Rintihan Hati

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Dok. Bicara si sibuk

Oleh :  Ayu Muspika
Siswi Kelas XII IPA A,  SMA NEGERI 1 BIREUEN, Aceh


            Asy-syifa Putri Sabiya Raisya merupakan seorang remaja yang baru saja menginjak umur tujuh belas tahun. Meskipun sudah berumur tujuh belas tahun, namun sifat kekanak-kanakan belum sepenuhnya hilang pada diri Raisha. Selain kekanak-kanakan, Raisha juga merupakan seorang remaja yang sangat sensitif. Bahkan tak jarang para sahabatnya sering mengolok-oloknya karena sifatnya itu.
            Raisha adalah gadis remaja seperti pada umumnya. Pada pagi hari dia menuntut ilmu pada sekolah menengah atas dan pada malam hari, Raisha menimba ilmu agama pada sebuah balai pengajian yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
            Hingga suatu ketika, seorang ustadz muda yang sangat tampan mulai jatuh hati pada dirinya, dan berniat menjadikan Raisha sebagai pelengkap separuh agamanya.
            Tanpa sepengatahuan Raisha, ustadz muda itu selalu mencuri pandang untuk memperhatikan Raisha. Lambat laun, ustadz muda ini memdatangi kediaman orang tua Raisha untuk mengkhitbahnya.
            Dikhitbah oleh seorang ustadz?
            Ini bagaikan mimpi bagi Raisha. Setiap santri pasti sangat senang bila dikhitbah oleh seorang ustadz, ditambah lagi dia adalah ustadz muda dan juga sangat tampan.
            Ustadz Azka Rafif Faraz Alfariq atau lebih di kenal dengan panggilan Rafif, merupakan ustadz muda yang alim, sekaligus sangat tampan. Iris matanya yang berwarna coklat muda keabu-abuan, bibir yang merah merona, hidung yang mancung dan kulit putih, ditambah lagi dengan senyumannya yang bisa membuat kaum hawa terpana.
            Banyak sekali kaum hawa yang menjatuhkan hatinya kepada ustadz muda yang satu ini. Tak sedikit pula kaum hawa yang langsung menyatakan perasaannya kepada ustadz Rafif. Namun, ustadz Rafif selalu menolaknya dengan sangat halus.
            Hingga dia mengenal seorang remaja yang yang menurutnya sangat unik, berhasil meluluhkan hatinya dan mencairkan yang beku bagaikan es kutub utara.
            Sebuah kesalahan dilakukan oleh ustadz Rafif, sehingga membuat Raisha mendapat cibiran dan kritikan yang pedas dari para santri yang menyukai ustadz Rafif.
            Ustadz Rafif secara tidak sengaja memberikan perhatian lebih kepada Raisha. Bukan tanpa alasan ustadz Rafif lebih memperhatikan Raisha dari pada santri lainnya, melainkan karena Raisha sekarang telah resmi menjadi makhthubahnya, dan pernikahan mereka akan berlangsung ketika Raisha telah lulus menjadi sarjana.
            Meskipun harus menunggu selama bertahun-tahun, ustadz Rafif ikhlas menunggu Raisha, karena dia ingin melihat Raisha menjadi perempuan karier. Dia tahu bahwa Raisha akan menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya, jadi ustadz Rafif menginginkan agar Raisha bersekolah setinggi mungkin, tanpa melupakan tugasnya untuk menuntut ilmu agama.
            Hal itu membuat santri lainnya merasa iri hati dan selalu mencibirnya dengan kata-kata yang kasar dan sangat pedas.
            Perempuan yang tidak tahu diri, yang bisanya hanya mengggoda seorang ustadz muda
            Perempuan pecicilan!
            Kelihatannya saja alim, tetapi ternyatahatinya busuk, hanya bisa menggoda ustadz muda
            masih baru di sini, sudah berani menggoda ustad, apalagi jika sudah lama, pasti semua ustadz muda digoda olehnya.
            Hati Raisha terasa sangat sakit mendengar cibiran mengenai dirinya. Wahai Allah! Seburuk itukah Raisha di mata mereka?. Semua tuduhan yang dikatakan mereka, sama sekali tidak benar, sekalipun Raisha tidak pernah menggoda ustadz yang ada di pengajian itu.
            Ingin rasanya Raisha membalas semua cibiran mengenai dirinya, namun diurungkan, karena percuma saja menjawab semua perkataan mereka. Kemarahan dan kebencian tidak akan pernah selesai jika dibalas dengan hal serupa pula. Sehingga Raisha memilih untuk diam dan mendengarkan semua cibiran terhadapnya.
            Hari demi hari terlewati, perlakuan para santri semakin semena mena terhadap Raisha. Bukan hanya cibiran padas yang didapat, tetapi dia mulai dikucilkan oleh teman temannya
Wahai Allah, mengapa semua orang membencinya setelah ustadz Rafif mengkhitbahnya?
Menangis
Itulah yang selalu dilakukan Raisha di penghujung sujudnya pada sepertiga malam terakhir. Raisha selallu mengadukan kegundahan dan kesedihannya pada sang pencipta.
Raisha tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat tahajjud. Meskipun bukan shalat wajib, namun Raisha merasa berat untuk meninggalkan shalat malam itu. Raisha tidak ingin menyia-nyiakan waktu dimana doa diterima langsung oleh Allah.
Setelah melaksanakan shalat malam, hati Raisha menjadi lebih tenang dari pada sebelumnya.

