TIGA KUNCI SURGA VERSI AL-QUR’AN DAN SUNNAH

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Hendra Gunawan, MA
Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan, Sumatera Utara

Surga dengan segala kenikmatannya,  merupakan negeri kebahagiaan yang belum pernah dilihat oleh mata, namun telah sering didengar oleh telinga kita sebagaimana sering diceritakan para tuan guru kita berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an. Salah satunya adalah surah a-Waki’ah ayat 27 – 38 yang menjelaskan seputar keindahan surga, mulai panorama dan pemandangannya yang indah yang belum pernah kita lihat di permukaan bumi ini, buah-buahan yang enak dan lezat yang sangat memanjakan lidah,sehingga setiap orang lupa kenyang(tidak mau berhenti menikmatinya), dan sampai kepada bidadari-bidadari surga yang cantik jelita dimana belum pernah terlintas dalam benak kita tentang kecantikannyamembuat setiap mata penghuni surga tidak pernah bosan memandangnya.
Sakingnikmatnya kehidupan di surga, sehingga tidak dapat diilustrasikan (dipersamakan) kedalam kehidupan dunia sebagaimana ditegaskan Allah SWT pada surah as-Sajadah ayat 17,maka Ibnu Qayyum al-Jauziyahdalam bukunya yang berjudul hadil arwah ila bilad al-Afrah yang menguraikan sekalipun wujud luarannya mungkin sama dengan yang ada di dunia, tetapi kenikmatan di dalam surga itu tiada tara (tidak tertandingi) oleh kenikmatan-kenikmatan yang ada di dunia ini. Dengan kata lain, melampaui imajinasi atau tidak dapat dibayangkan sehingga apabila seseorang mencoba mengimajinasikan atau mengkhayalkan tentang keindahan surga berarti kenikmatan hasil imajinasi tersebut adalah semu(palsu) karena kenikmatan surga yang sesungguhnya masih lebih dari itu.
Atas semua kenikmatan surga ini, membuat para sahabat, tabi’in, dan para sufi sangat ingin masuk ke dalam surga, bahkan saking inginnya mereka nekat menghabiskan seluruh hidup mereka dengan berzikir, tafakkur, dan beribadah hanya untuk merayu Allah SWT supaya kelak di hari kemudian dimasukkan ke dalam surga. Berbeda dengan umat Islam saat ini, kurang fans (menyukai) surga di mana kebanyakan umat Islam zaman sekarang ini sudah memandang sebelah mata terhadap surga karena lebih mengidamkan(menyukai) tempat-tempat wisata, di mana tidak jarang, seseorang rela antre dan desak-desakan(saling berebutan) untuk mendapatkan tiket hiburan promosi ke tempat-tempat favoritnya, tetapi kita lupa memfavoritkan surga, buktinya kita umat Islam belum pernah antre dan desak-desakanatau saling berebutan untuk mendapatkan sejadah tempat salat dalam rangkah menunaikan ibadah salat yanglima waktu guna meraih rida dan surga Allah SWT.
Tidak hanya itu, Ironisnya bahwa ada sebagian umat Islam yang enggan masuk surga sebagaimana jauh hari telah disinggung oleh Rasulullah SAW “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang enggan (untuk masuk surga)?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang taat padaku,maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang tidak menaatikuberarti ia telah enggan (untuk masuk surga)”{HR. Bukhari}, maka apabila kita mengabaikan perintah Allah SWT dan sunahRasulullah SAW baik disengaja atau karena sibuk mengejar kemewahan dunia dan popularitas hingga akhirnya melupakan salat, melupakanzakat, dan mengabaikan ibadah-ibadah lainnya, sungguh kita sudah termasuk orang-orang yang enggan masuk surga tersebut.
Sebab, surga bukanlah tempat gratis, karena untuk bisa hidup di kota metropolitan seperti di Jakarta saja mandi dan buang air besar membayar, apalagi nilai sebuah surganya Allah SWT yang jauh lebih indah daripada kota Jakarta. Dengan kata lain, surga tidak mungkin diberikan Allah SWT secara gratis tanpa ada usaha seorang hamba untuk mendapatkan kunci-kunci surga tersebut supaya bisa membuka dan memasukinya, yang menurut sebagian ulama bahwa kunci surga itu antara lain sebagai berikut :

