Indahnya Pemandangan Alam di Desaku

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh: Natasya Ulya
Siswi Kelas 8-2 SMPN 7 Satap Bandar Baru, Pidie Jaya


Matahari mulai memancarkan cahayanya di ufuk timur, kicauan burung-burungpun menghiasi indahnya pagi. Angin menyapa lembut kulitku ketika kubuka jendela kamarku. Aku menggunakan baju kaos lengan panjang dan dilengkapi celana olah raga sekolahku yang bertuliskan SMP Negeri 7 Satap Bandar Baru. Sekarang hari sudah mulai terang, sehingga aku terburu-buru mengambil sepedaku dan mengayuhnya menuju rumah temanku Mira. Aku dan Mira tinggal di desa Ara kemukiman Musa kecamatan Bandar Baru kabupaten Pidie Jaya. Jarak rumah Mira dengan rumahku tidak terlalu jauh, hanya 500 meter saja sudah sampai. Aku dan Mira sudah janjian kemarin waktu pulang sekolah bahwa hari Minggu pagi kami ingin jalan-jalan sambil menghirup udara segar dan menikmati indahnya pemandangan alam yang ada di desa kami.
Aku sudah sampai di rumahnya Mira dan ternyata dia juga sudah siap dengan baju olah raganya. Kami pun langsung mengayuh sepeda kami melewati jalan aspal yang di sampingnya ada sungai yang terhubung ke sungai Lueng Putu. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi di pinggir jalan yang kami lalui dan yang paling menyejukkan mata ketika perjalanan kami tiba di sawah-sawah penduduk. waah ! sungguh begitu indah, apalagi ketika angin berhembus, daun padi seolah-olah ikut melambai-lambai tangannya ke arah kami.
Desaku memang tidak jauh dari jalan raya tetapi sangat dekat dengan sawah dan sungai. Aku sering menjadikan sawah itu sebagai objek mengarangku kalau ada tugas mengarang yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolahku. Selain menyejukkan mata, sawah bisa membuatku lebih leluasa dan berimajinasi dalam mencipta baik itu mengarang ataupun dalam membuat puisi. 
Aku dan Mira berjalan di pematang sawah yang di sampingnya ada parit kecil yang dialiri air. Parit itu digunakan untuk menaikkan air ke dalam petak sawah masing-masing petani. Lalu, kulihat ada seorang laki-laki yang berjalan di pematang sawah. Laki-laki itu memakai topi kerucut dan kemudian membungkuk sangat lama . Mungkin laki-laki itu sedang melihat keadaan padinya. Setelah puas menikmati kesegaran dan keindahan sawah yang ada di desa kami, aku dan Mira berangkat pulang dengan hati yang senang.
Hamparan sawah yang indah itu hanya bisa kita temui di desa. Bahkan kalau di kota, pemandangan seperti itu sudah tidak ada. Itulah gambaran singkat tentang 

Click to comment