“Perilaku Mengedit Foto Diri di Media Sosial, Bagaimana Menurut Pandangan Psikologi?”

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Raihan
 Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Program studi Psikologi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Perkembangan internet saat ini terus mengalami peningkatan yang sangat pesat. Salah satu layanan internet yang sangat populer di segala kalangan adalah media sosial. Penggunaan media sosial tentu memiliki manfaat seperti membuat seseorang dapat terhubung dan berinteraksi dengan orang lain kapan pun dan di mana pun tanpa harus bertemu langsung. Setiap pengguna juga dapat membagikan momen atau kegiatan sehari-hari melalui unggahan foto atau video kepada pengguna media sosial lainnya. Di balik keuntungan menggunakan media sosial, sedikit pengguna yang mengetahui dan sadar akan faktor psikologis seseorang terkait penggunaan media sosial, khususnya dalam hal memposting foto diri. Seseorang yang membagikan foto diri pada media sosial dapat menimbulkan pandangan mengenai bagaimana mereka menilai dan mengevaluasi hidup mereka. 
Suatu perilaku yang marak muncul terkait dengan unggahan foto diri di media sosial adalah perilaku mengedit foto diri. Individu saat ini cenderung lebih sering mengedit foto dirinya sebelum dibagikan kepada pengguna media sosial lainnya. Banyak individu saat ini juga akan menanyakan pendapat kepada teman-temannya terlebih dahulu terkait foto diri mereka. Mereka cenderung memikirkan bagaimana mereka terlihat di mata orang lain, bagaimana penampilan yang mereka tampilkan, serta berusaha menampilkan diri di media sosial sebaik dan semenarik mungkin agar disukai oleh orang lain melalui unggahan foto diri. Perilaku yang umum terjadi adalah berupa penggunaan filter pada wajah, mengedit badan agar terlihat kurus atau ramping, mencerahkan foto agar terlihat lebih menarik serta mengenakan pakaian yang bagus guna mendapatkan hasil foto diri yang sesuai dengan yang diinginkan. Tidak hanya itu, beberapa individu juga akan menghapus foto dirinya kemudian mengganti foto diri yang lebih bagus saat mereka merasa munculnya kekurangan pada foto tersebut atau saat mendapatkan komentar buruk dari orang lain.
Fenomena mengedit foto diri pada individu dapat dijelaskan menurut sudut pandang psikologi. Terdapat beberapa motivasi individu dalam mengunggah foto diri, yaitu motivasi untuk mencari perhatian orang lain, untuk berkomunikasi dengan orang lain serta memperoleh kesenangan. Munculnya keinginan untuk mengedit foto diri bermula dari adanya motivasi untuk mencari perhatian orang lain. Beberapa individu sangat termotivasi untuk memperoleh perhatian dari orang lain berupa like atau komentar positif mengenai foto diri mereka. Unggahan foto diri tersebut dianggap sebagai sebuah sarana untuk dapat dikenal orang banyak atau menjadi populer. Bahkan tidak jarang individu saat ini membeli jumlah like atau follower untuk meningkatkan harga diri mereka di mata orang lain dengan menjadi populer. Namun sayangnya, hal tersebut dapat membuat individu terlalu memfokuskan diri untuk dapat disukai banyak orang, sehingga mereka akan merasa kecewa ketika mendapatkan jumlah like yang sedikit serta takut mendapatkan komentar buruk dari orang lain. 
Dalam ilmu psikologi, kekhawatiran akan evaluasi negatif dari orang lain  dikenal dengan sebuah konstrak yaitu fear of negative evaluation. Menurut Psikolog Watson dan Friend , fear of negative evaluation menggambarkan keadaan kekhawatiran yang berlebihan akan evaluasi dari orang lain. Kekhawatiran yang dimiliki individu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan individu tidak percaya diri dalam menampilkan diri mereka yang sebenarnya kepada orang lain sehingga berusaha agar terlihat menarik dan terhindar dari komentar buruk orang lain. Perasaan khawatir pada diri individu cenderung meningkat saat individu membandingkan penampilan dirinya dengan penampilan orang lain. Selain itu, hadirnya penolakan dari orang lain berupa komentar negatif tentang diri juga dapat memicu tingkat kekhawatiran akan evaluasi negatif pada seseorang. 
Jika individu memiliki tingkat kekhawatiran akan evaluasi negatif yang tinggi, hal ini tentu akan berdampak buruk pada diri individu. Seseorang akan menginternalisasikan tubuh ideal atau penampilan mereka berdasarkan penilaian yang diberikan orang lain. Hal ini menyebabkan individu memiliki kepercayaan diri yang rendah dan selalu berperilaku untuk menyenangkan orang lain. Pada dasarnya, setiap individu merasakan kekhawatiran akan evaluasi negatif, namun yang membedakan individu satu dengan yang lainnya adalah bagaimana rasa khawatir tersebut dapat dikelola dengan baik oleh masing-masing individu.
Fenomena mengedit foto diri dalam pandangan psikologi merefleksikan adanya faktor kepribadian individu yaitu kekhawatiran yang berlebihan akan evaluasi negatif dari orang lain (fear of negative evaluation). Fear of negative evaluation yang dirasakan individu secara terus menerus dapat berdampak buruk pada diri seperti tingkat kepercayaan diri yang rendah, gangguan makan karena menginternalisasikan tubuh ideal berdasarkan evaluasi orang lain serta gangguan sosial. Oleh karena itu, individu sebaiknya menyadari bahwa setiap orang memiliki rasa takut akan evaluasi negatif dari orang lain, sehingga mereka dapat mengontrol dan mengarahkan rasa takut tersebut ke arah yang positif dan tidak berdampak buruk. Mengenai penampilan, tugas dari setiap individu adalah menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, sehingga individu tidak mudah merasa cemas akan evaluasi terkait penampilan. Individu juga harus mengelola diri dengan cara menghindari perbandingan penampilan diri sendiri dengan penampilan orang lain agar mengurangi fear of negative evaluationyang dirasakan.





Click to comment