RAMADHAN SEBAGAI MOMENTUM TEPAT MELATIH KESABARAN SEJATI

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Dok.Pribadi


Oleh Enjang Idrus, M.Pd.I
Dosen, Penulis Puluhan Buku dan Trainer


Bukti orang puasa itu sabar. Terlihat kuat dalam menahan lapar dan haus dari sahur sampai berbuka. Sabar menahan berbagai hal yang membatalkan puasa dan membatalkan pahala puasa serta mampu melaksanakan ibadah lainnya. 

A.   Memahami Hakikat Sabar
  Supaya memahami kesabaran, yuk simak kajian para ulama dan pakar. Imam Al-Ghazali mengatakan, “Sabar adalah tetap tegaknya dorongan agama terhadap dorongan hawa nafsu. Dorongan agama ialah hidayah Tuhan kepada manusia untuk mengenal Allah, Rasul-Nya, serta mengetahui dan mengamalkan ajaran-Nya dan kemaslahatan yang berhubungan akibat-akibatnya. Sabar merupakan sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedangkan dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syahwat dan keinginan yang minta dilaksanakan.” Imam Al-Ghazali dapat dipahami, sabar merupakan dorongan batiniah berdasarkan cahaya Ilahi yang keluar dari keimanan karena ketaatan kepada Allah Swt. Kesabaran ada karena keimanan bersih; kesabaran buah keimanan. Seseorang memiliki keimanan kuat, maka memiliki kesabaran yang kuat pula, sebaliknya seseorang memiliki kelemahan iman, maka kesabarannya lemah pula. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi sawSabar itu adalah sebagian dari iman”. Jabir meriwayatkan sebuah hadits sesungguhnya dia bertanya kepada Rasulullah Saw. Tentang iman, beliau berkata: sabar dan bermurah hati”.Kata nabi selanjutnya: sabar itu merupakan simpanan kekayaan dari lemari-lemari surga”. Suatu ketikadia ditanya apakah iman itu? Beliau menjawab “sabar”.  
Kesabaran merupakan langkah atau perbuatan dalam menjalankan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan Allah Swt. dan rasul-Nya. Cermati Asmaul Husnabahwa As Soburatau sabar merupakan nama Allah yang mulia. Artinya manusia yang memiliki sifat sabar berarti ‘memiliki’ nama Allah, dan dapat dipastikan orang sabar balasannya rahmat dan nikmat di dunia serta surga di akhirat kelak.  Jadi kesabaran merupakan kekuatan batin yang terdalam berdasarkan asma Allah Swt., sehingga mampu menghadapi kehidupan dengan tenang, tenteram dan bahagia.  Manusia dituntut sabar dalam  hidup. Kenapa demikian? 
Pertama, Manusia amat zalim dan amat bodoh. Firman Allah: “ Sesungguhnya manusia itu amat bodoh”. (QS. Al-Ahzab:72). Dengan kebodohannya, manusia tidak menyadari kehidupan bahwa hidup di dunia adalah ladang untuk bercocok tanam yang akan dipetik hasilnya di akhirat kelak. Hal inilah yang sering dilupakan oleh manusia, sehingga manusia lalai akan kewajibannya, kewajiban terhadap dirinya yakni membentuk harkat martabat yang tinggi di dunia dengan ikhtiar dan kesabaran. Kewajiban terhadap keluarganya yakni memberikan nafkah lahir dan batin serta sebagai manusia terbaik yang dilahirkan untuk menolong dalam kebaikan dan takwa.  Kewajiban terhadap  Allah Swt. Yakni penghambaan diri dengan menunaikan segala perintahnya dan menjauhi larangnya. 
Kedua, Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak mempunyai daya dan kekuatan sendiri, melainkan hanya Allah yang memberikan-Nya; Manusia tidak memiliki apa-apa, segalanya hanya milik Allah Swt. Ketika manusia tidak menyadari daya dan kekuatan dirinya maka, manusia telah kufur nikmat serta dengan kelemahannya manusia tidak dapat menghadapi ujian yang diberikan Allah kepadanya kecuali dengan jalan sabar yang menyerahkan segalanya kepada Allah Swt.; Allah yang menurunkan maka Allah pula yang akan mengambilnya. 
Ketiga, Manusia bersifat tergesa-gesa dalam artian suka menuntut sesuatu kebaikan dan keuntungan apa saja dengan segera, dan suka mengambil jalan pintas dalam meraih sesuatu atas dorongan hawa nafsunya, tanpa kesabaran. Dengan kesabaran manusia memahami proses dan hasil yang diterima. Semakin dia berjuang, maka semakin kuat ujian menghadang serta semakin kuat pula kesabaran dalam dirinya. Firman Allah “...Manusia bersifat tergesa-gesa”.(QS. Al-Isra:11)
Keempat. Manusia sering mengingkari nikmat. Manusia tanpa kesabaran akan mengingkari nikmat Allah, serta seolah-olah segala yang dihasilkan berkat jerih paya dirinya, padahal sebagai muslim segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya. Firman Allah: sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat”. (QS. Al-Hajj:66) 
Kelima, Manusia suka mengingkari ajaran Allah. Manusia yang tidak sabar akan mengingkari ajaran Allah; dia enggan untuk melaksanakan ajaran Allah dan mengatakan ajaran itu sebagai beban kehidupan. Allah berfirman: ”Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari”.(QS. Al-Isra: 89).
Keenam,Manusia mudah gelisah dan banyak keluh kesah serta sangat kikir. Kegelisahan karena tidak adanya rasa sabar; kesabaran membawa pada ketenangan dan tanpa keluh kesah. Allah berfirman,Katakanlah:"Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir.(QS. Al-Isra: 100). 
Keenam, Allah akan menguji setiap muslim yang dikehendaki-Nya. Jadi setiap permasalahan (cobaan, ujian) yang dihadapi manusia hakikatnya untuk menguji. Selain itu, permasalahan timbul karena peringatan atau hukum bagi manusia yang melanggar ketentuan-ketentuan yang telah Allah gariskan dalam Al-Quran serta untuk menyadarkan manusia yang hakikatnya milik Allah Swt. 
Musibah melanda, kita harus sabar tanpa kesabaran bencana tidak memberikan manfaat dan hikmah. Gagasan dalam syair itu sempit karena kesabaran bukan sebatas itu. Hakikat sabar terbagi menjadi tiga, yaitu: 
1).    Sabar Alath Tho’at, ialah memaksakan diri untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah. Artinya dalam beribadah dituntut kesabaran yang besar. Karena tanpa kesabaran ibadah hanya dijadikan untuk menggugurkan kewajiban. Audzubillah. Kesabaran meningkatkan keimanan dan ketaatan kepada Allah. Saat bekerja terdengar suara azan, langsung menunaikan salat, tetapi apabila tidak sabar, maka melalaikan salat, mungkin berkata, baru juga azan nanti saja salatnya sebentar lagi.
2).    Sabar Alal Ma’Syiyyat, yaitu: menahan diri dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan tercela. Wujud kesabaran manusia mampu menjaga hak Allah dengan tidak melanggar aturan-Nya, yakni berbuat dosa dan mampu menjaga hak-hak manusia yakni tidak merugikan sesama walaupun kecil, tetapi menjaga hak-hak sesama. Bila hal ini terjadi tidak akan ada lagi koruftor, penjahat dan lain-lain, tetapi malah berprinsip, “saya harus memberikan manfaat terhadap orang lain”. 
3).    Sabar Alal Mushibat, yaitu tabah menghadapi cobaan. Manusia dicoba dalam kehidupannya. Manusia sabar tidak mengeluh dan putus asa. Sebaliknya cobaan orang sabar akan mengambil hikmah dan berintrospeksi diri, apakah cobaan itu adalah peringatan/hukuman dari Allah atau hanya sebatas ujian. 

