UNTAIAN HARAPAN MEREKA

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Zakia Olivia
Berdomisili di Surabaya

Tidak ada yang menarik dariku. Jika kalian bertanya bagaimana rupaku, aku akan memilih skala sedang untuk menjawabnya, atau bagaimana keadaan relasiku dengan orang lain. Sebaris kalimat di awal paragraf ini telah menjawabnya. Tidak ada yang menarik dariku. 

Banyak orang berkata, jika hidup itu rumit. Kurasa itu tidak sepenuhnya salah. Karena dengan anggapan seperti itu, aku bisa menemukan apa yang akhirnya pantas untuk dikatakan ‘menarik’.

Ya. Kisah hidupku dengan adik tercintaku Sina. Nama kami cukup serasi, Sanna dan Sina.

“Sinaaa lihat telurnya, hati-hati gosong ya!” Aku berlari ke arah dapur, memastikan bahwa Sina telah dengan baik menggoreng telur mata sapi untuk bekalnya.

“Kak Sanna bawa bekal tidak? Sina gorengkan juga ya?” Aku tersenyum lebar lalu mengangguk antusias, itu membuat Sina mau tak mau juga ikut tersenyum melihat tingkahku yang berlebihan.

Terkadang di beberapa situasi, Sina bisa menjadi lebih dewasa dibandingkan denganku. Enggan membuang waktu, aku bergegas menuju ke depan rumah untuk mengangkat kaus kaki Sina yang telah kering dari jemuran, lalu membawa kaus kaki itu untuk diletakkan samping tas dan sepatu Sina yang telah siap. Tidak butuh waktu yang lama, Sina menghampiriku dan membawa bekal miliknya untuk dimasukkan ke dalam tas.

“Bekal kakak sudah Sina masukkan ke dalam tas kak.” Aku mengangguk. Bibirku spontan tersenyum melihat kemandirian adikku ini, walaupun masih duduk di bangku kelas 1 SD, Sina telah beranjak dewasa melebihi anak seumurannya. Kondisi keluarga kami lah yang membuat Sina bertabiat dewasa seperti ini, namun aku bersyukur, karena dengan begitu, Sina akan lebih siap lagi menghadapi masa depan yang mungkin akan lebih kejam dari masa sekarang.

Setelah tuntas memakai sepatunya, Sina meraih tanganku dan menciumnya. “Sina berangkat dulu ya kak, Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam, hati-hati ya…” kulihat Sina mengangguk dengan senyum cerah di bibirnya seraya berjalan menjauh dariku. Aku sendiri sudah siap untuk berangkat. Setelah memastikan rumah terkunci dan tertutup rapat, aku baru bisa lega untuk meneruskan langkahku ke sekolah. Itu semua bukan tanpa alasan, jika aku tidak melakukan hal itu, dapat kupastikan maling akan masuk dan mengambil beberapa benda berharga yang bahkan hanya sedikit kami miliki. Jika memang maling itu berhasil masuk dengan membobol kunci rumah, kuharap ia akan merasa iba dan tidak berniat merampas semua harta benda milik kami. Aku yakin begitu setelah ia melihat betapa sedikitnya perabotan yang mengisi rumah kami.

Aku menghela nafasku di dinginnya udara pagi ini. Jarak sekolah dengan rumahku terbilang cukup dekat, dengan itu aku memutuskan untuk berjalan kaki ke sekolah, baik berangkat maupun pulang. Hal melelahkan itu aku dan Sina lakukan, walaupun meletihkan namun sedikit membantu. Uang hidup kami pun tidak harus berkurang hanya untuk ongkos pulang pergi sekolah. Aku tahu, kalian telah menyimpulkan sendiri bagaimana keadaan ekonomi keluargaku, dengan senang hati kuiijinkan kalian mengambil semua kemungkinan yang terjadi pada diriku. Yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kalian belajar banyak hal yang bahkan mungkin belum pernah kalian alami sebelumnya.

Aku terus berjalan, melewati beberapa penjual yang telah siap dengan barang dagangan mereka. Meskipun banyak sekali makanan yang dijual di sisi kanan dan kiri jalan yang kulewati, aku harus menahan dulu rasa rasa ingin mencicipi beberapa jajanan itu. Aku yakin uang saku milikku tidak akan bertoleransi untuk hal seperti ini. Hatiku teriris saat bayangan Sina seketika terlintas di benakku, Sina yang hanya bisa menelan ludah saat melihat beberapa makanan yang belum pernah ia cicipi, itu membuatku ingin menangis.

