BAGAI HIDUP DI SANGKAR EMAS

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh: Dwi Arianti, M.Pd
Guru SMAN 15 Surabaya

            "Dari hasil pemeriksaan secara menyeluruh, Ibu menderita kanker getah bening stadium dua dan untuk pengobatannya harus menjalani kemoterapi." Dokter Een Irawan menjelaskan dengan pelan kepadaku dan suamiku. Kalimat itu seolah palu raksasa yang menghantam dadaku. Tubuhku lunglai dan bibirku bergetar tak tahu harus berkata apa. Mataku berkaca-kaca teringat  keceriaan anakku dan  kematian sudah ada di depan mata.
            "Mama harus kuat demi anak semata wayang kita. Semangat ya Ma!" Suamiku memberi motivasi agar aku tegar dalam menjalani ujian hidup yang berat.
            Aku pegang tangannya dan tersenyum, namun air mataku tak berhenti mengalir dan bantalku basah. Hingga aku pun terlelap entah karena pengaruh obat atau kelelahan menangis.
*****
            Tak lama kemudian, terdengar suara-suara yang tak asing bagiku saat diriku mulai tersadar dari tidurku. Yaaahh... Suara sahabat-sahabat kuliahku dulu. Mereka adalah Riris, Vina dan Desi. Kubuka pelan-pelan mataku dan mereka langsung mendekatiku dan menyapaku. 
            "Hai Nia sayang. Ini kami datang membawakan salad buah dan pie kesukaanmu. Nanti kalau sudah sembuh kita jalan-jalan lagi ya seperti dulu!" Riris menghiburku sambil memperlihatkan salad dan pie itu. 
            "Aku suapin ya Nia? Sedikit demi sedikit gak apa-apa asal perutmu terisi dan cepat sembuh," bujuk Desi. 
            Vina, sahabatku yang paling diam, hanya tersenyum sambil tangannya memijat kakiku.
            Alhamdulillah bersyukur sekali aku mempunyai sahabat yang baik dan perhatian. Aku sangat terharu.
Sudah lima tahun kami tidak bertemu sejak aku menikah dengan Mas Deni. Aku menjalani kehidupanku sebagai ibu rumah tangga saja. Rutinitasku sehari-hari adalah berbelanja, memasak, mengantar anak ke sekolah, membersihkan rumah dan sesekali menonton TV. Begitu terus hingga kadang-kadang merasakan kejenuhan. 
            Dia sangat pencemburu. Meski HPku keluaran terbaru, tetapi segala aplikasi sosial mediadan chat; Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, Line, dan IMO  dihapus. Aku tidak boleh menggunakan paket datawifi di rumah. Jadi benar-benar seperti HP jadul yang hanya digunakan untuk SMS dan telepon saja. Untuk nama- nama di kontak pun selalu dia awasi. Duniaku terasa sempit. Aku hanya bisa menelpon ibu dan saudara-saudaraku saja jika ingin sharing. 
Entahlah... Mengapa Mas Deni begitu over protectivepadaku. Pernah suatu ketika dia cerita kepada adikku. Dia tidak ingin aku bergaul dan bermain dengan teman-temanku dan menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan seperti dulu; fashion show, foto model, ngemall, kegiatan sosial dan lain - lain
            Kehidupanku berubah 180 derajat. Begitupun dengan sikapku. Aku yang dulu dikenal sangat ceria dan humoris, sekarang menjadi pendiam dan tertutup. Hidupku bagai di sangkar emas. Rumah mewah dan segala fasilitas yang ada sama sekali tak membuatku bahagia. Hingga tubuhku semakin lama semakin kurus dan akhirnya menderita kanker getah bening.
            Ingin rasanya aku kabur dari rumah, namun apa daya. Mas Deni tak pernah memberiku uang lebih. Hanya cukup untuk berbelanja sehari. Untuk kebutuhan lain-lain, selalu dikontrol dengan sangat ketat. Mungkin orang lain tak percaya, namun inilah kenyataannya. Mana mungkin istri seorang pengacara tak memegang uang? Jadi demi nama baik keluargaku, aku tak pernah menceritakan penderitaanku.
            Setelah lama bercanda, Vina berbisik padaku sambil menyodorkan amplop. Simpanlah baik-baik. Semoga ini bermanfaat untukmu. Tak berlangsung lama, akhirnya mereka berpamitan karena dari luar kamar terdengar suara Mas Deni berbicara dengan seorang perawat. Lalu kubuka amplop putih itu. Ya Allah... Ada sejumlah uang yang lumayan banyak bagiku dan secarik surat.