Memahami macam-macam sabar menumbuhkan kesabaran dalam berbagai aspek kehidupan, bukan hanya musibah saja. Sehingga kita menjadi manusia yang mencapai derajat kesempurnaan sabar. Dalam kitab Ibnu Katsir Juz II yang dimaksud dengan  Shabarul jamiilun(sabar yang sempurna) yaitu sabar yang tidak memperlihatkan keluh kesah dan rintihan. Jadi kesabaran sempurna mampu melaksanakan kesabaran dalam ketaatan, menjauhi diri dari kemaksiatan dan sabar menghadapi musibah tanpa rintihan atau ditunaikan dengan ikhlas.   
Supaya tidak keluh sesah menghadapi musibah, kita harus memiliki kiat supaya terasa ringan. Al-Qarni dalam buku La Tahzanmemberikan kiat supaya musibah terasa ringan, yaitu: 
a.     Menunggu ganjaran dan pahala dari sisi Allah. 
b.    Artinya musibah itu akan membawa ganjaran apabila dihadapi dengan kesabaran, tetapi bila dihadapi keputusasaan, maka menjadi sia-sia belaka.  
c.      Melihat kepada orang lain yang mendapatkan musibah.
d.     Musibah menimpa diri Anda itu jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang menimpa orang lain. 
e.     Musibah itu menimpa hal-hal yang berkaitan dengan dunia saja bukan agama.
f.      Melakukan ubudiyah adalah kepasrahan pada saat-saat tertekan lebih agung dibandingkan dengan yang dilakukan pada saat-saat bahagia.
g.     Tidak ada siasat untuk menghindari musibah.  
Ary Ginanjar Agustian berpendapat untuk membangun mental itu harus mengaplikasikan prinsip rukun iman. Begitu pula untuk membangun kesabaran dalam diri harus ada keimanan yang tinggi karena kesabaran adalah salah satu ‘sifat’ Allah Swt. 



