Keceriaan Dua Yingsao di Kuta Malaka

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Teks & Foto:Makmur Dimila
Sudah dua bulan Supiya (22) dan Maisan (23) berada di Banda Aceh. Sebuah riset tentang perdamaian Aceh yang digarap keduanya membuat hari-hari mereka terasa jenuh. Selagi menikmati suasana sore di Kuta Alam Kupi, saya sodori beberapa pilihan objek wisata menarik di Aceh Besar.
“Kami naknaik gunung!” 
Senyum menyeringai di wajah keduanya saat saya tawarkan jalan-jalan ke perbukitan di Kecamatan Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar. Terlebih ketika saya bilang di sana mereka bisa hikingselain melihat air terjun tujuh tingkat.
Pagi Senin, 28 Februari 2016, saya bersama keduanya, satu teman lekaki asal Thailand lainnya dan seorang staf tempat mereka melakukan penelitian, juga dua teman saya, berangkat ke arah Samahani dengan sepeda motor dari Banda Aceh.
Sengaja saya pilih Senin. Hari-hari sibuk kerja itu biasanya sepi di objek wisata, apalagi Kuta Malaka yang sudah mainstream dan cukup ramai bila datang di akhir pekan.
Maisan mengenakan celana cutbray jeans putih dan gamis hitam selutut dipadu jilbab bunga warna-warni. Sementara Supiya menutup tubuhnya dengan kemeja hijau gelap dan cutbray kain ungu serta kerudung hitam. Dua mahasiswi Hukum Internasional Songkla University itu cukup percaya diri. 
Sebagai orang Aceh, saya ingin suguhi tamu asing makanan khas daerah. Sebab itu saya berhenti di Pasar Samahani, tak jauh dari lokasi dijual roti dengan sele yang khas itu.
Ada sebuah kuali besar di dekat rak nasi. Ilyas, teman Thai menghirup aroma kuah beulangongitu dan langsung memesannya. Pada akhirnya kami semua pesan nasi bungkus menu kuah beulangonguntuk dibawa ke Puncak Kuta Malaka. 
Saya dibantu seorang teman yang pernah ke sana, memandu mereka ke Objek Wisata Kuta Malaka melalui jalan yang sama menuju Wahana Air Kuta Malaka.
Melewati objek itu, kami benar-benar melalui lorong hutan yang sepi, dengan jalanan berkerikil. Diapit perkebunan.
Kejutan mulai membekas di hati Supiya ketika kami harus melalui anak sungai pertama dari lima anak sungai yang memotong jalan ke Puncak Kuta Malaka. Ia terpeleset di bebatuan, namun tak apa-apa, kecuali blazernya basah. Dan kami tertawa!
Saya melihat Supiya merentangkan kedua tangan tak lama mencapai rute yang berliku-liku nan menanjak. Seraya menatap ke Bukit Barisan Pulau Sumatera yang subur dari belakang motor, ia sesaat pejamkan mata melepaskan hasratnya bertualang. Seolah insiden terjatuh tadi tak apa-apa baginya. 
Maisan pun tak bosan memberikan pose terbaik saat kami berhenti di satu tikungan dengan panorama memukau, untuk mengambil foto. Di belakang dia berjejer Bukit Barisan dan nun jauh di timur terlihat Samahani dan persawahan. 
Sebenarnya ini bukan hanya perjalanan mereka berdua. Ini pun hasrat saya. Tapi dengan adanya teman baru asal Thai itu, saya lebih memerhatikan mereka dalam trip sehari ini. Apakah cara dua yingsao (Bahasa Thailand: gadis) itu menikmati alam sama dengan kebanyakan perempuan Indonesia pada umumnya?
Tiba di pos parkir Kuta Malaka, menjelang jam 12 siang, kami parkir kendaraan di sisi kantin yang tak buka. Langsung saja saya tuntun ke Air Terjun Kuta Malaka, melalui anak tangga beton yang sudah dibangun pada 2014. 
Suara angin dipadu deru air terjun, pekik monyet sesekali, kicau burung bersahutan dengan cuap-cuap kami yang terlontar mengomentari keasrian alam yang sudah dikotori oleh banyak sampah plastik, mewarnai trekkingkami dalam mencapai tujuh tingkat air terjun Kuta Malaka.
“Mereka joggingsetiap hari, makanya kuat kali jalannya,” tutur Kiki melihat Maisan dan Supiya yang tak kelelahan.
Namun keduanya terpaksa harus turun kembali begitu saya kabari ada seorang dari kami yang butuh bantuan. Saat seperti itu, Maisan secara bersahaja, berjalan pelan mengiringi kawan barunya, hingga kami breaktimedi puncak yang menandai pangkal anak tangga beton itu. 
Usai leha-leha sembari menikmati makanan ringan, semisal buah keranji khas Thai, keripik pisang, air kemasan, kami turun ke tingkat tiga untuk salat, makan, dan mandi. Sambil turun, saya ajak mereka kutip sampah plastik yang kami jumpai di sepanjang rute anak tangga. 
***
Matahari sudah hampir melewati Bukit Barisan di barat. Tepat jam 3, kami meninggalkan Air Terjun. Saya membawa dua karung kecil sampah plastik ke tong sampah di gerbang masuk, untuk memulai hiking.
Maisan dan Supiya yang sudah mengenakan baju ganti tak sabar ingin mendaki. Supiya dengan gigihnya bahkan melangkah cepat di baris depan, menaklukkan bahu Bukit Kuta Malaka yang miring itu. Ia melalui jalur bekas dilalui pejalan sebelumnya, mendahului Ilyas.
Saya melihat keduanya sudah di puncak, ketika yang tersisa di bawah masih asik mengambil foto panorama sekitar. Apalagi Maisan, ia sangat ingin berlama-lama mengabadikan Gunung Seulawah Inong yang menjulang di timur sana. 
Gadis yang memakai behel di gigi itu penasaran dengan gunung merapi di Aceh. Dan dari Kuta Malaka, cuma itu satu-satunya gunung merapi aktif yang bisa saya perlihatkan meski belum pernah meletus.
Kami lantas menyusul ke puncak. Sebenarnya tak benar-benar puncak. Tapi sudah cukup bagi kami menatap view 360 derajat ke sekeliling. Bahkan kantin beratap biru di bawah sana terlihat sangat kecil, sementara di sekitar bukit-bukit berlapis permadani hijau, ditudungi awan-awan menggumpal.
Satu jam di puncak, saya ajak turun. Kecuali dua yingsaoitu, yang lain menurut saja. Sementara mereka tak cukup dengan foto bersama. Melainkan bergaya sambil tidur-tiduran dalam ilalang kering. 
Satu ambil foto, satu berpose. Macam acara model huntingsaja. Tanpa malu-malu, mereka terus bergaya sesuka hati. 
Beberapa kali saya ingatkan, tapi sudahlah. Kapan lagi mereka harus menikmati alam sepuas-puasnya? Macam saya tak pernah kemana-mana saja. 
Saya buang ego. Membiarkan dua teman Thai itu benar-benar bahagia di Kuta Malaka, sampai mereka turun dengan sendirinya untuk pulang kembali ke Kutaraja bersama-sama.[]
Makmur Dimilasuka jalan-jalan dan biasa menuliskan catatan perjalanan di travelblognya safariku.com

Click to comment