Sahabat Pena

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Chindy Bulan Chintanur
Pelajar SMP Negeri 3 Ingin Jaya, Aceh Besar

Malam yang sunyi. Hanya suara jengkrik dan dentang jarum jam yang terdengar. Waktu sudah menunjukan pukul 00.00, aku masih terbangun dan masih ditemani sehuah telepon genggam. Bukan tanpa alasan aku berbuat seperti itu, aku ingin bisa berkomunikasi dengan sahabat. Ya, hanya dengan cara itu saat ini yang bisa dikakukan dengan mudah untuk berkomunikasi dengan sahabat yang dulu pernah menjadi sahabat pena, yang aku hubungi dengan sepucuk surat. Kini aku bisa saling bicara dan juga bisa saling menatap.

Waktu terus berjalan. Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, aku dan empat sahabat penaku belum juga bisa bertemu di dunia nyata, kecuali di dunia maya. Ingin sekali bisa bertemu langsung, bisa saling berbicara, tertawa dan bergurau bersama secara langsung. Kini hanya via whatsapp kami bisa bercerita. 

Harapanku yang selalu aku sebutkan di sepertiga malam itu, aku ingin bertemu dengan mereka. Aku terus bertanya dan bertanya, kapankah aku bisa bertemu dengan mereka. Kapan? Kapan? Pertanyaan ini terus mengawang-ngawang di pikiran. Ya, karena sudah sangat lama, sudah bertahun-tahun rasa rindu itu menyelimuti hati. Waktu yang lama dalam melawan kerasnya dunia. Aku tahu, sebenarnya mereka bukanlah orang yang terkenal. Namun di mataku mereka sangat hebat. Mereka dapat mengerti sifat dan sikapku yang terkadang tidak jelas, egois dan selalu saja ingin menang sendiri.

Empat orang hebat yang menjadi sahabatku itu adalah Halisa, Dwita, Alya dan Tira. Mereka adalah orang-orang selalu setia menemaniku. Mereka mau mendengar cerita dan bahkan celoteh-celotehku yang terkadang tidak ada manfaatnya dan tak nyambung. Namun, mereka masih tetap setia denganku. Tidak hanya dari berasal dari daerah yang berbeda, kami juga dari agama yang berbeda. Dwita, teman yang beragama Kristen dan kami dari kalangan yang beragama Islam. Namun perbedaan itu tidak membuat dan menghalangi perahabatan kami. Prinsip kami adalah perbedaaan bukanlah penghalang, seperti yang selama ini sering kita saksikan di televisi (TV), dimana banyak orang yang tidak mau menerima perbedaan. Kita merasa sedih ketika terjadi pertikaian hanya karena berbeda pendapat, baik seagama, maupun berbeda agama. Mereka hidup dalam permusuhan. Maka, aku pun berpikir, apakah aku dan Dwita harus begitu? Jelas, aku tidak ingin begitu, aku ingin bertemu dengan Dwita dalam keadaan aman dan tentram.

Rasa ingin berjumpa semakin lama semakin membuncah. Ingin sekali rasanya memeluk mereka. Ingin rasnya menyndarkan bahu di pundak mereka kala aku sedang sedih dan menangis. Itu semua sudah tidak mungkin. Aku hanya bisa berharap dan berharap. Mungkin hanya bait-bait puisi ini, yang aku gubah untuk mengenang mereka

Sahabat pena
Dear kawan
Meski wajah tak bisa bertemu
Mata tak bisa bertatap
Dan tangan tak bisa berjabatan
Namun nama kalianlah
Salah satu doa yang kumohonkan
Di pertiga malam

Jarak bukanlah halangan
Sayangku tetap mengalir
Seperti air terjun

Perbedaan bukanlah penghalang
Inilah yang selama ini kutetapkan
Kala rasa ingin bertemu datang
Andaikan kita dekat, ya andaikan

Semoga kita berempat bisa kembali bertemu, merangkai ras bahagia dalam perbedaan yang memiliki rasa kebersamaan. I love you all.

Click to comment