Meraih Cita

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh : Tia Amelia
Siswa Kelas IX-2, SMP Negeri 2 Dewantara, Aceh Utara

                  Dhira Amelia adalah anak ketiga dalam keluarga Pak Zainuddin dan Bu Nurfatmi. Gadis yang dipanggil Amel itu mempunyai seorang kakak bernama Husnul Khatimah dan seorang abang bernama Mulya Urrahman. Amel juga punya dua orang adik, yaitu Nazril Ilham dan Muhammad Naufal Afqar. Mereka tinggal di sebuah desa di pesisir utara tanah rencong. Keluarga itu bisa disebut kekurangan, untuk tidak menyebutnya miskin. 
                  Pak Zainuddin sehari-hari bekerja sebagai tukang untuk menghidupi keluarganya. Sedangkan istrinya, Nurfatmi, bekerja mengurus rumah tangganya. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang hampir roboh, bahkan ditiup anginpun atap rumahnya bisa beterbangan entah kemana-mana. Namun keluarga itu tetap hidup bahagia, meskipun sesekali ayah dan ibu mereka marah dan kesal kepada anak-anaknya yang nakal.
                  Matahari bersinar dengan garangnya. Amel baru saja pulang dari sekolahnya di sebuah SMP yang terletak di desa sebelah. Dia pulang dengan terburu-buru karena perutnya terasa lapar. Sampai di rumahnya adik bungsunya telah menunggu. Naufal berlari-lari menyambut kakaknya karena biasanya Amel membawa adiknya jajanan setiap pulang sekolah. 
“Kak Amel pulang...kak Amel pulang”, seru Naufal girang.
“Kak Amel, bagi jajan lah, kak”, rengeknya.
“Astaghfirullah, dek. Kakak lupa beli jajan untuk adek”, jawab Amel.
“Maaf ya, dek. Kakak benar-benar lupa. Tadi ada olahraga, uang jajan kakak habis, dek”, lanjut Amel menyesal. 
“Iih, kakak...”, lirih Naufal kecewa.
“Besok kakak janji akan beli jajannya. Swear...”, sergah Amel sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. 
Amel segera berburu ke dapur untuk mengganjal lambungnya dengan makanan. Dia sempat melihat sosok ibunya yang sedang menjemur pakaian  di samping rumah. Ia ingin menyongsong ibunya, tetapi urung. Perutnya semakin terasa lapar setelah mencium aroma teri sambal dan sayur daun singkong lodeh masakan ibunya. Amel segera ke dapur dan makan dengan lahap. Hidangan yang super sederhana itu jadi terasa nikmat di lidah karena ibunya memasak dengan penuh cinta. 
Setelah menikmati makan siangnya, gadis manis yang masih duduk di kelas sembilan itu segera mengganti seragamnya dan melaksanakan salat. Amel tidak biasa bermanja-manja. Bila anak-anak lain bisa menghabiskan waktu berjam-jam nonton tvatau main game, Amel tidak. Dia harus kerja sebagai pembuat batu-bata milik tetangganya. Dengan cara itulah ia membantu orang tuanya yang sering kesulitan uang belanja. 
Hari semakin panas. Jarum jam tepat pukul dua siang. Dalam sekejap  jemuran ibu Amel hampir dibuat kering. Meski hari panas Amel tetap saja bekerja. Untungnya, tempat kerjanya teduh, karena di dalam sal beratap rumbia. Amel selalu punya beribu alasan untuk terus bekerja agar ia punya uang. Uang memang bukan segala-galanya. Tetapi tanpa uang kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kalau cuma mengharapkan hasil ayahnya bertukang, untuk makan sehari-hari saja tidak memadai. Apalagi untuk biaya sekolah Amel dan saudara-saudaranya. 
Hari ini Amel menghasilkan dua ratusan batu-bata. Batu-bata yang masih basah itu disusun dengan rapi saling silang-menyilang. Hasil kerja Amel sangat rapi sehingga bosnya sangat suka dengan batu-bata buatan Amel. Majikan Amel itupun sayang sekali padanya karena ia anak yang ulet dan patuh. Dia juga taat beribadah. 
