Mereka, Naleung.
“Siapa?”
“Ureung.”
“Lantas kenapa dengan Ureung?”
“Kau akan segera tahu, Naleung.” Jawab Bak Kayee tertunduk lemas.
Ureung kini benar-benar berada di hadapan Bak Kayee. Bak Kayee hanya bisa pasrah dan terus berdoa. Saat itu, datanglah Angen sambil membelai lembut Bak Kayee dan Naleung. “Maafkan aku, Bak Kayee. Aku terlalu egois.”
“Tidak, Angen! Tidak ada yang salah dalam perkara ini.”
Naleung  dan Angen saling berpandangan. “Ketahuilah! Waktu itu telah tiba. Inilah saatnya kalian paham akan apa yang membuatku termenung selama ini.” Jelas Bak Kayee. Ureung telah menyalakan mesin pemotong yang dipasangi gerigi tajam di sekelilingnya. Angen dan Naleung terlihat sedih. “Apa maksudmu? Kau tidak akan pergi, bukan?” tanya Naleung. Bak Kayee hanya tersenyum getir. Perlahan mesin itu memotong tubuh gagah Bak Kayee. “Aaaaaaaaaa!!” jerit Bak Kayee. Tubuhnya sakit, batinnya juga sakit karena harus berpisah dengan kedua sahabat yang sangat disayanginya. Naleung dan Angen menangis seraya mengutuk-ngutuk Ureung. Mereka sedih dan marah. Bak Kayee-lah yang selama ini melindungi Ureung dari banjir. Namun, Ureung seolah tak menyadarinya.
            Bak Kayee yang dulu masih sama seperti sekarang. Tetap tegar dan tidak menyalahkan siapapun. Dia juga sengaja membuat Angen dan Naleung marah, karena ia tak mau sahabatnya harus menyaksikan peristiwa ini dan turut sedih. Bak Kayee akan pergi, tapi kebaikannya akan selalu ada di hati.
            Sadis, tragis nan miris. Ureung memang semena-mena. Seketika Bak Kayee tumbang. Sebelum ia benar-benar pergi, satu kalimat yang bermakna diucapkannya, “Aku menyayangi kalian, kenanglah aku selalu...” kemudian ia pergi dengan senyum yang membekas.
Naleung dan Angen terpaku beberapa saat. Tapi, mereka ingat semangat Bak Kayee yang tak pernah surut. Mereka tidak mau terpuruk dalam kesedihan walau kini tinggal berdua. Sekarang mereka paham dengan apa yang dikatakan Bak Kayee. Sangat paham. Angen kembali berhembus. Naleung kembali menari, tetapi kali ini dengan melodi kesedihan. “Bak Kayee, meski kau tak lagi tegap berdiri, kau tetap masih bisa melindungi Ureung dengan patahan-patahan tubuhmu yang tersusun rapi. Kau bisa membuat mereka terlindungi dari debu, hujan, dan panas matahari. Meskipun mereka telah menumbangkanmu.” Kata Angen getir.
            Sepekan setelah kepergian Bak Kayee, Ureung kembali datang. “Mau apa lagi mereka?” tanya Angen marah. Naleung terperanjat saat ia melihat Ureung datang dengan membawa alat-alat berat dan mobil pengeruk. Naleung merasa ia akan segera menyusul Bak Kayee. Mobil pengeruk mulai menancapkan giginya pada tubuh Naleung yang mungil. Hatinya teriris, batinnya menangis. Untuk kedua kalinya Angen menyaksikan kepergian sahabatnya. Angen merasa kesewenang-wenangan kian merajalela.
            Ureung telah merenggut Bak Kayee dan Naleung demi menjalankan proyek pembuatan pabrik. “Katanya, Ureung itu punya hati dan pikiran. Tapi nyatanya tidak. Mereka tidak mempedulikan apa pengaruhnya bagi alam ini.” Angen terisak.
            Tanah yang indah tempat Bak Kayee dan Naleung hidup telah dipenuhi berton-ton batu dan semen. “Apa untungnya kalian merusak alam tanpa perhitungan hanya untuk membuat itu, wahai Ureung?Angen tak dapat membendung rasa sesak di dada. Dia terlanjur dendam pada Ureung. “Ya Allah, aku tidak rela bumi ini rusak hanya dengan hitungan hari. Ureung merasa seolah alam miliknya. Izinkanku memusnahkan mereka, Ya Allah...” pinta Angen. Allah Yang Maha Adil mengabulkan permintaan Angen.
Dalam kurun waktu dua hari,  Angen yang lembut berubah menjadi sosok yang ganas. Kemarahannya meluap-luap. Ia menghancurkan semua yang ada. Pabrik yang siap dibangun, kini ada dalam pusarannya. Ureung beterbangan dan berlarian mencari perlindungan. “Rasakan akibatnya, Ureung! Bukankah ini yang kalian inginkan?” tawa Angen menggelegar. Dendamnya telah terbalaskan.


                                                     

Click to comment