Meugang yang Dirindukan

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Dok.Kba one

Oleh Siti Raudhatul Hamdiyati
Mahasiswa Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang
Membayangkan meugang yang penuh suka cita menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan, tentu menggetarkan jiwa-jiwa yang rindu akan kampung halaman. Meugang yang hanya bisa dirasakan ketika diri berada di bumi Aceh.  Seluruh wilayah di Provinsi Aceh melaksanakan tradisi meugang tiga kali dalam setahun, yakni menyambut Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha. 
Fenomena yang dimunculkan pada saat meugang yaitu menyembelih kerbau atau sapi kemudian dagingnya diolah jadi masakan seperti rendang dan gulai, setelah itu makan-makan bersama keluarga. Fenomena lainnya adalah membuat ketupat, lemang, dan tapai yang juga dihidangkan saat makan bersama keluarga. Bagi perempuan yang telah berkeluarga, makanan tersebut wajib diantarkan ke rumah mertuanya. Momen seperti itulah yang menjadi titik rindu bagi setiap perantau karena tidak dapat dinikmati di daerah lain kecuali di Aceh. Tradisi tersebut bukan hanya sekadar makan daging yang sedap, tapi yang paling penting adalah kebersamaannya yang langka memberikan sebuah nilai berharga.
Pada kebiasaan masyarakat Aceh meugang wajib membeli daging, tak terkecuali bagi yang kurang mampu. Pada hari itu semua dapat merasakan kenikmatan daging. Bagi yang mampu membeli daging wajib berbagi kepada yang kurang mampu supaya hari itu tidak ada yang merasakan duka melainkan suka. Nilai kebersamaan benar-benar ditonjolkan pada tradisi meugang. Namun nasib berkata lain bagi perantau yang hanya mendengar kabar saja dari keluarga di kampung halaman bahwa pada hari meugang kebiasaan itu tetap dilakukan walaupun dengan ketidakhadiran salah satu anggota keluarga. 
Selain dari membayangkan meugang, hal yang membuat rindu bertambah bagi perantau adalah fenomena  uploadfoto-foto kebersamaan makan daging, lemang, tapai bersama keluarga yang marak di sosial media. Nasib hanya menatap layar kaca saja tidak bisa menikmati berbarengan. Sebenarnya makna tersembunyi di balik kebersamaan pada hari meugang adalah silaturahmi dengan keluarga serta menyucikan diri sebelum datangnya Ramadhan dengan saling berucap mohon maaf lahir bathin baik dengan ibu bapak maupun saudara dan seluruh ahli keluarga. Meugang menjadi media untuk saling memaafkan yang harus diterapkan selalu.

Click to comment