Di Babak Akhir Ramadan

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Foto dok. Pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Tanpa terasa, kita sudah masuk di babak akhir, pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan tahun ini.  Waktu begitu cepat berlalu. Bahkan Kapal Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Tidak ada yang bisa menahan dan menghentikan kepergian Ramadhan, walau kehadirannya di tahun depan adalah kepastian, kecuali kita, manusia, makhluk yang wajib mati. Kita tidak tahu, kapan kita akan mati. Mati adalah rahasia Allah. Tidak satu orang pun manusia yang bisa mempercepat ataumemperlambat kematian itu, juga tidak bisa meminta agar Allah menunda kematian seseorang,  karena itu adalah mutlak keputusan Allah, bukan keputusan manusia. Jadi, pantas saja banyak yang berharap dan berdoa, semoga Allah mempertemukan lagi dengan puasa di tahun depan. Ya, Ramadan tahun depan.

Kini, kita sudah berada di akhir. Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang kita saksikan dan banyak pula hal yang kita rasakan. Ramadhan memperlihatkan kita dinamika kegiatan dan kehidupan manusia di permukaan bumi Alah ini. Banyak peristiwa yang menakjubkan dan menyejukan, banyak pula peristiwa yang bahkan mengusik hati nurani kita. Ada masyarakat atau rakyat suatu negeri yang menjalankan ibadah puasa dengan aman dan tentram, ada pula masyarakat suatu negeri yang melaksanakan puasa Ramadan dalam keadan konflik dan perang. Bersyukurlah kepada Allah, bagi umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa di negeri yang aman, yang tidak sedang didera konflik dan perang, seperti yang kini dengan mudah kita aksikan di media elektronik, televisi dan bahkan Youtube, dan media sosial lainnya. Sungguh sangat mengerikan dan menyedihkan.Selayaknya pula ketika Allah melindungi suatu negeri dari bahaya konflik dan perang, kualitas ibadah puasa bisa berjalan dengan kualitas yang lebih baik. 

Bagi masyarakat Aceh sendiri, sebagai masyarakat yang pernah didera konflik berkepanjangan, lebih dari 30 tahun, sesungguhnya sudah merasakan pahit getirnya berpuasa di era konflik dan perang., terutama mereka yang lahir di era sebelum era milenium. Semua orang Aceh kala itu merasa tidak nayaman menjalankan ibadah, karena selalu dihantui rasa takut. Berbeda dengan sekarang, pasca dutantangani fakta perdamaian, MoU Helsinki yang ditandatangani di Vantaa, Finlandia pada tanggal 15 Agustus 2005, pasca bencana tusnami yang memilukan itu. Kesepakatan damai itu, telah membuat masyarakat Aceh kembali menemukan nikmat hidup. Kedamaian yang membungkam rasa takut, memperoleh kemerdekaan hidup, lepas dari rasa takut seperti di masa konflik yang mematikan itu. Selayaknya, kita bersykur kepada Allah, atas nikmat damai yang sesungguhnya juga atas pertolongan Allah. Aceh kini sudah sangat aman dan nyaman dalam segala hal. Sehingga, untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, idealnya tidak ada hambatan dan tidak ada tantangan seperti di daerah lain yang penduduknya tidak seperti di Aceh.  Oleh sebab itu, berpuasa di Aceh setelah memperoleh damai, prosesi berpuasa sangat nyaman. Tidak ada yang menggoda, karena tidak ada warung nasi yang buka, tak ada restoran yang boleh menjual makanan dan sebagainya. Juga tidak ada orang yang makan, minum dan merokok di jalan. Semua tampak berpuasa.  Jadi, wajar saja, kalau berpuasa di Aceh itu, sangat nyaman.

Dua hari atau bahkan sampai 3 hari sebelum berpuasa, masyarakat Aceh menyambut datangnya Ramadhan dengan suka cita. Menyambut Ramadhan dengan menyembelih sapi atau kerbau di hari yang disebut dengan hari Meugang. Hari makan daging bersama, yang membuat suasana Ramadhan yang sangat meriah. Setiap keluarga membeli dan menikmati masakan daging di hari Meugang, sebagai wujud kegembiraan menyambut Ramadan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh secara turun temurun. Bahkan, sangat memalukan dan terasa tidak enak kalau tidak membeli sekilo daging di kala hari Meugang tersebut, karena semua orang pasti berusaha memenuhi kebutuhan tersebut, walau harus berutang. Begitulah tradisi meugang tersebut yang membuat harga daging meroket. Meugang adalah salah satu tradisi menarik untuk diamati di Aceh pada saat menjelang Puasa dan hari raya. Hari meugang memiliki dinamika tersendiri dan masalah tersendiri bagi masyarakat Aceh.  Banyak hal lain yang juga menarik dan diamati pada momentum Ramadan tersebut. 

