Berwisata Sejarah ke Melaka, Malaysia Banyak Hikmah

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Tabrani Yunis

Ini adalah kunjungan singkat, yang hanya dalam waktu kurang dari dua jam berada di salah satu kawasan objek wisata di Negara Malaysia. Kunjungan singkat  dan terbatas, karena tiba di kota ini, sudah pukul 10 malam yang membuat tubuh hanya ingin rebah di peraduan, menanti pagi. Keinginan untuk menikmati pesonan wisata di sebuah kota yang terlerak di dekat Selat  Malaka yang  memisahkan antara Aceh dan Malaysia, menjadi sangat menarik, karena memberikan inspirasi dan pelajaran penting, walau sebenarnya bukan sebagai pejabat di Dinas pariwisata. Ya, paling tidak memberikan pelajaran bagi penulis yang kemudian bisa dibagikan lewat tulisan ini.

Melaka atau lebih sering disebut Malaka merupakan  kota terakhir dari tujuan wisata  kami dari paket perjalanan tour  4 hari ke dua negara pada tanggal 17 November 2018 hingga 20 November 2018. Dikatakan kota terakhir, karena kota ini adalah destinasi terakhir  kami kunjungi setelah di beberapa objek wisata di Malaysia seperti kawasan wisata Putra Jaya, Twin Tower Kuala Lumpur, Window shopping di pasar Petaling, Lapangan Merdeka, the river of live, Batu Cave, Istana negara, hingga ke Genting highland dan  objek wisata di Singapura. sebelum pulang ke tanah air, kami bermalam semalam di Melaka.

Pagi itu, tanggal 20 November 2018 kami pagi - pagi sudah bangun dan sarapan di hotel tempat kami menginap. Matahari mulai menyingsing menebarkan cahaya menghangatkan suasana pagi di kota bersejarah Malaka. Usai sarapan, rombongan kami berangkat dengan bis wisata yang sudah membawa kami keliling Malaysia dan Singapura itu, melaju meninggalkan hotel melewati pertokoan- pertokoan yang banyak menjual aneka ragam souvenir. Kota ini, sangat kentara dengan nuansa kota wisata. Hanya dalam hitungan menit, kami tiba di kawasan Red Square yang juga dikenal dengan sebutan Dutch Square.  Ada sejumlah becak yang siap menawarkan jasa untuk keliling, berwisata dan orang-orang yang menjual banyak souvenir. Biasalah kalau di tempat wisata itu banyak yang memnfaatkan peluang untuk mengais rezeki.


Bas Persiaran yang berwarna putih menurunkan kami tepat dekat tugu kota Malaka yang menjadi tempat para wisatawan berfoto dan selfie. Sesuai dengan nama kawasannya Red Square, ketika turun dari bas, kita langsung menyaksikan bagunan-bangunan bersejarah yang berwarna merah bata dan jendela-jendela yang berwarna putih. Terlihat pula sebuah bangunan panjang yang diberi nama Stadthuys, juga bangunan bersejarah yang di dindingnya ada sebuah prasasti dengan tulisan " Roll of honoer  1941-1945, Battalion Straits Settlement volunteer force (Malacca Volunteer Corps) berisi sejumlah nama orang-orang yang berjasa sebagai volunteer di Malaka itu.  Menurut sejarahnya bangunan ini adalah kantor Gubernur. Namun, kemudian sudah beralih fungsi menjadi museum sejarah dan etnografi. Apa yang membuat unik dari bangunan ini adalah karena bangunan ini bernilai sejarah. 

Di lokasi yang sama, terdapat sebuah gereja yang warnanya juga merah. Christ church Melaka yang didirikan pada tahun 1753. Di seberang jalan, di pinggir sungai yang ditanami dengan bunga-bunga indah, terdapat pula sebuah kincir yang juga menjadi incaran para pelancong untuk selfie. Lokasi wilayah ini terasa sangat aman. Kalau kita ingin keliling-keliling di kawasan ini, kita bisa naik becak yang berhias begitu indah Tak jauh dari kincir, ada sebuah jembatan yang menghubungkan areal Red Square dengan wilayah pertokoan yang juga kelihatan sangat pekat dengan warna-warna keturunan Tionghoa. Ya, kelihatannya itu adalah China Town di Melaka. Soal benar atau tidak, bisa kita coba cari jawaban yang benar. Namun, apa yang juga membuat hati berdecak dan kagum adalah ketika sebuah sungai yang ukurannya tidak teralu besar itu. Sungai itu dikenal pula dengan sungai Melaka yang tampak begitu tenang. Sayang sekali kami tidak bisa menikmati indahnya wisata sungai dengan menggunakan Melaka River Cruise . Maka, bagi yang punya waktu yang cukup dan banyak, bisa menikmati wisata sungai dengan menggunakan Melaka River Cruise menelusuri sepanjang aliran sungai yang indah tersebut.

