Aku Jatuh Cinta Pada Mesin

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh W. Tanjung Files



Kegaduhan hari ini belum usai, ketika para siswa telahlibur semester, namun para guru tidak diperbolehkanlibur sebab ada perubahan aturan dari pemerintah.Mengajukan cuti menjadi solusi, namun kami para guru tak pernah mengajukan cuti seperti para pegawaikantoran. Ruang kantor ini terlalu pagi untuk terasabising, oleh gerutu beberapa temanku yang tak bisaliburan bersama keluarganya, gara-gara sistem darisebuah mesin. Sementara kepalaku terseret ke masa lalu.

Tepat satu tahun lalu, ketika libur lebaran telah usai, sekolah kembali masuk seperti sedia kala. Hari-hariku kini tak lagi sama seperti dulu, sebelum aku menjadi guru. Tidur pagi hingga siang dan beraktifitas malam hari menjadi rutinitasku, namun kala itu mulai berbeda. Awal tahun ini aku lolos tes pegawai negeri, mendaftarkan diri sebagai guru bahasa Indonesia di salah satu sekolah di kota ini. Kebanggaan luar biasa bagi orangtuaku. Akhirnya ada anaknya yang meneruskan profesi ayahnya menjadi guru. Kebetulan ayahku telah mendapat SK pensiun, bertepatan pula aku mendapatkan SK mengajar.

Lingkungan sekolah adalah hal yang baru bagiku. sebuah rutinitas yang birokratis. Berbeda dengan dunia seniman yang sebelumnya aku jalani, yang penuh improfisasi.Rutinitas itu yang membuat aku bertemu dengan sebuah mesin bernama fingerprint. Aku pun jatuh cinta padanya. Mungkin terdengar konyol, namun begitulah adanya.

Hari-hari awal masuk sekolah adalah rutinitas yang penuh hal baru. Waktu luang sebelum tahun ajaran baru, aku memanfaatkannya untuk mempelajari seluruh sistem mengajar, mulai dari melengkapi perangkat mengajar hingga segala aspek birokrasinya. Salah satunya tentang jadwal fingerprint.

Aku suka sesuatu yang sistematis, jika menyangkut kedisiplinan. itu yang terkadang membuatku terlihat tidak sopan atau terlalu keras menyikapi ketidakberesan yang terjadi di sekitar. Itu yang membuat aku merasa begitu cocok dengan mesin absen ini. Ketika dunia dilanda keplasuan dengan kedok sopan santun dan kecurangan, aku jengah dengan tingkah laku manusia modern, yang berlindung di balik keramahan untuk menyembunyikan keburukan.

Aku sendiri heran, kenapa aku menulis cerita ini. Apakah nanti tidak ada yang tersinggung jika ada teman guru yang membaca tulisan ini. Ah aku cuek saja, toh tulisan ini aku kirim ke koran media luar negeri, jadi kemungkinan kecil mereka bisa membacanya. 

Setiap pagi mesin itu adalah sosok yang selalu menyapaku dengan penuh kelembutan dan keramahan. Ketika aku salah meletakkan jari, dengan sopan ia ucapkan"Coba lagi", dan ketika scan finger sukses, ia katakan"Terima kasih". Suara perempuan yang lembut, namun ada ketegasan di balik kelembutan itu. Sosok istri yang sempurna.

Aku tahu ada oknum yang melakukan kecurangan dengan mesin itu, namun sebagai orang baru, aku hanya bisa diam dan mengamati. Salah satunya seseorang yang meminjam jari orang lain untuk melakukan absen finger. Terlihat ketika satu orang melakukan finger dua kali, pertama ketika ia tempelkan jari telunjuk untuk absen dirinya sendiri, kedua ketika ia tempelkan ibu jari untuk absen temannya yang nebeng absensi. 

Begitulah sistem, selalu ada peluang untuk kecurangan. Sebaik apapun sistem, pasti ada oknum yang menemukan peluang kecurangan. Semua kembali pada moralitas pelakunya. Sebagai seorang guru baru, aku tak banyak berbuat. Mungkin karena usia yang semakin tua, aku jadi tak begitu idealis seperti waktu sebelum 30 tahun, orangbilang dulu saya keras kepala, sekarang lebih terlihat bijaksana. 

