Suara Sampah Memekik Negeri

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh : Khairunnisa Berutu
Siswi kelas 10-IPA 2, SMA Negeri 1 Simpang Kiri, Subulussalam, Aceh
12-01-2019

Kadangkala mungkin saja engkau pernah berpikir, bagaimana tangan-tangan peminta 'hak' itu memilihmu. Kadangkala pikiran tanggung jawab itu tergandeng dengan kenyamanan yang diperolehnya. Terkadang kau takut salah langkah memilih jalan membawa pedang kepemimpinan. Resah dan lelah itu tentu terajamah, keringat kau usap dengan tangan, menuntun diri tampil baik dan indah, monggoncang diri jika tidur di peperangan sekejap saja.

Suara ini hanya sampah. Yang entah bagaimana seperti kalian pemimpin menanggapinya. Hanya saja aku butuh perhatianmu, tetapi bukan dari lipatan uang hasil emisan pertemuan penting. Bukan pula dari kerokan harta negeriku yang dijejali “cangkul asing”. Yang demikian itu membuat tanahku malu dan menipis. Meninggalkan kerusakan juga kebodohan.

Sampah ini masih bersua. Lalu dengan apa aku menghidupi kalian, jika tidak demikian?. Itu hanya pertanyaan yang kubuat-buat membayangkan dirimu sendiri yang mengatakan itu.

Dalam bayangan kujawab : Lalu dengan apa engkau membayarnya? Terus  sampai kapan bergantung pada tanahku yang dikerok?
Utang untuk yang bernyawa di tanah Papua itu juga tanggunganmu. Hidup ini kita nikmati dengan sepoi angin pembawa kenikmatan. Lalu bagaimana dengan mereka di sana?

Sampah ini menyeruak sok tahu, ternyata. Lantang sekali. Ya, itu pemikiran yang kucapai pendek memang. Wanginya suaramu dengan tangan mengepal meyakinkan kami, tak sebanding dengan baunya” suara sampah”  ini menyusup telingamu. Bukan hanya telingamu sebenarnya.

Jangan perbodoh kami dengan kata “sejahtera”, jika bumiku menderita. Seimbangnya kami cerdas meraupnya bersama denganmu bukan lagi dengan “cangkul asing” itu. Kita bekerja bumiku pun terima. Seimbang.

Punggungmu tertimbun untaian harapan. Semua berharap di dunia. Yakinlah jika memajukan dirimu menjadi tonggak bangsa. Jangan seperti di tempatku yang juga tahtamu, menebar koar api gombal beriring sedemikian tunai di tangan yang memilihnya. Setelah benar-benar terpilih, ia akan menerima gaji pimpinan tak lupa dengan uang gelap yang dimakan seperti berbalas dedam pada orang-orang yang dulu disogoknya. Bukannya merukunkan tanggung, malah menambah beban panggung.

Sampah.. sampah..'gua yang penuh lumut kebosanan' Dengarlah jeritan ini wahai calon Presiden kami. Engkau saudara mulia berani jadi pertama naungan rakyat. Merakyatlah untuk kita yang belum menuai perubahan sesungguhnya.
Bagaimanakah saat belia engkau bermimpi begitulah laksanakan tanpa henti, jangan ada benci, apalagi undur diri. Giliran mu, laksanakan tongkat estapet di tanganmu, ukur peta perbaikan negeri.

Arungilah lembah rakyat dengan sabar. Berenanglah membuka selimut kebodohan kami ini. Jadilah nahkoda di samudera keterpurukan, rangkul kami dengan tangan berpikirnya. Berjuanglah di kegelapan masalah dengan ikhlas, jangan ceroboh jangan sembunyi tangan.

Singsingkan tanganmu agar kami ikuti di barisan anak bangsa. Adillah agar kami di bawah bersikap selayaknya. Bukan hidup jika tak ada masalah, tidak ada negara jika kami tidak ada, apalagi pula pemimpin.

Ingatlah, terkadang kita memetik masalah itu atas ulah kita bangsa ini, goyah dengan rakus itu. Dinginlah pada yang tak rakus agar tidak berani rakus, hangatlah pada yang rakus hingga ia sadar muliamu dan tak lagi rakus. Ada kalanya kau panas pada yang benar-benar rakus. Jagan lupa bercermin jikalau entah engkaunya yang patut diberlakukan panas.

Kembalilah jadi fitrahmu.
Jajakan list masamu secara terhormat dan mundurlah secara terhormat.
Presidenku yang baru...
Menjabatlah dengan hebat. Jangan lambat, sedikit-sedikit berdebat. Seringkali perdebatan itu masalah publik itu sendiri.

Dan engkau yang telah menjabat, terimakasih. Lihat lembar jayamu, lihat halaman runtuhmu. Semoga halaman itu tidak tertemu.

Untuk kaumku, ayo  bangun. Jangan lagi bergelung, lalu tertidur di lorong kemalasan. Apa daya api semangat  ksatria jikalau kita ogah-ogahan  tersengat. Keluarlah dari tong-tong bau busuk itu, jangan lagi kita seolah 'wangi'. Namun benar-benarlah harum. Setelah memilih dan terpilih, kitalah yang dipersoalkan.

Wahai calon presiden kami,

Kuperkenalkan suara jeritan sampah ini, entah suara merdu menggelitik gairahmu memimpin negeri...

Click to comment