Silaturahmi Literasi

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Dok. Pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Ah,Tabrani Yunis ini semua ia tulis. Sampai sampah-sampah pun ia tulis. Begitu kata seorang teman kepadaku, ketika ia menerima postingan tulisanku ke WAnya. Bukan hanya dia, masih ada teman-teman lain dengan nada dan irama yang tidak jauh berbeda ketika aku atau memuatnya di laman Facebook. Respon yang menggelitik dan selayaknya juga diapresiasi. Aku bisa faham terhadap apa yang ia katakan padaku. 

Aku tidak harus berkecil hati, tetapi sebaliknya harus menjadikan ucapan itu sebagai pemantik atau motivasi untuj menulis dan mengembangkan kapasita menulis, sehingga aktivitas menulis benar-benar menjadi sebuah tradisi.Maka, apa yang diekspresikan teman-teman tersebut merupakan tanggapan positif, karena mereka juga melihat hal itu terjadi karena kemauan untuk menulis, karena kepedulian terhadap segala fenomena yang terjadi di sekitar dan menjadi persoalan yang memang harus diangkat atau diekspos.

Memang itu fakta. Ya, aku memang menulis tentang apa saja yang menarik perhatian dan mood untuk menulis. Benar, ketika aku melihat sampah saja, bisa banyak tulisan yang bisa tulis dari berbagai sudut pandang. Misalnya, melihat sampah yang berserakan di tempat-tempat acara atau pesta, baik di rumah maupun di convention hall atau di hotel. Itu bisa ditulis dari berbagai perspektif. Bisa dari perspektif masyarakat, pemerintah Sebagai pengelola di semua tingkat pemerintahan, desa, kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan bahkan negara.

Di level masayarakat misalnya, ada banyak kebiasan buruk masyarakat kita dalam kaitannya dengan sampah. Cobalah amati ketika berada di pesta. Usai melahap makanan, kita tidak membuang sampah di tempatnya, tetapi meletakkannya di bawah kursi, Begitu pula ketika kita ikut acara -acara di sekolah, termasuk peringatan maulid. Selalu saja kotak makanan atau sisa makanan dan plastik air kemasan dan lain-lain berserakan dan tidak ada usaha dari kita mencari tempat sampah. Lagi pula pihak penyelenggara acara tidak menyediakan tempat sampah agar para tamu usai makan bisa memasukan sampah ke tempat sampah yang disediakan ( kalau ada). Dengan melihat realitas seperti itu, banyak pula tulisan mengenai sampah. Tak ubahnya seperti sampah yang berserakan dan bertimbun begitu banyak. Jadi, dengan banyaknya sampah dan masalahnya, maka semakin banyak ide atau gagasan menulis tentang sampah. Menulis itu, ibarat kita mengarungi lautan.  Kala berada di lautan, banyak sekali yang bisa kita tulis. Ada banyak sampah juga kini di laut. Pokoknya, tak pernah habis-habisnya  bahan untuk menulis tersebut. Nah, namun demikian,  jangan biasakan buang sampah sembarangan. Itu tidak elok.