Masjid Tumpah

Sisi lain yang menarik untuk disimak dalam dinamika kehidupan masyarakat Aceh dalam momentum Ramadan  di masyarakat Aceh yang mayoritas Muslim ini, terutama masyarakat muslim yang menjalankan ibadah puasa pun terasa sangat dinamis dan beragam.  Dikatakan demikian, tidak semua orang Islam menjalankan ibadah puasa, karena ada juga tidak berpuasa, tanpa alasan atau karena alasan tertentu. Namun, seperti yang kita saksikan setiap Ramadhan, orang-orang yang mendapat panggilan Allah untuk menunaikan ibadah Ramadhan, dengan suka cita menyambut Ramadhan, seraya berseru, " Marhaban ya Ramadhan". Selamat datang bulan Ramadhan, bulan yang suci. Banyak sekali orang yang merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup untuk bisa melaksanakan ibadah puasa dan salat tarawih di malam Ramadhan. 

Fenomena yang menarik pada malam - malam awal Ramadan, seperti di kota Banda Aceh adalah banyaknaya masyarakat yang datang berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan salat sunah Tarawih dan Witir. Buktinya,  malam pertama datangnya Ramadhan, semua toko, warung, tetap tutup karena pemilik warung dan toko serta semua masyarakat menuju  ke masjid, hingga tumpah ruah ke luar masjid. Suasana malam-malam awal begitu bergelora dan sangat meriah. Namun, sayang semakin ke tengah dan hingga akhir, banyak masjid yang ditinggalkan oleh jamaahmya karena alasan tertentu. Bila kita amati di kota Banda Aceh, jamaah-jamaah yang pafda malam-malam awal Ramadhan banyak yang beralih membanjiri warung-warung kopi. Walau warung kopi, restoran tertutup, kita bisa melihat banyak kenderaan bermotor yang diparkir di halaman dan di pinggir jalan.   Warung-warung kopi pun beroperasi hingga tengah malam dan bahkan ada yang hingga waktu sahur. Susana kota di malam hari, tetap ramai, terutana di kawasan yang banyak kulinernya. Artinya daya tarik warung kopi dan restoran sudah lebih menarik daripada ibadah di masjid. Wajar saja, kalau  jamaah masjid-masjid hanya tinggal dua atau tiga saf saja. Dalam kata lain, sudah seperti ekor tikus.

Berburu Pusat Belanja Hingga Larut Malam

Bukan hanya itu, yang membuat jamaah masjid berkurang, terutama pada masa pertengahan hingga babak akhir Ramadan adalah ketika perhatian  masyarakat  tertuju kepada kebutuhan hari raya Idul Fitri. Di babak terakhir ini masyarakat semakin sibuk dengan persiapan perayaan hari raya idul Fitri tersebut. Para jamaah masjid pun semakin banyak bergerak ke pusat pasar, membeli pakaian hingga larut malam. Sehingga, waktu pasar di luar bulan Ramadan yang biasanya tutup hingga pukul 10,00 WIB, di bulan puasa banyak tutup hingga lewat tengah malam. Bahkan ada yang hingga pukul 02.00 pagi. Para pedagang membuka toko pakaian hingga larut malam, karena masa yang sedikit ini adalah masa puncak orang-orang berbelanja. Apalagi para PNS yang baru saja menerima THR, serta anak-anak muda, justru melakukan aktivitas belanja pakaian hingga tengah malam.  Tampaknya memang ini kesempatan bagi para pedagan pakaian, di tengah lemahnya kemampuan ekonomi masyarakat yang berdampak pada rendahnya daya beli masyarakat tersebut.

Kesibukan masyarakat bukan saja dalam menyiapkan kebutuhan akan pakaian baru, baju baru, celana baru, bahkan juga peralatan rumah dan segalanya yang harus serba baru. Bahkan dari kalangan orang kaya, lebih tinggi lagi, bagaimana harus menukar mobil lama dengan mobil baru. Pokoknya, kesibukan di babak akhir puasa menghadapi hari raya denyut kesibukan itu begitu terasa. Apalagi ada rencana untuk pulang kampung alias mudik. Pasti semakin besar persiapannya. Lain lagi dengan kesibukan ibu-ibu yang terus menyiapkan penganan di hari raya. Sehingga semua kesibukan itu, membuat hakikat beribadah puasa Ramadan terkadang berubah warna. 

Ya, kini hari Raya Idul Fitri semakin dekat. Sudah bisa dihitung dengan jari. Umumnya orang-orang yang sangat dekat dengan ibadah, akan merasa sangat sedih ketika Ramadan pergi. Mereka akan merindukan Ramadan. Bukan hanya rindu, tetapi berharap bisa diberikan lagi kesempatan oleh Allah untuk bisa bertemu dengan Ramadan tahun depan.  Semoga Allah masih memberikan kita waktu dan kesempatan untuk bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadan di tahun mendatang. Amin










Click to comment