1.   Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat
Salah satu kunci surga itu, adalah sesuatu yang tidak asing bagi umat Islam bahkan sangat sering didengar dan diucapkan yaitu syahadatain(dua kalimat syahadat) yang berbunyi “Tiada Tuhan selain Allah SWT dan nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT” sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya “Barang siapa yang meninggal dan dia bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT dengan jujur dari hatinya, maka ia masuk surga.” {HR. Imam Ahmad}.
Namun bukan berarti dengan kalimat syahadat lalu masuk surga, sebab sekalipuntelah memiliki kunci apabila tidak memiliki gerigi, maka kunci tersebut tidak akan bisa berfungsi karena seyogianya setiap kunci pasti memiliki sejumlah gerigi, begitu pula kunci surga akan terfungsikan untuk membuka pintu surga, dengan catatan apabila gerigi pada kunci tersebut sesuai, maka pintu surga insya Allah SWT akan terbuka. Pentingnya gerigi pada kunci untuk membuka pintu surga ini, maka Syaikh Muhammad Said al-Qohthoni menjadikan gerigi tersebut menjadi syarat diterimanya dua kalimat syahadat yaitu :
(1)    Gerigi yang pertama adalah al ‘ilmu (mengetahui)
Setiap orang yang bersyahadat harus mengetahui dengan benar mengenai makna dan maksud yang terkandung dalam dua kalimat syahadat tersebut, maka apabila tidak mengetahuinya ia tidak ubahnya seperti burung beo yang bisa mengucapkan kata-kata tanpa mengetahui maknanya.
Maka jelas seyogianya mengucap dua kalimat syahadat harus memiliki ilmu atau pengetahuan tentang makna dari dua kalimat syahadat tersebut agar bisa mengamalkan kandungan maknanya, begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lainnya harus menguasai ilmu tentang ibadah tersebut sebelum mengamalkannya, sebab ilmu dan amal tidak dapat dipisahkan karena antar keduanya saling memiliki keterkaitan, di mana seseorang yang telah memiliki ilmu tentang suatu ibadah namun ia tidak mau mengamalkannya maka ia akan dicap sebagai golongan yang dimurkai Allah SWT, begitupula sebaliknya orang-orang yang beramal namun tidak berlandaskan ilmu (pengetahuan) maka mereka akan dicap sebagai orang-orang yang tersesat.
Karena Allah SWT, selalu mendahulukan perintah untuk mengetahui tentang sesuatu sebelum memerintahkan untuk beramal(melaksanakannya) maka pada surah al-Isra’ ayat 36 Allah SWT menegaskan mengenai pelarangan-Nya menuruti sesuatu tanpa mengetahui sebagaimana firman Allah SWT “Dan jangan lah engkau turuti apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua akan dimintai pertanggungjawaban.” {QS. Al-Isra’: 36}.
(2)   Gerigi yang kedua adalah al-yaqin (meyakini)
Setiap orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat, harus meyakini sepenuh hati tanpa ragu-ragu sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanya lah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu..., mereka itulah orang-orang yang benar.” {QS. Al-Hujurat: 15}. Rasulullah SAW juga bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan aku adalah utusan Allah SWT, tidaklah seoranghamba bertemu Allah SWT sambil membawa dua kalimat syahadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Imam al-Qurthubi dalam kitabnya yang berjudul Al Mufhim ‘ala Shahih Muslim,menjelaskan bahwa syahadataintidak cukup dengan hanya melafalkannya saja akan tetapi harus dengan keyakinan di dalam hati, sehingga apabila seseorang mengucapkan syahadatainhanya di lisan tanpa meyakini di hatinya maka syahadat tersebut tertolak apalagi mengingkarinya dalam hati maka ia dapat digelar sebagai seorang munafik i’tiqodi(munafik).
(3)    Gerigi yang ketiga adalah ash-shidik (jujur)
Syahadatain harus diucapkan dengan sungguh-sungguh atau jujur tanpa kepalsuan(berpura-pura), di mana ucapan lisan harus sejalan dengan pikiran dan hati orang-orang yang mengucapkannya karena Allah SWT Maha Mengetahui atas setiap hamba-Nya yang jujur dan yang melakukan penipuan sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut “Dan di antara manusia ada yang mengatakan, kami beriman kepada Allah SWTdan hari Akhir, padahal mereka itu sebenarnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah SWT dan orang-orang beriman, padahal pada hakikatnya mereka hanya menipu diri sendiri sedangkan mereka tidak sadar.” {QS. Al Baqarah 2/: 8-10}. Rasulullah SAW juga pernah menegaskan bahwa seorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT dengan jujur dalam hatinya maka Allah SWT akan mengharamkannya disentuh api neraka.
Ketiga gerigi di atas, adalah merupakan sebagian syarat-syarat diterimanya syahadatainsehingga apabila seorang hanya mengucapkan syahadatainnamun tidak memenuhi ketiga gerigi tersebut maka ia bagaikan orang yang memegang kunci yang tidak bergerigi sehingga Ia tidak dapat membuka pintu yang pada akhirnya ia pun tidak bisa masuk ke dalamnya. 
Dahsyatnya, dua kalimat syahadat, dalam kitab at-Tafsir al-Kabirdiceritakan bahwa pada hari kiamat Allah SWT membuka kepada sebagian makhluk-Nya sebanyak 99 lembar catatan amal, di mana panjang setiap catatan tersebut sejauh mata memandang, lalu Allah SWT bertanya kepadanya; apakah kamu tidak mengakui sedikit pun dari catatan ini, atau apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?. Ia pun menjawab; tidak wahai Tuhanku, kemudian ditanya lagi oleh Allah SWT; apakah kamu ada dosa atau kebaikan?. Ia pun tertunduk karena melihat hanyacatatan dosa yang ada lalu menjawab; tidak wahai Tuhan, aku tidak ada memiliki kebaikan. Kemudian Allah SWT pun kembali bertanya; apakah kamu ada keuzuran dalam mengerjakan semua dosa ini?. Ia lagi-lagi menjawab; tidak, wahai Tuhan, tetapi di dalam hatinya tersirat “aku sudah jelas akan menjadi ahli neraka”. Namun ternyata Allah SWT berfirman; kamu memiliki kebajikan di sisi-Ku dan hari ini tidak ada kezaliman. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu, di situ tertulis asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna MuhammadanRasulullahKemudian ia punberkatalagi;wahai Tuhan apa artinya kartu ini dibandingkan dengan catatan panjang itu?.Rasulullah SAW menerangkan selanjutnya, bahwa setelah kartu itu ditaruh di satu daun timbangan dan catatanpanjang itu di daun timbangan yang lain, ternyata daun timbangan yang berisi catatan amal menjadi ringan, dan daun timbangan yang berisi kartu menjadi berat. Lalu dia berkata; tidak ada sesuatupun yang bisa melebihi berat nilai zikrullah.