             Intinya mereka berdoa dan mengharap kesembuhanku. Mereka ingin aku bahagia dan suatu saat bisa berkumpul lagi. Mereka juga memberi nomer HP, jika suatu saat aku membutuhkan pertolongan. Terharu sekali aku membacanya. Namun seketika itu aku cepat-cepat menyimpan nomer mereka di HPku.
            Tak lama kemudian masuklah suamiku dan Dokter Een. Setelah diperiksa, suamiku bertanya tentang penyakitku dan langkah-langkah pengobatannya. Dokter Een sudah menjelaskan dengan rinci, namun terlihat jelas suamiku tak puas dengan jawabannya hingga nada suaranya meninggi. Aku lihat Dokter Een menghela nafas panjang dan melihat ke arahku. Mungkin dia tidak tega bersitegang dengan suamiku di hadapanku. Hingga akhirnya dia pamit dan meminta suamiku untuk ke ruang jaga.
            Hatiku hancur dan kalut melihat suamiku yang tidak sabaran dan tak bisa menahan nada tinggi suaranya. Aku bisa bayangkan apa yang terjadi di ruang jaga. Pasti dia akan semakin emosi jika dokter tidak bisa memberikan penjelasan seperti keinginannya. Betul saja, saat memasuki kamarku, dia langsung ngomel-ngomel. 
            "Aku malas bertemu dengan Dokter Een lagi. Mulai besok, aku gak mau kesini lagi. Biar Bibi atau ibu dan saudaramu yang menjagamu disini," katanya bersungut-sungut.
            Hari-hari di rumah sakit kulalui dengan pasrah. Namun ada hikmah di balik itu semua, teman-teman dan saudara-saudaraku tak henti-hentinya menjengukku. Aku bahagia karena mereka selalu memotivasiku. 
            "Nia, gimana dengan rambutmu setelah beberapa kali kemoterapi?" Desi seolah kepo dengan keadaanku.
            "Mau lihat? Nih...!" kataku sambil membuka penutup kepalaku. 
Ketiga sahabatku itu pun terkejut. Yah... Rambutku yang ikal, panjang dan tebal akhirnya rontok dan habis. Tinggal rambut-rambut kecil dan sedikit di kepalaku. Untuk mencairkan suasana, aku pun mengajak mereka bercanda. Aku bilang bahwa model rambut seperti ini lebih hemat karena tidak menghabiskan banyak shampo dan tidak perlu sisir. Kontan mereka pun ikut tertawa.
            Hari ini adalah hari ke-21 aku opname di rumah sakit. Dokter Een memberitahu bahwa aku boleh pulang dan rawat jalan. Hatiku gembira sekali karena aku sudah bisa beristirahat di rumah dan lepas dari infus dan jarum suntik. 
            "Bu Nia, ini resepnya tolong obatnya diambil dan diminum secara rutin agar Ibu lekas sembuh. Hindari makanan dan minuman yang memicu tumbuhnya sel-sel kanker. Usahakan olahraga semampunya dan istirahat yang cukup. yang terakhir, Ibu harus terus berdoa agar Allah SWT mengangkat penyakitnya. Oya, di resep itu ada nomer HP saya. Jika ada keluhan silahkan hubungi langsung. Semangat terus ya Bu!" Dokter Een memotivasiku dan menyodorkan resepnya lalu berpamitan.
            Setelah menyelesaikan administrasi, adik dan Ibuku mengantarkanku pulang. Sampai di rumah, anakku semata wayang tertidur pulas. Bibi terlihat sedang membersihkan rumah. Kupanggil-panggil suamiku, namun dia tak ada. Mungkin dia lagi bertemu dengan kliennya, pikirku. Ibu dan adikku berpamitan karena nanti malam akan ada pengajian.
            Kurebahkan tubuhku di kamarku. Kulihat dinding kamarku dan juga foto-foto keluargaku. Oohh.. Bahagianya aku bisa tidur di kamarku lagi. Namun, saat kurebahkan tubuhku di ranjang, ada benda yang mengganjal. Ternyata HP Mas Deni yang lama ketinggalan. Kuambil dan akan kutaruh di meja. Namun entah mengapa, tiba-tiba ada keinginan untuk membukanya. 
            Dengan hati berdebar-debar, kubuka aplikasinya satu persatu. Aku tidak berani membuka chat yang belum dibacanya. Takut jika ketahuan. Mataku tertuju pada satu chat di Whatsapp. Ada chat dari seseorang yang bernama Heni. Panjang sekali percakapan antara Mas Deni dan dia.
             Awalnya Heni menanyakan tentang kasusnya lalu diterangkan oleh Mas Deni. Selanjutnya dia mengajak Mas Deni makan siang agar pembicaraan kasusnya lebih enak dan Mas Deni pun mengiyakan. Semakin lama chat-nya semakinhot. Heni pun memanggil sayang pada suamiku. Begitupun sebaliknya. 