Aku tidak mau Sina tersiksa seperti itu, karena pada umumnya, aku melihat anak seumuran Sina yang ke sana ke sini dengan riangnya menenteng jajanan mereka. Wajah mereka seolah memperlihatkan jika mereka memang belum sepantasnya memiliki masalah yang harus mereka pikul. Sungguh, tidak ada hal yang lebih menyesakkan selain memikirkan bagaimana Sina harus dipaksa dewasa seperti itu karena kondisi. Ah, lain waktu aku akan membelikan beberapa kue pasar itu untuk Sina.

Kulihat sekali lagi pada langit di atasku. Cuaca hari ini mendung, membuat langit mewarnai gelap dirinya sendiri, cukup suram untuk mengiringi langkah pagiku ini. Tidak ada alasan untuk itu, aku tetap harus belajar lebih keras lagi, karena aku cukup tahu, jika masa depan di mataku adalah hal buram yang saat ini terasa mengerikan. Siap atau tidak, aku harus menerima jika kelak aku akan kalah pada harapanku sendiri. Namun waktu tetaplah waktu, ia akan terus berputar dengan manusia yang berusaha keras di baliknya.

Begitu juga denganku. Berjuang melawan arus kehidupan yang kian hari kian sulit diterjang. Beruntung, masih banyak saudara yang peduli padaku dan Sina. Setidaknya aku tidak benar-benar sendiri menghadapi semua kesulitan ini. Biaya sekolah untukku tidak perlu lagi pusing-pusing kupikirkan. Beasiswaku di SMA inilah yang meringankan itu semua, sedangkan adikku bersekolah di sekolahan pemerintah yang tentu saja gratis. Beruntung Sina adalah gadis yang cerdas di sekolahnya, jika mampu, kuharap Sina bisa mendapatkan beasiswanya sepertiku. Dengan itu Sina dapat melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang tertinggi, karena jika tidak, aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada kami. Nah, seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku harus selalu berusaha lebih keras agar dunia mau membentangkan jalannya untukku. Aku tahu Tuhan cukup adil untuk itu.

“Kamu sudah mengerjakan tugas membuat cerpen?” aku meletakkan tas ke kursi dan menolehkan kepalaku ke arah Wanda, gadis cantik berhati lembut yang selama ini berkawan dekat denganku.

Dia lah penyemangat di saat aku berada di titik paling rendah hidup ini. Wanda dengan keceriaannya selalu mampu mengimbangi sifatku yang terkadang pesimis menghadapi sesuatu. Dia terus mendorongku agar aku berani melawan rasa rendah diri yang terkadang menghambat kemajuanku dalam hal tertentu. Wanda melakukan semua itu dengan keyakinan yang dimilikinya, hingga keyakinan milik Wanda pun juga kupegang teguh hingga saat ini. Di mata Wanda, semua orang berhak mengungkapkan seperti apa dirinya kepada dunia, tidak melulu dunia yang menuntut seperti apa kita untuknya. Kalimat mudahnya, ‘kau harus berani tampil untuk menjadi dirimu sendiri.’

“Sudah, kamu tidak harus membacanya kan da?” Wanda berjalan mendekat ke arahku dengan senyuman lebarnya.

Wanda mengulurkan tangannya padaku. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Wanda, maka dari itu aku hanya diam menatapnya, dan mungkin tatapanku juga terlihat menyebalkan sampai Wanda harus mendengus sebegitu kerasnya. 

“Mana cerpenmuuu!” aku menutup kedua telingaku saat Wanda berteriak nyaring.

“Sudah berapa kali aku bilang jangan berteri--” Wanda meraih tasku segera setelah memotong ucapanku.