B.   Bahaya Kehidupan Tanpa Sabar
Orang yang tidak sabar akan dirundung kesedihan atau depresi, padahal depresi berbahaya bagi kehidupan. Al-Qarni yang mengutip tulisan Dr. Edward Bodowlski dalam bukunya Leave Worrying and Seek Betterment bahwa kesedihan itu berdampak buruk bagi kesehatan, yaitu: 
a.    Dampak kesedihan terhadap jantung.
b.    Tekanan darah tinggi disebabkan oleh kesedihan.
c.     Kesedihan bisa mengakibatkan rematik.
d.    Kesedihan bisa mengakibatkan gangguan pencernaan.
e.    Kesedihan mengakibatkan selesma.
f.     Kesedihan mengakibatkan kelenjar gondok.
g.    Kesedihan mengakibatkan penyakit gula

Bahaya lain, yaitu:
a.    Semakin jauh dari Allah karena manusia tidak menyadari bahwa dirinya adalah milik-Nya. Dalam arti lain manusia tidak mampu bersabar dalam perintah Allah dan larangnya-Nya. 
b.    Dirundung kesedihan.
c.     Hidup kesehariannya mengalami putus asa. 
d.    Tidak percaya dengan adanya qadadan kadar
e.    Ketika terjadi perselisihan akan semakin tersulut dendam. Dendan merupakan panah setan untuk menghancurkan manusia.
f.     Tidak akan menerima segala hasil jerih payah yang telah dilakukan, tetapi malah kufur nikmat. Kufur nikmat membuat Allah murka dengan menurunkan azabnya. (QS. Ibrahim:7).
g.    Terjadinya buruk sangka terhadap Allah. Sebenarnya apa yang diberikan Allah kepada manusia adalah yang terbaik.
h.    Tidak mampu menyelesaikan masalah dengan tenang, tetapi menimbulkan masalah baru. 
i.      Terjadinya kekufuran kepada Allah Swt. 
j.      Terjadinya kegersangan hati, sehingga kehidupannya menjadi hina.   