Tepat jam empat sore Amel kembali ke rumahnya untuk melaksanakan salat Ashar. Kemudian mencuci piring, menyapu lantai dan halaman rumah. Setelah semuanya selesai, Amel segera bersiap-siap untuk pergi mengaji. Semua itu dilakukan dengan suka hati. 
Assalamualaikum”, pak Zainuddin mengucap salam. Tubuhnya terlihat letih setelah seharian bekerja. Amel dan adik-adiknya keluar menyambut ayahnya sambil menjawab ‘alaikum salam’. Amel senang ayahnya sudah pulang.  Sejak tadi ia sudah menunggu sepeda ayahnya untuk ia pakai pergi mengaji.
“Amel berangkat ya, ayah”,  pamit Amel sambil menyalami dan mencium tangan ayahnya.
“Ya, nak. Bawa sepedanya hati-hati, ya”, pesan pak Zainuddin.
Amel mengangguk sebelum naik atas sadel sepedanya. Pak Zainuddin masuk ke dalam rumah gubuk mereka diikuti oleh Nazril dan Naufal.
                  Amel terus mengayuh sepedanya menuju dayah yang terletak di atas bukit. Disusul Rika di belakangnya pakai sepeda juga.  Amel sudah lama ingin punya sepeda seperti punya Rika. Sepeda itu bisa dibawa mendaki  karena  bisa diganti-ganti gearnya. Sedangkan sepeda milik ayah Amel, harus didorong di jalan mendaki. 
“Rika, kamu duluan aja. Kak Amel nyusul”, kata Amel dengan nafas satu-satu.
Nggakapa-apa, kak. Rika dorong aja”, jawab adik sepupunya yang masih kelas tujuh itu.
Mereka mendorong sepeda bersama. Teman-teman Amel lain juga sudah menyusul di belakang. Ada yang naik sepeda, tetapi lebih banyak yang naik motor. 
                  “Duluan ya, Mel, Rika. Cepat sikitbentarlagi azan magrib”, seru teman-teman Amel yang sudah menyusul dengan motor mereka. 
“Iya”, jawab Amel singkat. 
“Duluan aja”, lanjutnya.
Amel tersenyum. Ia bahagia mempunyai teman-teman yang baik. Meskipun mereka kaya tetapi mereka tetap mau berteman dengannya. Akankah mereka tetap baik selamanya pada Amel   walaupun ia orang miskin? Gadis sholehah itupun berjanji akan mengangkat marwah dan martabat kedua orang tua dan seluruh keluarganya. Tetapi Amel bingung bagaimana caranya ia mewujudkan harapan orang tuanya. Ibunya ingin Amel menjadi seorang desainer, sedangkan ayahnya mengharapkan Amel jadi penceramah. 
“Amel, ayo makan dulu”, kata bu Nur ketika Amel pulang dari dayah. 
Amel segera ke dapur. Tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Amel kembali ke ruang depan.
“Suara apa itu, mak?”, tanya Amel ketakutan. 
“Oh, itu suara hujan. Sebentar lagi sudah sampaike sini”, jawab ibunya tersenyum.
                  Amel menatap ibunya dengan perasaan khawatir. Kalau hujan malam ini berarti mereka tidak bisa tidur. Atap rumah bocor dimana-mana. Jangankan tidur, duduk saja kebasahan. 
“Tidak apa-apa, nak. Hujan itu kan rahmat dari Allah untuk hamba-hambanya”, kata ibu bijaksana itu dengan lembut. 
“Kalau kita tidak bisa tidur malam ini, kita begadang saja sambil baca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an itu mendatangkan pahala yang banyak kan?”, lanjut ibunya hingga membuat hati Amel tenang.
“Iya. Mamakbenar. Amel mau makan dulu biar kuat ngajisampai pagi”, jawab Amel mantap.
                  Hujanpun turun dengan derasnya. Tetapi bagai sebuah keajaiban dari langit, malam ini mereka tidak kebasahan. Tidak setetespun air hujan masuk rumah mereka. Malam ini setelah membaca Al-Qur’an mereka bisa tidur dengan lelap.
                  Azan mulai berkumandang dari segala penjuru. Bu Nur membangunkan ketiga anaknya untuk salat subuh. Tiap subuh mereka salat berjamaah. Di rumah itu mereka tinggal berlima.  Kedua kakak Amel yang sudah menikah tidak tinggal di sana lagi, karena rumah kecil itu tidak cukup kalau ada anggota baru. 