Melihat itu aku hanya bisa menghela nafas. Dia memang tipe orang yang akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Setelah buku bahasa Indonesiaku berada di tangannya, Wanda beranjak duduk dan menyamankan dirinya sebelum membaca cerpen buatan tanganku itu. Kuamati ekspresi wajah Wanda yang tenang di awal, namun seiring bergulirnya waktu, perubahan demi perubahan dari air muka Wanda kian bervariasi. Itu sedikit membuatku khawatir, pasalnya aku tidak sempat menyaring kata demi kata yang keluar dari otakku. Intinya saat aku menulis, semua kalimat itu mengalir begitu saja. Mungkin hal itu terjadi karena aku menuangkan semua emosiku di sana. Semua kisah yang entah kenapa membuat tanganku ingin bergerak di sana. Di atas kertas putih yang akan menjadi saksi bisu semua pahit manisnya hidup seseorang, sepertiku.

Aku tertegun saat Wanda meletakkan buku tulisku ke atas meja dengan cukup keras. Dia terdiam sejenak sembari memandangi buku tulisku, kepalanya pun sedikit tertunduk. Hal seperti ini cukup membuatku berbicara untuk memverifikasi sesuatu, “uhm, kupikir aku tidak ingat bahwa aku telah menuliskan kalimat imperatif untuk diam dan merenung setelah membacanya.”

Kulihat Wanda tersenyum simpul, namun itu bukanlah hal yang bagus sejak ada air yang menetes di wajahnya. 

“Wanda?” Wanda mendongak, di saat itu juga aku dapat melihat dengan jelas wajah cantiknya yang telah basah oleh air mata. Aku bahkan tidak tahu jika tulisanku bisa menimbulkan efek air mata bercucuran. Maaf aku bergurau.

“Kamu memang pandai dalam mengolah kata-kata, terlebih, ini adalah apa yang telah kamu alami.” Wanda menggenggam erat kedua tanganku, mata berkacanya tak pernah lepas dari mataku.

Aku menghembuskan nafasku dengan berat sebelum akhirnya membalas tatapan Wanda, menyampaikan lewat tatapan ini jika aku baik-baik saja. Ia tidak perlu lagi memberikan air matanya hanya karena mengasihaniku seperti ini, karena bagaimanapun, aku perlu Wanda untuk memberikan spirit padaku, terus memotivasiku dengan semangat menggeloranya. Bukan untuk terpuruk bersama dalam kesedihan yang bahkan anak seusiaku tidak lazim mengalaminya.

“Wanda, kuharap kamu masih ingat apa yang pernah kukatakan padamu. Aku tidak pernah mau dikasihani orang lain, mengerti?” Wanda menarik tangannya dariku dan menyeka air di pelupuk matanya, ia mengangguk pelan dan tersenyum padaku.

“Maafkan aku ya Sanna, tapi terkadang aku merasa sangat sedih karena melihat teman baik ku harus mengalami hal seperti ini. Aku bahkan tidak tahu harus membantu dengan apa saat kamu menolak uang yang papa dan mama berikan padamu.” Aku tersenyum melihat Wanda yang terisak kecil, mungkin ini adalah yang pertama kalinya aku melihat Wanda menangis lagi, dulu, Wanda menangis lama sekali saat pertama kali tahu bagaimana lika liku kehidupan ku, tapi aku memakluminya karena Wanda pasti sangatlah sedih melihat bagaimana aku yang harus berjuang untuk hidup, sedangkan ia hanya tinggal berucap apa yang ingin ia dapatkan pada mama dan papanya, bahkan tanpa harus berusaha keras untuk mendapatkannya.

Aku pun menasehati Wanda dengan banyak hal, perlahan ia bisa mengerti dengan apa yang ku sampaikan, hingga dengan kemauannya sendiri Wanda akhirnya berhenti untuk tidak merepotkan orang tuanya dan menabung untuk membeli sendiri apa yang diinginkannya.

Aku sangat bersyukur Wanda bisa menjadi pribadi yang lebih positif berkat bergaul denganku, terlalu percaya diri memang, tapi itu kenyataannya.

Kriiing…

Bel tanda masuk berdering, teman sekelasku mulai tergeda-gesa menuju bangku miliknya sendiri.

“Assalamualaikum…” aku melongokkan kepala ke dalam rumah dan menemukan Sina yang tengah tertidur di sofa ruang tamu, pasti dia menunggu kepulanganku.

