Warung Jasa Gure, Warung Belajar Entreprenuership

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Foto Dok. Pribadi






Oleh Tabrani Yunis

Pagi Minggu, 10 Maret 2019, sekira pukul 07.15 WIB, seperti biasanya aku melakukan kegiatan olah raga pagi, seperti bersepada atau jogging. Pagi ini aku tidak bersepeda karena ban sepedaku agak kempes. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki atau jogging. Aku mengambil start dari POTRET Gallery di jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya, Banda Aceh. Setelah berjalan sekitar 100 meter dari POTRET Gallery, tampak banyak papan bunga yang di pajang di median jalan dan sisi kiri jalan yang merupakan tanjakan dan turunan dari jembatan Pango yang menghubungkan desa Pango Raya dengan desa di sebarangnya, desa Tanjong, Aceh Besar.

Papan bunga yang terpejang begitu semarak itu merupakan ucapan " Selamat atas grand opening" warung Jasa Gure.Nah, membaca " Jasa Gure", dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan dengan jasa guru, menggerakkan pikiranku, karena muncul berbagai pertanyaan, seperti, mengapa warung itu menggunakan nama dengan sebutan Jasa Gure? Apakah warung itu sebagai bentu apresiasi terhadap para guru? Apakah pula warung tersebut dibuka sebagai balas jasa terhadap para guru? Ya, pokoknya banyak sekali pertanyaan yang bergelantungan di pikiranku.

Hal itu terus menjadi bahan baku yang memanasi alam pikiranku. Namun, ketika mendekati warung yang terletak di sebelah kiri jalan, dari arah POTRET Gallery tersebut, tiba-tiba seorang sagabat memanggilku dan mengajak aku singgah. Bukan hanya dia yang memanggilku, ada beberapa orang lain lagi yang aku kenal dan mengajakku untuk singgah dan meneguk secangkir kopi atau teh. Namun, karena baru saja memulai aktivitas jogging, aku menjawab ' aku lanjutkan olah raga dulu".

Aku pun kemudian melanjutkan jogging mengelilingi jalan di bawah jembatan Pango, hingga ke Politeknik Aceh.Usai melakukan olah raga dengan berkeliling jalan di bawah jembatan tersebut, badanpun sudah terasa hangat yang ditandai dengan keluarnya keringat. Panas badan yang diharapkan membakar sedikit lemak yang ada dalam tubuh. Kata banya orang, olah raga itu sehat dan bila dilakukan secara rutin, akan membuat tubuh sehat.Begitulah yang selam ini kita pelajari dan dengar dari orang-orang yang mengetahui akan manfaat ol;ah raga.

Lalu, sambil pulang ke POTRET Gallery, aku kembali melewati warung Jasa Gure yang sedang dipenuhi banyak orang atau tamu, laki-laki dan perempuan.Tepat di depan warung tersebut, aku di panggil oleh salah seorang pengunjung warung tersebut dan akupun singgah. Aku disuguhkan kopi dan teh, serta air mineral yang sekaligus sebungkus basi dan ketan kuning. Ketan kuning memang selalu ada di kala ada acara seperti launching atau grand opening, maupun acara peusijuek toko, mobil atau warung dan lainnya. Begitulah adatnya orang Aceh. Karena sudah disajikan makanan dan minuman, aku yang sedang tarasa haus, merasa lega karena bisa mengibati rasa haus.Sambil mencicipi sajian kopi dan laiinya, rasa ingin tahuku menggelora dan mendorongku untuk mencari tahu tentang warung Jasa Gure tersebut. Aku bertanya kepada Pak Jailani, yang Kepala SMP Negeri 2 Banda Aceh. Beliau duduk semeja dengan tamu-tamu lain yang umumnya adalah kepala sekolah.

Ternyata, tidak salah, bahwa semua pertanyaan yang muncul kala melihat papan bunga di waktu pagi itu. Ternyata, warung Jasa Gure ( Guru) itu adalah warung yang dibuka oleh "Komunitas Kepala SMP dan SD di Kota Banda Aceh". para Kepala Sekolah SD dan SMP Negeri se kota Banda Aceh tersebut dengan bersama-sama membuka warung dengan memberikan nama " Jasa Gure".Apa yang dilakukan oleh para kepaka sekolah ini, sesungguhnya ingin mempraktikan pengetahuan dan ketrampilan kewirausahan (entrepreneurship), sekaligus untuk membangun komunikasi dan silaturahmi antar kepala sekolah di kota Banda Aceh.

Lalu, untuk mewujudkan konsep warung yang konon juga sebagai buah pikiran kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh itu, para kepala sekolah tersebut berkontribusi menanam saham, masing-masing antara Rp 500.000,- hingga Rp 2.000.000,-. Para pemilik saham lebih kurang 100 kepala sekolah aktif dan ditambah lagi dengan kepala sekolah yang sudah pensiun.Ketika ditanyakan bagaimana para kepala sekolah bisa diuntungkan dari usaha ini, menurut ceritanya, keuntungan akan didapatkan sesuai dengan saham yang dimiliki. Tidak ada pemilik saham yang dominan. Warkop yang dibangun dengan konsep dari kita untuk kita. 

Selayaknya, inisiasi ini kita apresiasi dan jadikan sebagai pembelajaran bagi para kepala sekolah, guru, peserta didik serta orang tua. Membuka usaha atau bisnis berbasis komunitas seperti ini, akan memberikan warna baru bagi kepala sekolah dan pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha ini.


Dengan demikian komunitas kepala sekolah terjaga dan komunikasi antar kepala sekolah bisa terjaga dan tersambung dengan adanya Warung kopi ini. Lebih dari itu, keberadan warkop ini menjadi wahana berkumpul dan silaturahmi para insan pendidikan. Apalagi, mengikuti trend sekarang, warung kopi akan lebih menarik bila memiliki fasilitas yang juga sesuai dengan kebutuhan kaum milenial seperti wifi, ruang rapat dan ruang salat.



Click to comment