Rumah

advertise here



By Lina Zulaini
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Unsyiah

Setelah hari itu
Aku masih memandang langit yang sama
Masih menghirup udara yang sama
Dengan perasaan yang berbeda

Ibu, setelah langkah ini beranjak
Masihkah kau menumbuk ebi yang sama?
Masihkah kau mangaduk kopi pagi pahit yang itu?
Masihkah kau meniris pisang goreng favoritku?
Dan masihkah kau menanti kehadiran raga ini?
Katakana ibu, katakan jika kau menunggu rembulanmu

Rumah itu
Masihkah ia mengharap tawaku?
Masihkah ia mengiba sukma gulana ini?
Dan masihkah ia camar akan tiba raga ini?
Katakana ibu, katakana kalau ia masih merinduku

Setelah hari itu
Aku masih memandang warna laut yang sama
Dengan keluh yang berbeda

Ayah, masihkah kau menjala mujair yang sama?
Masihkah kau mengembala domba putih kesayanganku itu?
Katakan ayah, katakan jika kau menanti fajarmu

Di sini, di tanah yang terasa asing
Aku melihat udang kering yang berbeda
Ikan berbeda, bahkan cara menyaji yang berbeda
Di sini, di musim semi yang entah ke berapa
Aku masih merajut jalanku

Ibu, rumah di sini terasa sangat berbeda
Terasa dingin tanpa senyummu
Ayah, domba di sini tak secantik dombaku itu
Semua terasa asing, bahkan sangat asing bagiku

Rantauku, adalah jalan menuju kepulanganku
Aku merindu rumah itu
Rumah yang selalu mencita akan hadirnya raga ini

Click to comment