QAD AFLAHA PROVIDER INTERNET

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Khairudin
Wakil Ketua Umum Pengurus Ikatan Guru (IGI) Pusat

Dua hari sudah saya open house, tak ada satu pun yg ngunjungi. Saya putuskan untuk close house saja kalau gini, serasa kayak pedagang tak laku 😁

Kemarin saya beranjak ke Lhokseumawe, 30 km dari rumah, tapi hampir 1,5 jam menempuh perjalanan. Teupin Punti sampe Bayu mobil merangkak, motor-motor merangsek tanpa peduli budaya antre, ambulan meraung-raung, jalan masih tertutup. Cafe alias warkop atau apapunlah namanya yang tempat nongkrong itu sudah buka dan penuh, berjejal kendaraan di depannya, bahkan tumpah ruah ke jalan raya. Setiap warung buka pasti ada keramaian. Termasuk saya yang hanya berencana beli satu cup coffee irish latte di d'royal Lhokseumawe harus ngantre dan nunggu 20 menit. Parkiran pinggir jalan Paparons Pizza membuat jalan separuh bisa dilewati, separuh lagi diisi oleh parkiran pelanggan mereka.

Di pantai Ujong blang, suasana lebih meriah, warung- warung kelapa muda hampir tak cukup stok, mie instan dari yang harus diolah sampai yang hanya direndam air panas tak henti-henti dipesan orang termasuk rujak. Kendaran tak henti keluar masuk area pantai. Suasananya sangat ramai.

Meski tak suka budaya "perang" di hari syawal, tp pemandangan itu hampir tak terlihat lagi. Saya hanya melihat satu mobil pickup dengan anak-anak bawa "senjata" laras panjang, itupun tak garang lagi seperti dulu. Tidak ada kontak senjata antar pickup atau antar kampung, atau nge-prank orang lewat pakai mercon. Ada juga remaja tanggung naik motor bawa senjata malah jadi kocak, segede itu apa serunya pegang bedil ecek-ecek.

WA Group sudah menyingkat silaturahmi kita saling ngunjungi, toh sudah ada group keluarga, group kampung, group komunitas, group se kabupaten sampe se nasional. Flyer digital ucapan lebaran sampe video beredar di group-group tersebut disertai ucapan-ucapan baik yang puitis sampai yang pragmatis. Seluruh sosial media seperti fb, instragram, WA, line dan sebagainya sesak membuat memori hape hampir meledak. Tapi toples kue di rumah masih penuh tanpa kunjungan. Rumah-rumah orangtua hanya sebentar dikunjungi karena amasih banyak objek yang belum difoto untuk diupload. 

Kau, kalian, kita termasuk aku lebih senang memeriahkan lebaran di gawai. Bahkan ketika berkunjung pun, tuan rumah hanya menjadi patung melihatmu bersosmed ria mengupdate info kunjungan, foto bareng atau foto makanan dari gawaimu. Lalu pamit mencari konten lain.


Hari ke 3 semakin sepi kunjungan tetamu ke rumah-rumah. Kaum tua sudah mulai puasa syawal, kaum abege masih pada rencana kunjungan wisata sambil kongkow dan wefie, anak-anak masih sibuk dengan tabletnya. Sesungguhnya yang berlebaran dalam keuntungan kemenangan hanya pemilik modal provider telekomunikasi, paket data tak boleh habis.

Click to comment