Aku melakukan scan finger tiap pergantian jam pelajaran. Sedangkan guru-guru lain melakukan finger hanya dua kali, setiap awal dan pulang sekolah saja. Karena kebiasaanku yang aneh itu, membuat aku dicap aneh oleh beberapa teman guru. Katanya aku terlalu rajin finger, mungkin dalam hatinya berkata aku gila atau kurang kerjaan. Tetapi aku tak pernah risau soal pendapat orang lain, selama perbuatanku tak mengandung perbuatan yang melanggar aturan. Aku lakukan finger sesering mungkin karena suara wanita di mesin itu adalah samangatku untuk melanjutkan jam mengajar sampai usai. Dari kelembutan suaranya ada kekuatan penyemangat dan ketulusan.

Pada suatu hari mesin itu rusak. Pak kepala sekolah memberitahukan bahwa mesin itu sudah terlalu tua. Memang mesin finger itu bukan beli baru, namun hibah dari perusahaan milik salah satu alumni. Solusinya absensi kehadiran guru dilakukan secara menual dengan tanda tangan di ruang TU.

Semenjak kejadian itu, aku seperti kehilangan separuh semangat. Kedisiplinan untuk melaksanakan tugas mengajar tetap ada, namun ada yang kurang, tak sepertibiasanya. Entah kapan mesin itu akan sembuh dari kerusakan, atau bakal digantikan mesin yang baru. Aku berharap ia akan sembuh, bukan digantikan mesin yang baru. 

Sebagai pria single di usia 30 tahun, tentu jadi bebanku di lingkungan sosial. Sementara teman-teman seangkatanku sudah menikah semuanya. Pernah aku konsultasi ke psikiater, apakah aku mengalami gangguan jiwa atau kelainan seksual. Sejauh ini semua berpendapat aku baik-baik saja, cuman belum bertemu jodohnya saja, katanya.

Di zaman modern ini, ada banyak cara untuk menemukan jodoh. Dari smartphone ada banyak aplikasi pencari jodoh, namun imbasnya kemudahan itu justru mempersulit manusia untuk menemukan pasangan yang benar-benar tulus karena cinta. Pertimbangan yang bersifat materialis menjadi orientasinya. Sebetulnya jika aku beri tahu profesiku sebagai seorang pegawai negeri, pasti banyak yang berminat menikah denganku, namun bukan perempuan seperti itu yang aku cari. 


Hari-hari berlalu begitu saja, tak ada lagi suara si cantik dari mesin yang biasanya memeriksa jemariku. Suatu hari aku dipanggil untuk menghadap ke ruang kepala sekolah. Pak kepala sekolah menyodorkan daftar absensiku yang kosong, karena aku tak perlah melakukan absen secara manual di ruang TU. Perdebatan panjang dengan kepala sekolah pun terjadi, yang intinya aku tidak pernah meninggalkan tugas mengajar dan saya minta maaf karenasemenjak fingerprint rusak, saya selalu lupa untuk absensecara manual di ruang TU.


ku Ternyata Pak Kepala sekolah sudah tahu semuanyatentang peristiwa yang saya alami, bahkan beliau mengatakan salut dengan kinerja saya yang disiplin dan penuh semangat dalam mengajar para siswa. Ternyata selama ini aku dipantau oleh karyawan TU yang bernama mbak Nindya. "Sudah tau semuanya, yang cerita mbak Nindya, orangnya pendiam namun jujur, disiplin, idealis, tak bisa toleran pada pelanggaran, dia sudahmengabdi di sini selama 8 tahun dan belum menikah." kata Pak Kepala sekolah. 


Satu tahun berlalu setelah kejadian itu, Aku  dan Nindya akhirnya menikah dan kami dikaruniai seorang putri yang kami beri nama Fingerina Fitri, karena anak kami lahir bertepatan sengan 1 Syawal. 





W. Tanjung Files, lahir di Madiun, 21 Februari 1988. Menulis cerpen, puisi, dan musikalisasi puisi. Karyanyaterbit di berbagai media. Bukunya Kitab Puisi NegeriKertas (2015), Jejak Inspirasi (2015), Taman Tak Bernama(2016).

1 komentar:

avatar

sayang sekali, editornya cuman copy paste. harusnya diperiksa dulu ejaannya

Click to comment