                  Pak Zainuddin dan bu Nur sangat mencintai anak-anaknya. Mereka tidak pernah membedakan kasih sayang terhadap mereka. Tidak membedakan anak pertama dengan anak terakhir, yang cantik atau yang kurang cantik. Juga tidak membedakan anak laki-laki dan anak perempuan. Tidak lebih sayang kepada yang satu dan kurang sayangnya kepada yang lain. Juga mereka tidak pernah membanggakan anak-anak mereka di hadapan orang lain, meskipun mereka patut dibanggakan. 
                  Hari berganti hari, tahun terus berlanjut. Tak terasa Amel semakin dewasa sekarang.  Seperti yang dicita-citakan dulu, Amel diterima di sebuah universitas kebanggaannya, Syiah Kuala. Dia lulus pada jurusan favoritnya yaitu fashion desainer, sama seperti keinginan ibunya. Tetapi Amel harus pergi meninggalkan orang tua dan saudara-saudaranya. Amel juga harus meninggalkan kampung halamannya karena kampus yang dituju letaknya di ibukota propinsi. Di satu sisi Amel bahagia bisa melanjutkan cita-citanya, tetapi di sisi lain ia sedih harus berpisah dengan orang-orang terkasih. 
                  “Kalau mau berhasil, tidakboleh cengeng”, begitu ucapan kak Husnul yang selalu terngiang di telinga Amel. Amel sering diejek oleh teman-teman sekolahnya waktu Amel menyebutkan cita-citanya. Amel dibullyhabis-habisan sampai ia menangis pada kakaknya tiap pulang sekolah. 
“Kakak juga tiap hari diejek oleh teman-teman sekolah dulu. Kakak dipanggil ‘cek gu’. Sekarang kakak sudah jadi guru kan? Anggap saja itu doa, jadi aminkan saja”, pesan kakaknya waktu itu.
                  Kak Husnul benar, pikir Amel. Kalau kak Husnul bisa sukses kenapa aku tidak? Amel terus menyemangati dirinya sendiri. Tetapi bagaimana dengan biaya kuliah yang tidak sedikit? Amel tahu kalau orang tuanya tidak mampu membiayainya. Uang tabungan Amel dari membuat batu-bata apakah cukup? Ah, gadis itu hampir putus asa. Tetapi ia tidak mungkin melepaskan kesempatan ini. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Amel sedih memikirkan takdirnya. No, no, no. Tidak ada kesedihan dalam perjuangan. Kalau tidak ada kesedihan pastinya tidak akan ada keberhasilan dan kebahagiaan. Amelpun bertekat untuk meraih kebahagiannya. 
Dan hari ini Amel berangkat ke Banda Aceh, dilepas oleh keluarganya dengan rasa haru.  Beberapa tetangga ikut melepas kepergian Amel. Mantan majikan dan beberapa tetangga ikut membekali Amel dengan sedikit uang saku. Mereka juga ikut terharu dan bahagia. Semua orang mendoakan agar Amel berhasil dengan gemilang. Cicit burung bersahutan dan pagi yang cerah mengantarkan Amel meraih cita-citanya. 
Di tempat baru itu, Amel menyewa sebuah kamar kos. Ternyata teman sekamar Amel juga kuliah di jurusan yang sama dengannya. Namanya Indri, seorang gadis yang baiknya luar biasa kepada semua orang. Amel sangat suka mempunyai teman yang baik hati itu. Gadis berkulit putih bersih dan bermata sipit itu selalu tersenyum, meskipun kadangkala mendapat perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya di kampus. Gadis itu juga tidak sombong meskipun dia anak orang kaya. Seringkali dia memberikan barang-barang mahal miliknya untuk Amel. Kalau Amel menolak dia akan memaksa sampai Amel menerima pemberiannya. 
                  Amel tahu diri. Meskipun dia jarang mendapat kiriman dari orang tua, tentu saja dia tidak boleh bergantung pada belas kasihan orang. Dia harus bisa menghasilkan uang. 
“Amel...., tolong buka pintu, nak,” terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Amel. 