Nah, mengingat waktu kami yang begitu singkat berada di kota yang dijadikan sebagai UNESCO World Heritage site,kami bergegas mendekati sebuah kapal besar yang terletak di pinggir sungai Melaka. Tidak ubahnya seperti kapal PLTD apung di kota Banda Aceh yang kini menjadi saksi sejarah dahsyatnya bencana tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, yang membawa kapal PLTD apung mendarat di Punge Blang Cut dan tidak pernah kembali lagi ke laut dan akhirnya menjadi objek wisata tsunami. Menelusuri pinggiran sungai tersebut kita bisa melihat bangunan megah yang diberi nama Casa del Rio yang letaknya di seberang sungai. Bangunannya keihatan cantik dan megah.

Dalam short visit atau kunjungan singkat ini, kami sebagai  pengunjung merasakan sekali nuansa wisata sejarah di kawasan ini. Tampak banyak benda peninggalan sejarah seperti benteng dan beberapa meriam yang diletakan di benteng yang berada di sisi sungai itu.  Ya,  kita bisa membaca kalau meriam itu mungkin ketika VOC masuk ke wilayah ini, sebab di meriam tersebut ada tulisan VOC.

Sayangnya, waktu yang tersedia bagi kami di kawasan wisata ini tinggal beberapa menit lagi, karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dan singgah di Mithsui mall untuk mencari oleh-oleh yang konon harganya cukup menarik untuk barang-barang import. Namun, perjalanan singkat di Melaka ini membarikan pelajaran penting sebagai bahan kajian yang bisa kita bandingkan dengan potensi wisata di daerah kita sendiri. Ada beberapa catatan yang bisa dapatkan. Pertama, Pemerintah Malaysia, khususnya di wilayah Melaka memiliki kearifan lokal yang kuat untuk menjaga agar budaya dan sejarah mereka terjaga atau lestari. Hal ini, bisa kita lihat bagaimana upaya mereka merawat dan menjaga benda-benda peninggalan zaman Belanda di wilayah ini. Sebenarnya, di Indonesia, khususnya di Aceh dahulu banyak kita lihat peninggalan zaman Belanda seperti benteng-benteng, besar dan kecil yang terletak di wilayah pantai Aceh, seperti wilayah selat Malaka. Sayangnya, benteng-benteng tersebut satu per satu hilang ditelan ombak atau juga rusak dimakan masa. Kalau pun ada hanya satu atau dua yang tertinggal, tanpa mendapat perawatan dan penggunaan yang maksimal.

Kedua, pemerintah Malaysia, khususnya di Melaka, tampak memiliki kemampuan memanfaatkan sungai dengan baik dan bersih. Lihat saja bagaimana sungai Melaka yang kecil tersebut, tetapi menjadi kawasan wisata air yang sangat menarik. Sedangkan di Indonesia, sepertihalnya di Banda Aceh, ada Krueng Aceh yang luas itu, tetapi seperti tidak ada ide bagi pemerintah daerahnya untuk menjadikan sungai itu sebagai wilayah wisata air.


Ketiga, di kawasan Red Square ini, terlihat sebuah kapal besar yang menjadi saksi atau bukti sejarah yang terjaga dan termanfaat dengan baik, yang mampu menggaet dan membuat banyak orang yang datang untuk melihat kekayaan sejarah Melaka. Hal serupa juga sebenarnya ada di Aceh saat ini, Aceh pasca tsunami dianugerahi sebuah kapal PLTD Apung yang besar yang kini juga menjadi objek wisata di kota Banda Aceh. Tentu saja, latar belakang sejarahnya berbeda. Namun kedua perahu itu, sesungguhnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Buktinya, ketika kami berada di lokasi wisata Red Square pagi itu, kami menyaksikan banyak sekali pengunjung yang terus datang ke objek wisata ini.

Andai kami masih punya waktu, pasti akan banyak lagi lokasi wisata yang kami bisa nikmati di Melaka. Kami belum sempat ke museum Hopping, belum juga sempat naik tower atau menara Taming Sari atau melakukan salat di masjid Selat Malaka dan lain-lain. Bisa jadi keterbatasan waktu kami ini menjadi penyemangat untuk nanti bisa berwisata lagi ke Melaka, Malaysia. Semoga saja ya. Mohon doa dan dukungannya.

Click to comment