Najla: Gadis Kecil Penyandang Cerebral Palsy

advertise here
Bersyukur atas setiap takdir adalah pilihan terbaik dalam hidup, itu yang dilakuakan Bakri dan istrinya Tina, manakala tuhan menganugerahi anak perempuan lucu bernama Najla. Meski sudah beruia 7 tahun, Najla selalu terlihat dalam gendongan ibunya, ia belum mampu berjalan sendiri. Pun ia tidak bisa bermain layaknya anak lain yang seusia.

Pihak medis menyebutkan Najla menderita cerebral palsy, suatu kelainan pada gerakan dan postur tubuh yang tidak agresif akibat cedera pada susunan saraf pusat. Akibat defisit motorik sentral, Najla menjadi tidak progresif sehingga melahirkan kondisi retardasi mental berat, sebuah kondisi dimana rendahnya kecerdasan dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Pun demikian, gadis kecil bernama lengkap Najla Wafiyyah, tetap menjadi karunia tuhan terindah yang selalu dijaga dan disyukuri keluarga Bakri.

Najla tinggal di sebuah rumah berukuran kecil dengan dinding papan, berlantai semen yang kasar. "Ini pun rumah pemberian orang tua kami," ungkap Tina. Najla menunjukkan perilaku yang berbeda sejak berusia 18 bulan. "Itu juga setelah Najla drop dan harus rawat inap di rumah sakit selama 40 hari berturut-turut.

Sejak saat itu, orang tua Najla rutin membawanya ke rumah sakit guna melakukan i'isrotcrapi anak. Jadwalnya pun sudah menentu, dua kali dalam seminggu, setiap Selasa dan Kamis di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSlA) Banda Aceh. Tidak hanya itu, mereka juga harus ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin sekali dalam sebulan untuk melakukan kontrol saraf dan mengambil obat rutin. 

Sebagai manusia biasa, tentu keluarga ini juga pernah mencapai titik jenuh dan pesimis dengan keadaan sehingga berencana untuk mengehentikan segala pengobatan. namun keberadaan orang-orang terkasih di sekelilingnya yang selalu memberi motivasi, semangat untuk kesembuhan Najla kembali hadir. Menurut ibunya, suatu ketika Najla pernah ditawarkan untuk didaftarkan ke sekolah luar biasa di tingkat dasar mengingat umurnya sudah bisa untuk masuk sekolah, namun karena keterbatasan fisik yang lemas, Najla belum mampu berjalan secara mandiri, maka ibunya mengurungkan niat. Harapannya, suatu ketika, kala Najla bisa berjalan mandiri atau memiliki alat bantu untuk berjalan, ia akan didaftarkan untuk mengikuti pendidikan formal. 

Seiring bertambahnya usia yang diikuti bertambah pula bobot tubuh, Tentu sang Ibu merasa “lelah” jika harus selalu menggendong Najla saban waktu. Karena itu, salah satu impian keluarga Tina adalah mendapatkan sebuah kursi roda yang bisa digunakan untuk mobilitas Najla sehari-hari. Bagi keluarga yang hanya memperoleh pendapatan rata-rata 1 juta rupiah per bulan, kursi roda menjadi barang mewah untuk dimiliki secara mandiri, terlebih keluarga itu juga menanggung empat saudara kandung Najla yang lagi dalam masa pendidikan. 

Kami akan sangat berbahagia jika Najla bisa menjadi salah satu anak yang mendapatkan kursi roda dari pihak CCDE / Majalah Potret. Harapannya, itu bisa menjadi motivasi bagi sang ibu untuk tetap optimis bahwa Najla akan bisa berjalan normal layaknya anak lain seusianya. Untuk saat ini, kursi roda menjadi salah satu cara menghadirkan kembali senyum di bibir Tina, juga cara merawat semangat keluarga ini untuk kesembuhan Najla. Semoga.

Click to comment