Gadis itu bangun dari istirahat siangnya, membuka pintu kamar. Ternyata ibu kos yang memanggilnya. 
“Maaf, bu. Amel ketiduran. Banyak tugas tadi di kampus, jadi Amel capek sekali,Bu”, terang Amel.
“Ya, nak. Ibu ada pekerjaan untuk Amel, kalau Amel mau”, kata ibu kos. 
“Kerja apa, bu?”, jawab Amel tak sabar.
“Amel bisa ajar anak-anak mengaji Iqra’ kan?”, tanya ibu kos.
“Bisa, bu. Kapan Amel bisa mulai?, berondong Amel.
                  Pucuk dicinta ulam tiba. Amel yang sedang kesusahan memikirkan bagaimana caranya mencari uang, tiba-tiba kesempatan itupun datang. Allah sangatlah maha pemurah. Amel hanya mengharapkan hasil jerih payahnya dari mengajar mengaji cukup untuk biaya makan saja. Tetapi yang diperolehnya bahkan lebih dari itu. Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya yang ikhlas dengan cara yang tidak disangka-sangka. Orang yang disebut bu Nila itu ternyata seorang pejabat tinggi di kota itu. Tiap bulan Amel diberi imbalan yang tinggi untuk jerih payahnya. Ibu itupun bersedia membayar biaya kuliah Amel. 
                  Sekarang genap tahun ke tiga Amel menuntut ilmu. Banyak ilmu yang telah diserap olehnya. Gadis ulet itu sudah sangat mahir merancang model pakaian. Hasil rancangannya yang sangat  fashionableitu disukai oleh beberapa rumah mode yang ada di kota itu. Pemilik butik-butik ternama sering menghubungi Amel untuk meminta hasil rancangannya. Dan tentu imbalannya bisa mencapai jutaan rupiah. 
Sekarang Amel tidak pernah menerima kiriman lagi dari orang tuanya, tetapi Amel sudah sanggup membiayai orang tua dan adik-adiknya di kampung. Atap rumeh mereka tidak bocor lagi bila hujan, dan lantai tanah rumahnya sudah dibalut dengan semen yang licin. Amel juga sudah mengganti sepeda butut ayahnya dengan sepeda motor yang baru. 
“Nak, jangan terlalu asyik mencari uang.  Ingat, salat lima waktu jangan tinggalkan”, pesan bu Nur sekali waktu.
“Baik, mak. Itu yang selalu Amel jaga. Mamak jangan khawatir, ya”, jawab Amel sendu. 
Gadis itu tak dapat menahan kerinduannya dengan perempuan di seberang telepon itu. Sudah lama mereka tidak bertemu muka. Ingin rasanya Amel mencium dan memeluk ibunya erat-erat. Ingin Amel melihat ayahnya menunggangi motor baru. Amel juga ingin memeluk adik-adik kecilnya dulu yang sekarang semakin tumbuh besar. 
“Mak, maafkan Amel. Amel tidak pernah pulang untuk menemui mamak, ayah, danadek-adek,” pinta Amel kepada ibunya suatu waktu. 
“Amel rindu sekali pada semuanya. Tetapi Amel harus kerja agar bisa membiayai hidup kita, mak”, lirihnya sedih. 
Amel tidak pernah pulang sejak hari pertama dia meninggalkan kampungnya. Bukan karena Amel melupakan mereka, tetapi dia telah bertekad untuk pantang pulang sebelum berhasil. 
Empat tahun telah berlalu. Sekarang memasuki tahun ke lima. Sudah saatnya dia memberi khabar gembira kepada keluarganya. 
Mak, bulan depan Amel wisuda. Amel sudah kirim uang melalui kak Husnul. Nanti mamak dan semuanya datang ya, ke wisuda Amel. Uangnya cukup untuk beli baju baru semua anggota keluarga kita, mak. Mamakharus datang,ya”, pinta Amel dengan mata berkaca-kaca. 
Bu Nur tak dapat berkata-kata. Hatinya diliputi kebahagian yang tiada tara. Perempuan yang telah bercucu dua itu hanya mampu terisak sambil mengangguk-angguk di telepon. Untuk sesaat mereka saling menangis sendiri-sendiri, menangis bahagia.

Click to comment