            Bahkan arah pembicaraan mereka seperti sepasang kekasih. Tanganku langsung gemetaran dan tak kuat meneruskannya. Hatiku hancur lebur. Rasa sakitnya melebihi rasa sakit dari kankerku. 
            Ya Allah... Ujian apalagi yang harus hamba jalani. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh anakku. 
            "Mama... Aku kangen." Dini memeluk erat tubuhku sambil menciumi pipiku. Aku terharu membalas pelukan dan ciumannya. Maklum saja selama aku dirawat, Mas Deni tak mengijinkannya ikut menjenguk.
            Hari-hariku kulalui dengan hampa dan tanpa semangat. Aku hanya meneruskan hidupku saja. Terserah Sang Kuasa memberi takdir yang bagaimana di akhirnya. Ingin rasanya aku menanyakan pada Mas Deni tentang Heni, namun aku takut. Namun aku sadar, sebagai seorang istri aku tak sempurna. Aku tak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya. Seandainya aku dipoligami pun aku tak bisa menolaknya.
            Jam dinding berdetak. Kulihat jarumnya sudah menunjuk ke angka 10 malam. Namun,suamiku tak kunjung pulang. Makan malam yang telah kusediakan pun sudah dingin.
            Hatikupun gundah.Pikiranku melayang. Membayangkan Mas Deni berduaan dengan Heni. Ahh... Cepat-cepat kuhapus bayangan itu. Aku doakan suamiku cepat pulang. Bagaimanapun dia adalah bapak dari anakku. Dan aku pun sangat mencintainya. 
           Saat aku menunggunya sambil melihat TV, tiba-tiba HPku berdering. Ternyata dari seorang polisi yang mengatakan bahwa suamiku kecelakaan dan dirawat di rumah sakit tempatku di opname dulu. Segera aku menelpon Desi sahabatku untuk mengantarkanku.    Dalam perjalanan tak henti-hentinya aku berdoa sambil terus menangis. Aku takut keadaan Mas Deni parah. 
            Kami menuju ke informasi dan suamiku trrnyata masih dirawat di IRD. Langsung saja kami berlari dan mencarinya. Satu persatu kulihat para penderita. Sampai akhirnya mataku tertuju pada penderita di tempat tidur paling ujung. 
            Ya... Itu Mas Deni. Ya Allah... Keadaan Mas Deni sangat parah. Dia tak sadarkan diri dan menurut dokter harus dioperasi secepatnya. Aku pun menanda tangani surat pernyataan. Lalu suamiku dibawa ke ruang operasi. Desi tak henti-hentinya menyerukan agar aku tetap kuat, sabar dan ikhlas. Setelah kurang lebih tiga jam, seorang dokter keluar dari ruangan. Bergegas aku memghampirinya dan menanyakan keadaan suamiku. 
            "Operasi sudah selesai Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Allah berkehendak lain. Kami minta maaf ya B,." kata Dokter Sandi lalu berjalan ke ruangan lain. 
            Sontak aku menangis, pandanganku mulai gelap dan tubuhku langsung lunglai. Desi pun sigap berusaha menopang tubuhku, namun tubuhku yang lebih besar membuatnya tak kuasa menahan tubuhku. Desi berteriak minta tolong.
            Prosesi pemakaman Mas Deni dilaksanakan pagi hari. Keluarga, sanak saudara, tetangga dan teman-teman kami pun tak henti-hentinya berdatangan. Air mataku seolah habis dan kering. Entahlah bagaimana nasibku dan anakku nanti.
            Ketika para tamu sudah sepi, tinggalah aku ditemani ibu dan keluargaku. Aku coba menenangkan diri di kamar dan melaksanakan shalat Isya. Setelah selesai berdoa, pintuku diketuk oleh ibu. 
            "Nia, ada tamu." seru ibuku
            Aku pun segera memakai hijab dan merapikannya. Saat menuju ke ruang tamu, kulihat sosok pria duduk membelakangiku bersama dengan Vina sahabatku. Kuucap salam dan dia pun menoleh sambil membalas salamku.
            "Wa'alaikumsalam. Saya menyampaikan rasa turut berduka cita atas meninggalnya Pak Deni." Kata pria itu sambil menyalamiku. 
            Wajahnya seolah tak asing bagiku. Yah... Dia adalah Dokter Een Irawan. Tapi kenapa dia kesini dan bersama Vina?
            Saat aku belum menemukan jawabannya, tiba-tiba benjolan di pinggangku terasa sakit luar biasa. Aku tak kuat menahannya hingga aku pun menjerit. Sontak Dokter Een membopong tubuhku ke mobilnya menuju ke rumah sakit. Vina dan ibuku pun mengikuti kami dari belakang.

Click to comment