Jadi, harus kita camkan bahwa bahan dan ide untuk menulis tidak hanya soal sampah, ada banyak hal lain yang bisa ditulis. Apalagi alam ini begitu luas dan begitu banyak isinya. Sangatlah naif, kalau tidak ada bahan untuk ditulis. Bisa menulis mengenai dunia pendidikan, bisa soal entrepreneurship, bisa membuat cerita perjalanan, puisi, cerpen, opini dan lain sebagainya. Pokoknya asal mau menulis, tidak ada batas apapun. Oleh sebab itu, berusahalah untuk menulis dan akan lebih baik lagi kalau menjadikan aktivitas menulis itu sebagai sebuah tradisi. Tradisi yang ditekuni kapan saja, dimana saja dan dalam kondisi apa pun. Bagiku sendiri, menulis itu terasa sangat nikmat, maka aku berusaha tetap menulis setiap hari.  Walau tulisan tersebut kualitasnya tidak sekaliber penulis-penulis best seller. Ya,  aku lebih memilih  menulis hal-hal ringan, santai , namun kadang-kadang juga menulis yang serius harus didukung dengan banyak referensi. Semua itu dilakukan dengan harapan bisa menjadi pengingat atau menjadi tulisan melawan lupa. Karena, masing-masing orang menulis, punya latarbelakang yang berbeda. Ada yang melakukan aktivitas menulis seharian, karena ingin mendapat penghasilan atau pendapatan dari tulisan-tulisannya, ada pula karena terdorong oleh keinginan untuk dikenal atau terkenal. Ada pula yang menulis dilatarbelakangi oleh dorongan berbagi ilmu dan sebagainya. Bahkan banyak orang yang menulis sebagai bentuk aktualisasi diri. Ada atau tidak ada honor, ia tetap menulis, karena apa yang difahaminya, ketika kita menulis menjadi sebuah kebaikan dan menjadi ladang amal, urusan honor menulis bukanlah sebuah tujuan, tetapi dengan menulis tersebut, ia bisa mendapatkan rasa kepuasaan batin, bisa meningkat ilmu pengetahuan dan bisa pula berbagi ilmu kepada pembaca. Bahkan dampak dari menulis itu sangat besar.

Selain soal dorongan atau yang memotivasi kita menulis tersebut, sebenarnya bila melihat sejenak ke belakang, atau melakukan kilas balik dalam aktivitas menulis, aku menemukan banyak sekali manfaat menulis. Ketika menulis, untungnya aku menjadi terdorong untuk membaca tulisan-tulisan orang lain,  paling tidak membaca buku dan semua sumber bacaan yang dibutuhkan saat mau dan sedang menulis. Bukan hanya itu, kegiatan menulis itu juga mendorong si penulis menjadi semakin peka terhadap lingkungan dan masalah-masalah yang sedang terjadi di sekitar lingkungannya. Bahkan bukan saja di lingkungannya, tetapi juga di luar itu. Bagi seorang penulis sejati, alam yang terkembang itu adalah sumber inspirasi. Maka, ia akan terus menulis. Mengapa ia menulis terus? Jawabannya, menulis itu banyak hikmahnya. Banyak untungnya. Biasanya, yang tahu banyak untungnya adalah penulis itu sendiri.

Lalu, bagaimana pula kalau, menulis itu bisa disebut sebagai silaturahmi literasi? Begini ceritanya. Bisa jadi, kita dulu semasa SD, atau di SMP, di SMA atau bahkan di Perguruan Tinggi, punya teman dekat, punya teman sekelas atau teman sekolah, dan se jurusan di kampus. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan di lembaga pendidikan tersebut, kita sudah tercerai berai. Maksudnya, sudah berpisah satu sama lainnya, karena banyak factor penyebab. Misalnya melanjutkan pendidikan ke tempat lain dan kemudian bekerja di tempat tersebut, tidak kembali ke kampung halaman. Dalam kondisi semacam ini, kita sering merasa punya keinginan untuk bisa berkunjung atau bersilturahmi dengan sahabat-sahabat tersebut. Pasti akan sulit untuk bersilaturahmi. Maka, jalan yang paling elegan untuk bisa bersilturahmi tersebut adalah lewat tulisan-tulisan kita yang kita tulis dan muat di media. Apakah itu di media cetak, media elektronik atau di media social dengan cara membagikan tulisan tersebut kepada teman-teman yang jauh dan tidak sempat bertemu. Oleh sebab itu ketika tulisan kita dibaca oleh teman-teman, membuat hubungan kita dengan teman-teman tersebut menjadi terhubung oleh tulisan – tulisan kita tersebut. Nah, jadi terkait bukan? Silakan menulis dan berbagi dengan teman-teman dan jadikan tulisan kita tersebut sebagi penyambung silaturahmi. Selamat menulis. 

Click to comment