SEKOLAH, SARANG BULLYING

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Dok. Ihram.co.id

Oleh Ulfa Agustina
Mahasiswi Psikologi, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh
Institusi pendidikan lebih dikhususkan lagi menjadi sekolah, memegang peranan penting sebagai wadah bagi peserta didik dimana tenaga pendidik berfungsi untuk mendidik, membimbing maupun mengajarkan. Sekolah merupakan salah satu lingkungan yang berperan penting untuk meningkatkan kompetensi serta etika seseorang. Salah satu tindak kekerasan yang menindas pelajar yang sudah banyak dikenal akhir-akhir ini ialah bullying.Menurut Setiawati (2008) kecendrungan pihak sekolah yang sering mengabaikan keberadaan bullyingmenjadi para pelajar sebagai pelaku bullying mendapatkan penguatan terhadap perilaku tersebut untuk melakukan intimidasi pada pelajar yang lain.Sementara itu Swearer dan Doll (2001)  mengungkapkan angka kejadian bullyingdi dunia adalah sekitar 10 % pelajar SMP sampai 27 % SMA dilaporkan sering menjadi korban bully. Lalu di Indonesia, hasil penelitian Sejiwa tahun 2008 terhadap sekitar 1.200 orang pelajar di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya menunjukkan angka kejadian bullyingdi SMA sebesar 67,9 % dan SMP sebesar 66,1 % (Sejiwa, 2010).
Bullyingmerupakan tipe kekerasan di sekolah yang paling umum terjadi. Bullyingdidefinisikan sebagai suatu bentuk agresi fisik dan juga psikologis yang dilakukan secara berulang oleh seorang atau kelompok yang lebih kuat kepada seorang atau kelompok yang lebih lemah, dengan tujuan untuk menyakiti. Perilaku ini dilakukan secara berulang dalam frekuensi yang cukup banyak (Fekkes, Pijpers & Vanhorick, 2005) dengan maksud untuk menyakiti korban (Olweus 1993, Berger 2007, Limber & Nation, Brinson, 2005 dalam Deta Armatia, 2008). Coloroso (2007) berpendapat, bullyingadalah tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Tindakan penindasan ini dapat diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Bentuknya bisa bersifat fisik seperti memukul, menampar, dan memalak. Sedangkan Sullivan (2000) berpendapat bahwa bullyingsebagai bentuk kenakalan dikalangan remaja, memerlukan penanganan yang baik dan terencana untuk melakukan perubahan. Biasanya korban dan pelaku ialah remaja, masa remajamerupakan masa pemberontakan yang melibatkan perubahan dalam segi emosional, konflik dalam keluarga, masyarakat, perilaku tidak peduli, dan penolakan terhadap nilai orang dewasa (Papalia, Olds, dan Feldman, 2009).
Bentuk bullyingdidominasi oleh bullying secara fisik. Biasanya korban dari bullyingdi sekolah ini bisa menjadi pelaku, mereka menjadi pelaku bukan karena berbakat tetapi terbentuk dari lingkungan yang kurang kondusif dimana positif bullyingdirasakan, awalnya terbentuk akibat penindasan yang dilakukan oleh orang lain seperti senior. Penelitian yang dilakukan dalam bulan Mei-Oktober 2008 pada dua SMA negeri dan swasta Yogyakarta menunjukkan siswa mengalami bullying fisik seperti ditendang dan didorong sebesar 75,22%. Sejiwa (2008) menyatakan bullying secara fisik seperti menampar, menimpuk, menginjak kaki, menjambak, menjegal, menghukum dengan berlari kelling lapangan, dan menghukum dengan cara push up. Bullyingini dapat dilihat secara kasat mata karena terjadi kontak langsung antara pelaku dan korbannya.
Peristiwa bullyingyang dialami korban menimbulkan dampak negatif pada dirinya, baik dalam jangka waktu pendek maupun dalam jangka waktu yang lama. Bullyingternyata tidak hanya menimbulkan dampak negatif dari segi psikologis namun juga segi fisik. Salah satu dampak dari bullyingyang jelas terlihat adalah dari segi fisik, beberapa dampak fisik yang ditimbulkan biasanya sakit kepala, flu, batuk, sakit tenggorokan, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Hal tersebut disebabkan karena dalam peristiwa bullyingterjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullyingakan cenderung mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis, dan kesehatan yang buruk (Rigby, 2003).

Click to comment