2.   Berbuat Baik
Kunci yang kedua, adalah berbuat kebaikan sebagaimana dijanjikan Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-Muthafifin ayat 22 yang berbunyi sebagai berikut; “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (Surga)”, termasukmenyingkirkan sesuatu yang  dapat membahayakan dari jalan sebagaimanadisinggung Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya:
“Sungguh aku telah melihat seorang laki-laki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” {HR. Muslim}.

3.   Bertakwa dan Beramal Saleh
Kunci yang ketiga, adalah ketakwaan sebagaimana ditegaskan dalam surah al –Hijr ayat 45 yang berbunyi “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga (taman-taman) ...”, yang dalam ayat lain juga ditegaskan yaitu surah Maryam ayat 60 “...orang-orang yangberamal saleh... akan masuk surga  dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”, makauntuk menggapai ketakwaan tersebut haruslah melalui berbagai amal saleh(ibadah) seperti salat, membayar zakat, puasa, naik haji, dan lain sebagainya.

Penutup
Kesuksesan dan kebahagiaan hakiki orang yang beriman, adalah dimasukkannya dia ke dalam jannah(surga) dan dijauhkan dari neraka maka untuk menggapai kesuksesan  dan kebahagiaan tersebut haruslah berusaha menggapai kunci surga di atas agar kita bisa membuka pintunya dan masuk ke dalam surga.


Sudahkah kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kunci surga, apabila belum maka saatnyalah sekarang ini kita banyakmenghisab diri(merenung atau mengevaluasi amal diri) sertaselalu berdoa dan berusaha agar kita dimasukkan Allah SWT ke dalam surga-Nya tanpa hisab(perhitungan) dan azab(kesengsaraan) atau siksaan neraka. Amin ya rabbal ‘alamin

Click to comment