***

Pagi pagi sekali, setelah melaksanakan shalat subuh, Raisha sudah bergabunng di meja makan untuk sarapan bersama orang tuanya. Momen seperti inilah yang selalu ditunggu oleh Raisha, makan bersama keluarganya, meskipun ini merupakan rutinitas yang selalu mereka lakukan, namun bagi Raisha ini merupakan momen yang sangat berharga baginya.
Bisa bercengkrama bersama orang tuanya sekilas menghapus setiap rasa sakit Raisha akibat cibiran dari temannya. Meskipun Raisha tersenyum, tetapi Zahra mengetahui bahwa putri semata wayangnya sedang terluka. Sebagai seorang ibu, Zahra sangat mengenal betul tentang sifat dan sikap putrinya.
Selesai sarapan Raisha hendak kembali ke kamarnya untuk membaca novelnya karena ini merupakan hari minggu. Namun urung karena Zahra menitahkan Raisha untuk ke ruang keluarga karena dia ingin berbicara empat mata dengan putrinya.
Seperti seorang ibu lainnya, Zahra membelai kepala Raisha yang ditutupi jilbab instan yang berwarna baby pink, membuat Raisha terlihat sangat feminim.
“Raisha, kenapa kamu terlihat sedih akhir-akhir ini?” Zahra bertanya dengan sangat lembut pada putrinya.
Raisha kaget dengan pernyataan yang terlontar dari bidadari tanpa sayapnya itu, dengan cepat Raisha kembali menetralkan mimik wajahnya agar ibunya tidak mengetahuinya.
“Raisha tidak apa-apa umi.” Alibi Raisha, dia tidak mungkin mengatakan menceritakan semuanya pada ibunya, dia tidak ingin ibunya tahu akan masalah yang menimpanya. Raisha ingin bersikap dewasa yang tidak suka mengadu pada ibunya.
Zahra tersenyum bangga melihat putrinya yang sudah mulai bisa bersikap dewasa. Selama ini, setiap Raisha mempunyai masalah, dia akan selalu mengadukan kepada ibunya.
Zahra menggengggam tangan putrinyadan meyakinkan Raisha untuk menceritakan masalahnya kepada dirinya.
“Nak, kamu bisa menyembunyikan kesedihanmu dengan orang lain, tetapi tidak dengan umi.” Jeda tiga detik, Zahra menghembuskan napas kasar dan melanjutkan kata-katanya. “Umi adalah ibumu, sembilan bulan kamu ada di dalam kandungan umi. Umi tahu semua tentang dirimu, ceritakanlah semua masalahmu pada umi Sha.” Sekuat tenaga Raisha membendung air matanya agar tidak tumpah. Tetapi nihil, usahanya sia-sia, cairan bening lolos begitu saja membasahi pipi gembulnya.
Raisha langsung menghamburkan tubuh mungilnya ke dalam dekapan ibunya, dia menangis tesedu-sedu seraya terus mengeratkan dekapannya.
Zahra bisa merasakan kepedihan yang dialami oleh putrinya, dia terus mengelus kepala Raisha dan sesekali mengecup kepala putrinya. Dia berharap dengan pelukan ini bisa sedikit mengurangi rasa sakit putrinya.
            Setelah Raisha lebih tenang, Zahra kembali bertanya kepada putrinya. “Sayang ceritakanlah, mengapa akhir-akhir ini kamu terlihat sangat sedih? Apa kamu tidak bahagia menjadi makhthubah dari nak Rafif?” Zahra bertanya dengan sangat lembut dan menggenggam tangan Risha seolah meyakinkannya agar mau menceritakan masalahnya.
Raisha ragu-ragu untuk bercerita, namun Zahra terus saja meyakinkan  Raisha untuk bercerita. Raisha menatap lekat manik mata ibunya yang telihat sangat teduh sehingga membuat Raisha menceritakan rintihan hatinya kepada sang ibu.
Raisha menghirup oksigen di sekelilingnya, lalu dia mulai menceritakan setiap cibiran dari temannnya. Bagaimana sakit hatinya ketika mendengar cibiran dari temannya, hingga akhirnya dia dikucilkan oleh semua temannya.
Zahra merasa prihatin mendengar rintihan hati putrinya, dia tidak menyangka jika putrinya dihina dengan kata-kata yang sangat kasar.
“Nak, tidak semua orang menyukai seorang ustadz, pasti ada beberapa orang yang akan mencibirnya, begitupun denganmu. Tidak semua orang akan bisa menerima bahwa kamu adalah makhthubah dari seorang ustadz, pasti ada yang tidak suka dengan statusmu dan akan mencibirmu. Maka dari itu, kamu harus bisa menerima setiap cibiran pedas dari orang lain. Serahkan semuanya pada Allah. Ingat! Tidak penting penilaian orang terhadapmmu, yang terpenting itu adalah penilaian Allah kepadamu.”
Raisha sadar bahwa dia tidak perlu bersedih dan mendengarkan cibiran dari orang lain. Yang terpenting bagaimana penilaian Allah terhadapnya.
Raisha bersyukur kepada Allah, apa yang terjadi merupakan kehendak dari Allah, dan dari situ dia belajar agar bisa menjadi perempuan yang lebih baik lagi dan bisa menjadi istri yang salihah bagi suaminya kelak.

Click to comment