Warung Kopi di Aceh, Seperti Kampus?

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Menikmati hidup dan pahitnya kopi di warung kopi

Oleh Arini Izzati
Mahasiswi  Prodi Ekonomi Syariah, FEBI, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
            Bercerita soal Aceh ini, memang tak jauh dari yang namanya warung kopi.  Sejak dahulu hingga kini, warung kopi di Aceh menjadi tempat yang sangat sering menjadi titik kumpul masyarakat Aceh. Kondisi ini sudah berlangsung sejak lama, di mana duduk di warung kopi, bercengkerama dan saling berbagi cerita, tempatnya memang warung kopi. Apalagi kini sejalan dengan perkembangan teknologi, warung kopi terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sehingga pengunjung warung kopi pun menyesuaikan dengan perkembangan tersebut.
Dulu, ketika sebelum adanya fasilitas internet ( wifi) di warung kopi,  yang menjadi pelanggan warung kopi,  rata-rata dari kalangan bapak-bapak, lelaki dewasa, maksudnya. Minim sekali para pelanggannya yang mahasiswa, namun sejak era digital semakin canggih dan hadirnya wifi, akhirnya banyak para pebisnis warung kopi menyediakan wifi di warung kopi tersebut. Perubahan waktu yang juga menyebabkan pesatnya perubahan di warung kopi yang begitu luas, akhirnya yang rata-rata para pengunjungnya adalah kaum laki-laki pelan-pelan berubah. 
Suasana warung kopi berubah warna, ya pengunjungnya bertambah banyak, bukan hanya laki-laki dewasa, tetapi juga remaja dan mahasiswa. Bahkan lebih lagi, kini sudah  banyak  pula perempuan  yang sebagiannya adalah mahasiswi yang duduk di warung kopi. Mereka ke warung kopi dengan berbagai keperluan, pertemanan, hingga pada  pemanfaatan wifi sebagai sarana mengerjakan tugas kuliah.
            Kehadiran orang-orang muda dan perempuan di warung kopi, telah membuat suasana warung kopi seperti kampus. Ya, ternyata jika disandingkan dengan kampus di Aceh, mungkin warung kopi bisa disebut layaknya kampus, sebab rata-rata kehadiran pengunjung yang datang ke warung kopi hampir sama dengan mahasiswa yang hadir ke kampus.  Caobalah sekali-kali berkunjung  ke warung kopi yang letaknya tidak jauh dari kampus.  Beberapa hari yang lalu penulis sempat berkunjung ke sebuah warung kopi yang tak jauh dari kampus. Penulis coba melihat beberapa pengunjung yang dominan dari mereka adalah mahasiswa. Penulis sempat bertanya kepada pemilik warung kopi tersebut, berapa banyak para pengunjung yang datang setiap harinya? Kemudian beliau menjawab jika diperkirakan yang datang dari siang sampai sore itu sekitar 200 orang. Kalau malam mungkin sekitar 150 orang.
            Ekspektasi yang menjadi lawan realita sama seperti kita melihat ekspektasi mahasiwa di warung kopi dan mahasiswa di kampus.  Sayangnya, bila kita jajaki realitanya mahasiswa di warung kopi ternyata sangat banyak yang menghabiskan waktunya bermain game online dan sedikit lebihnya hanya ada kemungkinan 30% yang realitanya membuat tugas dan kepentingan produktif. Bahkan ada yang mengatakan “warung kopi jejaknya para mahasiswa”. Tidak menjadi permasalahan, jika tujuan itu adalah hanya sekadar datang duduk, minum dan bermain game, namun sangat disayangkan karena mahasiswa sekarang ini senang berinvestasi ke warung kopi dengan bermain game. Ini cendrung menjadi aktivitas yang sia-sia.
            Ada hal menarik beberapa hari yang lalu, yang biasa dominan di warung kopi adalah para gamer dan para-para mahasiswa yang sibuk downloadfilm. Ini adalah suatu kegiatan produktif yaitu bermain saham, bahkan ada juga yang memanfaatkan waktunya membuat skripsi. Alternatif yang menjadi kritis membuat para mereka yang produktif semakin maju. Sangat positif bukan? Apalagi saat ini mahasiswa memang idealnya bisa lebih kreatif, innovatif dan produktif.
            Ya, mahasiswa memang dihadirkan  untuk bisa berinovasi dengan berbagai inovasi terbaru dan terbaik. Yang menjadi kolaborasi warung, kopi, dan wifi. Warung yang menjadi sarana dan kopi menjadi penikmat lidah, namun yang paling miris wifi  sebagai tuan yang malah memperbudak kita. Persentasenya menjadi meningkat ketika kita berlomba-lomba mencari wifi untuk streaming, bahkan bermain game dan hal yang tidak bermanfaat lainnya. Bagaimana bisa kita menjadi maju, kalau tuannya adalah robot padahal yang menciptakannya adalah manusia. 
            Kaitan objektif yang menjadi efektif membuat wifi menjadi indikator yang relevan untuk masa kini dan masa depan. Bagaimana caranya mahasiswa yang duduk di warung kopi membuat interpretasi yang bermanfaat terhadap diri sendiri, bahkan untuk orang lain. Ada banyak dampak positif yang menjadi kajian baik untuk para penggemar warung kopi. Adalah murah yang menjadi tempat nyaman dan fasilitas yang membangun akhirnya menjadi alternatif bagi para mahasiswa, jangan sampai warung kopi menjadi target dan kampus menjadi dilema.
            

Click to comment