MENGATASI FENOMENA BURUK DI BULAN RAMADHAN UNTUK MERAIH KEBERKAHAN PUASA

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Enjang Idrus, M.Pd.I
Dosen, Penulis Puluhan Buku dan Trainer


Ramadhan merupakan bulan anugerah dan rahmat bagi umat yang menunaikannya. Tetapi walapun bulan anugerah terkadang sering melakukan hal-hal buruk yang sudah menjadi “tradisi” dan bersifat “lumrah” di kalangan sebagian kaum muslim dalam bulan ramdahan. Hal itu perlu disebutkan supaya kita dapat meghindarinya dan mengantisipasinya. Apa saja hal yang  buruk itu? 

Yuk kita bahas satu persatu!

1.    Berlebihan dalam tidur

Banyak sekali kaum muslim beranggapan bahwa tidur itu ibadah dalam bulan ramadhan. Itu ada benarnya, tetapi apakah tidak lebih baik dengan melakukan amalan ibadah. Banyak yang tidur setelah sahur, bahkan setelah shalat subuh. Apalagi pada siang hari di mushala atau masjid banyak orang yang terlentang tidur. Hal ini seolah-olah bulan ramadhan dijadikan ajang untuk banyak tidur. Tidak itu dilakukan, ketimbang tidur coba gantikan dengan kegiatan yang positif. 

Dengan banyaknya tidur, malah membuat tubuh kita lemas, karena sewaktu tidur proses pembakaran dalam tubuh dilakukan, sehingga energi terserap oleh proses pembakaran tersebut. 

Bagaimana mengatasi hal ini? 

Pertama, buatlah program secara efektif dalam menggapai keberkahan, rahmat ampunan di bulan ramadhan. Sehingga ketika kita malas kita dapat melihat program yang telah disiapkan menjelang bulan puasa. 

Kedua, bersilaturahmi dan bergaul dengan orang-orang yang saleh, sehingga kita terpacu untuk mengikuti amaliahnya dalam mengisi bulan ramadhan. Sebaliknya bila terpaksa untuk bergaul dengan orang malas, kita berusaha untuk tidak terbawa arus, malah kita harus dapat memberikan arahan positif dalam mengisi bulan ramdahan. 

Ke tiga, jangan tidur larut malam, karena akan membuat kita lelah dan ngantuk siang harinya. Walaupun untuk beribadah. Bukankah Allah menyuruh kita untuk mengatur waktu sebaik-baiknya, membagi waktu untuk ibadah, berusaha, bergaul dan beristirahat, sehingga tubuh kita selalu bugar saat menjalankan puasa.  Ke empat, berdoa pada Allah untuk dijauhkan dari godaan syetan dalam bermalas-malasan.  Ke lima, kalaupun mengantuk tidak tertahankan, kita boleh tidur, tetapi tidak berlebihan. Bisa menyuruh orang di sekitar kita untuk membangunkan atau memasang jam beker ( alarm HP) supaya tidur tidak kebablasan. 

2.    Berlebihan dalam makan  

Rasululah bersabda, “ Kebahagian orang berpuasa yakni saat berbuka dan bertemu dengan Tuhanya”. Tetapi ingat hadits itu bukan untuk membuat kita berlebihan dalam berbuka puasa, menyiapkan segala jenis makanan dan minuman dari mulai sirup, rujak bahkan “tetek-benget” segala diadakan. 

Padahal kita tahu bahwa puasa itu menahan diri dari makan dan minum yang berlebihan. Nah wajar saja kalau hikmah puasa itu tidak terasa karena kita selalu menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka, bukannya mempersiapkan amalan ramadhan. Memang siang hari kita lapar, tetapi ketika kumandang azan Magrib, makanan dan minuman dilahap habis, sehingga perut buncitdan sulit untuk beribadah. Jadinya hikmah puasa itu lenyap dibuang oleh diri kita sendiri dengan memikirkan makanan dan minuman yang lezat. 

Bagaimana solusinya untuk mengatasi hal ini?

Pertama, Ingatlah bahwa bulan ramadhan bertujuan untuk menahan makanan dan minuman yang berlebihan. Sebagaimana Rasululah bersabda,”Jagalah kesehatan dirimu dengan mengisi perutmu dengan ⅓ untuk makanan, ⅓  untuk minuman dan ⅓ untuk pernapasan”.

Ke dua, Jangan tergoda atau temakan iklan oleh makanan dan minuman yang kelihatan enak saat siang hari, karena saat kita berbuka puasa akan cepat kenyang. 

Ke tiga, makan dan minumlah dengan gizi seimbang dan teratur menjaga kondisi tubuh kita supaya amalan-amalan ramdahan tidak ada yang terlewatkan. 

Ke empat, biasakan makan yang manis saat berbuka puasa, dan makanan yang mengandung protein supaya pada siang hari terasa bugar.

Ke lima,  persiapkanlah makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur dengan memperhatikan prinsip halal, bergizi dan tidak mubadzir
       

3.    Berekreasi menjelang buka puasa.

Istilah yang sering kita kenal dengan “ngabuburit” atau menunggu waktu untuk berbuka puasa. Ini termasuk rekreasi yang sering kita dengar, mungkin sering kita lakukan. Nah apakah perilaku banyak manfaatnya? Bila kita lihat dari kegiatan tersebut, malah banyak madharatnya dari pada manfaatnya. Ini berakibat pada pasca ramdahan tidak ada nilai pelajaran bulan ramdahan yang membekas dalam diri seorang muslim.

Bagaimana solusi untuk mengatasi hal ini? 

Pertama, sebaiknya hindari kegiatan yang bernuansa rekreasi, karena rekreasi hanya akan membuat kila lengah dan berpoya-poya.  Ke dua, bila terpaksa untuk rekreasi. Cari tempat rekreasi yang dapat mengundang amaliah ramdahan.

Bila fenomena itu dapat kita atasi, maka kita dapat membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan. Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islammengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan. Yakni menguatkan jiwa, mendidik kemauan, menyehatkan badan, mengenal nilai kenimatan, mengingat dan rasakan penderitaan orang lain. 

Yuk kita simak lima rahasia puasa itu! 

1.   Menguatkan Jiwa. 

Dalam hidup tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya, “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya”. (QS 45:23). 

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda, “ Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi”.(HR. Tirmidzi) 

2.   Mendidik Kemauan. 

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. 

Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: “Puasa itu setengah dari kesabaran”. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa, meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

3.   Menyehatkan Badan. 

Di samping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

4.   Mengenal Nilai Kenikmatan. 

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tetapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.  

Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Di sinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. 

Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih(QS 14:7).

5.   Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain. 

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Sidoarjo dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Afganistan, Palestina dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’akan untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 9:103).

Semoga, penjelasan singkat ini memberikan arahan dalam menjalankan puasa, sehingga menjadi puasa yang sempurna.  


Click to comment