Lulusan Sekolah Kejuruan Terbanyak Menganggur?

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Dok.Tirto.co.id

Oleh Tabrani Yunis


Apabila kita bertanya kepada orang tua atau siswa yang memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan, seperti SMK atau tingkat yang lebih tinggi adalah program Diploma I, II atau tiga, maka jawaban yang sangat lazim ditemukan adalah agar cepat bisa bekerja setelah tamat dari sekolah tersebut. Pilihan itu, umumnya dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi keluarga. Karena biasanya, siswa dari kalangan ekonomi lemah, baik secara suka rela, maupun terpaksa harus melanjutkan ke sekolah lanjutan. Begitulah lazimnya, hingga saat ini. Sebab, bila kondisi ekonomi keluarga kuat, maka pilihan sekolah atau lanjutan pendidikan lebih ke sekolah umum, yakni SMA atau Madrasah Aliyah yang setamat dari sekolah tersebut akan melanjutkan ke jenjang strata satu, di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Maka, pada prinsipnya, memilih pendidikan lanjutan ke sekolah kejuruan adalah agar segera mendapatkan pekerjaan atau bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Dengan semakin cepat memperoleh pekerjaan, akan membantu diri sendiri dan keluarga keluar dari himpitan kesulitan ekonomi di keluarga.

Namun, apa jadinya apabila setelah tamat dari sekolah kejuruan, SMK atau program Diploma menemukan fakta bahwa lulusan SMK dan Diploma tersebut malah tidak seperti yang dibayangkan dan diharapkan? Ya, apa jadinya kalau sudah lulus SMK dan Diploma masih menjadi penganggur?Tentu kondisi semacam ini sangat tidak diharapkan dan malahan sangat mengecewakan, bukan?

Jelas hal itu sangat mengecewakan dan membuat masyarakat kita, terutama dari kalangan bawah dan menengah yang ingin membangun kehidupan ekonomi keluarga yang lebih baik. Kondisi demikian malah bukan membantu mereka keluar dari kesulitan, akan tetapi menambah panjang waktu memikul beban berat, karena masih harus menanggung beban anak yang penganggur.

Hati orang tua yang mana yang tidak sedih dan juga hati siswa sekolah kejuruan yang mana yang tidak sedih ketika menemukan fakta bahwa lulusan SMK tertinggi tingkat penganggurannya? Pasti setiap orang tua dan siswa yang sudah banyak menginvestasikan uang, tenaga, waktu dan pikiran untuk mencapai asa bisa bekerja tersebut sangat kecewa. Jangankan mereka, kita yang mungkin tidak memilih jalur pendidikan SMK dan Diploma tersebut juga ikut merasa sedih dan prihatin membaca isi berita di media seperti itu.

Sungguh ini fakta memilukan. Harian Serambi Indonesia edisi Selasa, 7 Mai 2019 menyebutkan bahwa berdasarkan tingkat pendidikan pada Februari 2019, lulusan Sekolah Menengah Kejujuran (SMK) masih tertinggi tingkat pengangguran terbuka ( TPT) dibanding tingkat pendidikan lainnya di Aceh, yaitu sebesar 11.35 persen. Bahkan angka ini mengalami kenaikan dibanding Februari 2018 sebesar 6.28 persen. Ironis bukan?

Tentu saja ironis apabila kita kaitkan dengan harapan dan kenyataan. Masyarakat kita memang layak bersedih. Namun, di balik rasa sedih dan kecewa tersebut, selayaknya pula kita mau introspeksi, berkontemplasi, bahkan tidak salah untuk ikut serta mengevaluasi diri ( siswa) secara individual, dan secara institusional terhadap lembaga pendidikan atau sekolah kejuruan tersebut. Secara individual atau pribadi, selayaknya kita bertanya, apakah ketika mengikuti proses pembelajaran di SMK tersebut anak-anak kita sudah melewati proses belajar yang benar dan memanusiakan atau tidak? Apakah ketika proses pembelajaran berlangsung, anak-anak kita tersebut sudah dengan sungguh-sungguh belajar untuk menguasai pengetahua, ketrampilan dan perilaku untuk menyiapkan diri terjun ke dunia kerja?

Hal ini perlu sebagai bentuk introspeksi agar tidak secara serta merta menyalahkan dan bahkan mengklaim bahwa sekolah kejuruan yang dipilih tidak profesional, tidak berkualitas dan tidak layak menjadi SMK atau Diploma yang bertugas menyiapkan tenaga kerja terampil dan mampu menjawab tangangan dunia kerja. Begitu pula sebaliknya, pihak penyelenggara pendidikan kejuruan,yakni SMK dan Diploma harus mengevaluasi apa yang membuat lulusan SMK dan Diploma tersebut tidak bisa rerserap di dunia kerja.

Hal ini juga perlu dipertanyakan, apalagi bila kita menyimak ungkapan Kepala BPS Aceh, Wahyudin MM dalam berita statistik tentang keadaan ketenagakerjaan Februari 2019, menyebutkan bahwa tingginya TPT lulusan SMK karena para lulusan tersebut belum siap untuk langsung turun ke dunia usaha.( Serambi Indonesia 7/05/19. Dari pernyataan tersebut tersirat dan tersurat bahwa lulusan SMK atau bahkan Diploma belum siap untuk terjun ke dunia kerja. Apakah ini bisa dijadikan sebagai bukti bahwa belajar di SMK selama 3 tahun, tidak bisa menjamin lembaga pendidikan kejuruan tersebut tidak mampu membekali para siswa dengan kapasitas kerja?

Kiranya, sekali lagi semua pihak harus dengan cerdas dan bijak melihat realitas ini. Pihak orang tua dan siswa lulusan SMK maupun Diploma yang tidak siap ke dunia kerja harus mau melihat secara internal penyebab gagalnya lulusan SMK memperoleh pekerjaan. Bisa jadi, kegagalan tersebut karena factor siswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran di sekolah dengan baik dan benar. Apabila hal ini terjadi, maka sekolah tidak boleh disalahkan sebagai pihak terpidana. Kemudian, pihak sekolah sebagai lembaga yang bertanggungjawab untuk menyiapkan peserta didik mampu dan siap terjun ke dunia kerja, harus  memenuhi ranggung jawab menyiapkan peserta didik mampu dan siap terjun ke dunia kerja. Oleh sebab itu, pihak sekolah (SMK) harus mengevaluasi proses pembelajaran di sekolah selama ini. Jangan-jangan, banyak kelemahan dan kelalaian dalam menyiapkan peserta didik yang andal dan mampu segera terjun ke dunia kerja. Kelemahan dan kelalian yang bukan hanya pada kapasitas guru, tetapi juga kurikulum, fasilitas dalam pengertian sarana dan prasarana pendidikan yang berorientasi pada kemajuan masa depan. Kemajuan yang terjadi sebagai bentuk keberhasilan berkembangnya teknologi yang mendorong cepatnya terjadi disrupsi. Semoga masyarakat dan lembaga pendidikan kejuruan segera membenah diri dalam menyiapkan peserta didik siap dan mampu terjun ke dunia kerja, baik sebagai pekerja, maupun sebagai pekerja mandiri.

Click to comment