Bye-Bye Menyontek

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Dok: Brainly

Oleh : Tia Amelia 
Kelas : IX 2 SMPN 2 Dewantara, Aceh Utara

Hari ini hari Kamis. Masih lima belas menit kurang dari pukul tujuh pagi. Alzena berangkat lebih awal karena sejak semester ini sekolah masuk jam setengah delapan, lebih cepat lima belas menit dari sebelumnya. Alzena tahu kalau dia terlambat pasti akan dapat hukuman dari guru piket, misalnya disuruh jalan bebek, disuruh cabut rumput di halaman sekolah, atau yang paling ekstrim membersihkan kamar mandi. Dari pada dapat hukuman macam-macam, mending Alzena berusaha bangun lebih cepat, terus berangkat sekolah lebih cepat. Dan sejak Alzena bangun lebih awal, dia jadi rajin salat subuh. Ibu dan ayahnya juga sangat senang. 
“Begitu dong, Alzena. Salat lima waktunya sudah tidak ompong lagi,” kata ibunya subuh tadi. “Ibu bangga punya anak yang rajin salat.”
“Iya, betul. Wajah Alzena jadi lebih bercahaya ya Bu, sejak Alzena rajin salat”, goda ayahnya. 
Alzena membayangkan kejadian tadi pagi sambil senyum-senyum sendiri. Alzena senang telah membuat ayah dan ibunya bahagia. Dalam hati Alzena bertekad untuk jadi anak yang taat kepada sang khalik, taat kepada orang tua, dan juga ......  taat kepada guru. 
Beberapa gerombol anak berseragam putih biru sudah ada di jalan raya. Mereka semua adalah teman-teman sekolah Alzena. Mereka juga berangkat lebih awal karena mereka berjalan kaki. Alzena berjalan lebih cepat agar teman-temannya tersusul. Tiba-tiba Alena teringat sesuatu. 
“Astaghfirullah...., aku lupa mengerjakan PR Matematika”, seru Alzena pada dirinya sendiri sambil menepuk  jidat. 
Alzena panik seketika. Dia mempercepat lajunya, sesekali berlari kecil. Setiba di sekolah Alzena bergegas ke kelasnya. Di depan kelas dia bertemu Amel dan Angel, teman sekelasnya.
“Eh, kalian sudah siap PR Matematika, belum?”, tanya Alzena dengan napas yang masih terengah-engah. 
“Sudah dong, Alzena, memangnya kamu belum siap?”, tanya Angel dengan ketus.
Alzena baru mau menjawab ‘belum’, tapi kedua temannya sudah berlalu dan masuk ke kelas. 
Alzena terpaku sendiri di koridor, membayangkan apa hukuman yang telah menantinya kalau dia tidak mengerjakan PR. Biasanya Bu Mia akan menyuruh mereka mengerjakan tugas sampai selesai sambil duduk di lantai, sementara teman-teman yang lainnya mengolok-olok. Lebih parah lagi, kalau dilaporkan ke guru BP. Pasti akan tercatat di buku kasus dan dipanggil orang tua. Mampus deh....
                  Teman-teman sekelas Alzena lainnyapun mulai datang satu-persatu. Ada Yulia, Sofia, Dini, Melisa dan yang lain-lain. Mereka semua langsung masuk kelas tanpa ba-bi-bu. Padahal biasanya sebelum ada guru  mereka ogah masuk.
“Teman-teman, kalian sudah buat PR Bu Mia belum?”, tanya Alzena cemas.
“Pastinya!”, jawab mereka serentak. 
Alzena pun segera masuk. Dia berharap teman-temannya bersedia memberikan PR mereka untuk disalin oleh Alzena. 
                  Ternyata di dalam kelas Alzena mendapati semua teman-temannya sibuk menyalin PR di buku masing-masing. Alzena bingung karena tadi sewaktu dia tanya, mereka semua menjawab sudah siap.
‘Ah, sudahlah’, pikir Alzena. Alzena mendekati Yulia yang sedang sibuk menyalin PR, ‘Coba aku minta saja. Yang penting untuk hari ini aku selamat.’

Click to comment