  
C.   Tips Menjadi Orang Sabar

Menjadi orang sabar sangat sulit, karena kesabaran merupakan keikhlasan hati untuk melaksanakan kebaikan dan menerima segala qadhadan qodar.  Apakah Anda termasuk orang sabar? Tentu sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Hati nurani manusia sering dikalahkan keinginan-keinginan dunia yang fana. Keinginan untuk meraih jabatan, keinginan sukses berusaha, keinginan menumpuk harta dan keuntungan, keinginan meningkatkan harkat martabat, keinginan hidup senang tanpa jerih payah, keinginan masuk surga tetapi melalaikan kewajiban, keinginan untuk memiliki istri dan anak yang saleh tetapi tidak mampu untuk mendidiknya dan keinginan sukses dalam segala hal. 
Manusia banyak keinginan merupakan fitrah. Tanpa keinginan manusia tidak akan memiliki gairah hidup dan mengembangkan segala potensi yang ada. Penyebab terbesar tidak menjadi orang sabar karena selalu mengejar keinginan yang bersifat fana, dan menghiraukan kebahagiaan yang baqa. Apabila mengejar keinginan bersifat baqa, maka menjadi penyabar, karena yang bersifat baqaada di ‘tangan’ Allah Swt. 
Sulitnya menjadi penyabar, karena tidak memahami sabar dan keajaiban sabar bagi kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Melalui Al-Quran Allah menjelaskan keajaiban sabar dan melalui ratusan bahkan ribuan hadis Rasulullah menggambarkan keajaiban sabar serta melalui kisah-kisah orang penyabar kita dapat mengetahuinya.     
Bagaimana supaya menjadi penyabar dalam kehidupan, sehingga tidak dirundung kesedihan, tetapi kebahagiaan. Kiat praktis menjadi orang sabar, yaitu: 
a.    Pahamlah bahwa kesabaran sebagian dari iman. Artinya ketika ada iman kepada Allah Swt. Akan menunjukkan sifat kesabaran dalam menghadapi segala persoalan kehidupan. Bila sebaliknya, maka menunjukkan keimanan yang lemah.
b.    Formatlah hati dan pikiran untuk menjadi orang sabar!
c.     Macam-macam kesabaran terbagi menjadi tiga, jadi kesabaran itu harus dilakukan dalam menghadapi dan melaksanakan tiga macam kesabaran tersebut.
d.    Ketika musibah menimpa, maka ingatlah bahwa kenikmatan lebih besar dari pada musibah. 
e.    Segala sesuatu yang terjadi itu adalah kehendak-Nya, maka bersabarlah!
f.     Kegagalan merupakan keberhasilan tertunda, maka bersabarlah!
g.    Ingatlah Allah selalu di samping Anda orang-orang yang sabar.
h.    Biarkan kesulitan atau musibah itu datang, karena setiap kesulitan tidak dapat dihalangi, tetapi kewajiban kita adalah menyelesaikan dengan jalan ikhtiar. 
i.      Jalanilah hidup ini dengan ikhlas, karena kehidupan itu Allah yang mengatur.
j.      Tenanglah menghadapi musibah, karena musibah itu ada jalan keluar dan dijadikan kebaikan oleh Allah Swt. bagi Anda yang bersabar!
k.    Biarkanlah kesedihan masa lampau, karena kita tidak akan kembali kepadanya. 
l.      Lakukanlah yang terbaik hari ini, maka Anda akan bahagia.
m.  Pahamlah bahwa segala sesuatu yang menimpa sesuai dengan kemampuan. 
n.    Jadikanlah musibah sebagai ladang untuk bercocok taman kebaikan, sehingga kita menjadi bahagia.
o.    Hiduplah sesuai dengan kemampuan, sehingga kita tidak gelisah dan susah. 
p.    Jangan biarkan hutang menggerogoti hati dan pikiran kita, tetapi bayarlah dengan ikhtiar dan memohon kepada-Nya. 
q.    Lihatlah musibah orang lain, sehingga kita bersiap-siap bila menerima musibah. 
r.     Hidup itu terdapat dua sisi yakni kebahagiaan dan kesedihan. Dalam bahagia Anda bersyukur dan dalam kesedihan Anda bersabar, niscaya Anda selalu bahagia dan tenteram!
s.     Belenggulah keinginan Anda bila tidak mampu mencapainya!
t.     Jangan lah biarkan Anda melakukan perbuatan dosa dan kesalahan, karena membuat hati dan pikiran gundah! 
u.    Minta maaflah pada orang lain, bila Anda melakukan kesalahan!


Seharusnya Ramadhan menjadikan momentum melatih kesabaran yang sangat tepat dari tahun ke tahu. Jika dimulai saat balig, maka umat Islam akan sabar dalam kehidupan ini. Tetapi terkadang nilai-nilai kesabaran dari momentum Ramadhan tidak berbekas, malah kembali pada kebiasaan lama. Semoga melalui tulisan ini kita menjadi sabar dalam hidup dan kehidupan.      

Click to comment