Aksaraku

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Putri Zianby Cintami
Kelas X IPA C, SMA Negeri 1 Bireun, Aceh

Pagi nan cerah, matahari pagi memancarkan sinarnya. Langit biru dengan pancaran sinar yang membuatku sungguh kagum akan ciptaan Allah.
Di ruang kelas, suara berisik terdengar bagai tak henti. Suara berisik itu terdengar hingga guru tiba di depan pintu masuk ruang kelas.

Suara berisik yang mengusik pendengaran itu, ternyata membuat guru ikut terusik. Kala itu, adalah masa-masa yang semakin dekat dengan pelaksanaan ujian nasional. Waktunya tinggal menghitung hari di SMPku.  Momentum yang menjadi catatan bersejarah dan berkesan terkait untaian kata dalam aksara penuh makna. Walau kini aku sudah meninggalkan bangku sekolah SMPku dan berada di sekolah baru, di jenjang SMA.

Menjadi catatan aksaraku. Aku Putri Zianby Cintami, kelahiran Bireuen, 10 Juli 2003 yang merasa beruntung dengan aktivitas menulis. Munculnya ibu guru di tengah berisiknya para siswa di ruang kelas, yang kemudian berubah menjadi hening, bukan karena sang guru ingin memarahi, tetapi mencari siswa yang akan tampil pada sebuah pertunjukan di hari perpisahan.

Mengetahui niat itu, para siswa pun bersorakan, gembira dan penuh rasa girang. Sorakan itu, menyebut namaku. Aku terhentak dan bertanya sendiri, mengapa harus aku. Namun, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku bahwa ini adalah sebuah kesempatan baik untuk melatih keberanianku tampil di depan umum.

Maka, kala itu bersama temanku yang punya hobi yang sama, tergerak untuk memikirkan sesuatu untuk berkontribusi. Ya, ingin membaca puisi. Kala itu pula aku melihat ia dengan bangganya memperlihatkan puisinya, hingga membuat semangatku hampir punah. Namun, tak pula berhenti sampai di situ. Aku terpicu untuk menggubah sebuah puisiku yang akan membuat orang baper dengan apa yang aku curahkan.

Aku menulis seuntai puisi. Aku berikan judul “ Bisikan Semilir Angin”.

BISIKAN SEMILIR ANGIN
Oleh : Putri Zianby Cintami

Semilir angin mengusik hening kalbu
Seakan berbisik kini kita kan berpisah
Padahal jiwa terasa berat, dan raga terasa tak sanggup menahan rindu
Namun, apa boleh dikata?
Semua ini kan tetap terjadi

Di kala ku termenung
Memikirkan semua ini, memikirkan kisah kita yang terlalu cepat berlalu
Padahal rasanya baru kemarin ku menginjakkan kaki di tempat ini
Sebegitu cepatkah hari berlalu?

Duhai sahabat..
Perpisahan adalah hal terberat dari sebuah perjalanan
Namun perpisahan juga yang mengajari kita bagaimana cara mengikhlaskan
Tapi tetap saja tinggalkan kenangan tak terlupakan
Lagi lagi, Semilir angin mengusik pikiran kosongku
Sambil membisikkan kata kata perpisahan
Oh angin sudahlah, diri ini tak kuat mendengar kata kata itu
Semakin lama Semilir angin semakin terdengar dengan jelas
Seakan itu kode bahwa diri ini harus menerima segalanya
Baiklah, meski terasa berat namun aku akan mencoba
Pada perpisahan ini, untuk membuang semua bagian sedih dan hanya menyisakan bagian yang indah saja..
Karna pada sejatinya, semilir mengajari kita menerima sebuah perpisahan dengan pertemuan yang hangat pada esok hari..

Usai menuliskan puisi itu, aku merasa lega. Maka, puisi itu pun kuperlihatkan pada teman-temanku. Aku semakin termitivasi, karena mendapat respon dari teman-teman yang membacanya.
“ Wah,bagus kata-katanya,bikin baper. Kata-katanya masuk bangat” ujar teman-teman.

Semua ini membakar semangatku untuk terus berkarya. Aku benar-benar jatuh cinta pada menulis. Kini aku semakin sering mencurahkan isi hati lewat aksara, puisiku. Apa pun perasaan yang kurasa, akan kucurahkan lewat puisi. Alhamdulillah. Sudah puluhan puisi yang aku gubah. Aku bangga dan suka melanjutkan kisah aksaraku.

Click to comment