Aku mendekati Sina yang terlihat tidak nyaman itu lalu menggendongnya ke kamar tidur. Setelah membaringkan Sina dengan nyaman, aku pergi ke dapur untuk meletakkan jajanan pasar yang kubawa tadi.

Entah sebuah kebetulan atau memang Wanda mengerti dengan baik tentang diriku, ia mengajakku untuk menemaninya membeli bumbu dapur pesanan mamanya di pasar. Entah apa yang kutampakkan di wajahku, Wanda dengan gembiranya menyerahkan 3 kantung plastik penuh jajanan tradisional pasar yang tadi pagi hanya bisa kulihat tanpa sanggup kubeli sepotong pun.
Aku mengucapkan beribu terima kasih pada Wanda. Aku bisa membayangkan kedua mata Sina yang berbinar saat melihat apa yang kubawa ini. Setidaknya aku bisa sekali saja membuat Sina tersenyum seperti anak-anak lainnya.

“kakak kok pulangnya sore?” Sina mengusap matanya sebelum akhirnya menatapku tegas dengan mata bulatnya. Sina adalah gadis kecil yang cantik dan manis dengan lesung pipinya yang dalam itu, matanya bulat besar dengan iris mata berwarna coklat terang, ditambah lagi kulit kuning cerahnya yang menawan. Membuat siapapun pasti langsung jatuh hati dalam sekali lihat, Sina memang persis sekali dengan Ibu.

Mengingat ibu, aku jadi rindu sekali dengannya. Kuharap Sina tidak terlalu rumit memikirkan hal tentang ibu, karena aku yakin bahwa ibu baik-baik saja di sana. Begitu juga dengan ayah.

“Maaf ya dek, tadi kakak pergi sebentar sama kak Wanda.” Sina mengerjapkan matanya dan mengangguk, ia menghampiriku lalu memelukku erat sekali.

“Lain kali ajak Sina ya kak, Sina takut sendirian.” Aku membalas pelukan Sina sama eratnya. Rasa bersalah tiba-tiba memelukku juga, aku memang tidak pernah meninggalkan Sina, kalau pun iya, aku akan membawa Sina bersamaku sehingga ia tidak akan ketakutan seperti ini di rumah.

“Oh iya dek, kak Wanda tadi beli kue pasar banyaak banget. Katanya itu hadiah buat Sina loh!”

Sina mengedip. “hadiah untuk apa kak?”

Aku terdiam. Benar, Sina selalu menanyakan suatu hal dengan alasannya, tiba-tiba terbayang tingkah Sina yang tidak pernah membantah apa yang aku ucapkan. “Kak Wanda bilang, itu hadiah buat kamu yang baik, cantik, pintar, sopan dan penurut.” Sina tersenyum dengan manisnya, lalu memakan kue putu yang ku sodorkan padanya.

Melihat semua ini, sempat terpikir di benakku jika kami pasti akan baik-baik saja. Kami bisa melawan kasarnya dunia. Kami yakin bahwa kami akan selalu bisa.

Terlepas dari ini semua, aku harap bahwa ke depannya Sina akan mampu untuk melangkah tanpa diriku. Menjadi gadis dewasa yang ia mau dan terbebas dari kekang tali dunia yang selalu mengikatnya, seperti sekarang ini.

Kuharap ia bisa hidup senang sehingga tidak perlu lagi menahan lapar karena tidak bisa makan. Kuharap tawanya hari ini bisa tumbuh menjadi tawa cantik seorang wanita yang tidak pernah merasakan apa itu rasa putus asa. Putus asa karena tak pernah mengecap hangatnya sebuah keluarga.

Ibu dan Ayah telah lama menetap di sana, di tempat yang jauh dari jangkauan tanganku, meskipun terkadang aku merindukan mereka. Hanya doaku lah yang bisa memeluk hangat mereka di sana. Sina, tolong tumbuh dengan baik walau tanpaku suatu saat nanti.

“Kakak? Jangan nangis kak, maafin Sina.” Tidak, kakak yang harusnya meminta maaf seperti itu, ucapku pedih di dalam hati.

Aku memeluk erat tubuh kecil Sina, membiarkan air mataku terus meluncur di pundak kecilnya, pundak yang telah banyak menanggung beban di usia mudanya.

Tuhan, kuharap kau mendengarkanku.

Click to comment