Beasiswa Syafaat Untuk Mendukung Pendidikan Anak Dhuafa

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Khaula
Mahasiswa UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh

               Beasiswa syafaat yaitu sebuah program yang dicanangkan oleh orang-orang yang memiliki rasa sosial yang tinggi yang bergerak dalam suatu lembaga yaitu Lembaga Peduli Dhuafa (LPD) dengan tujuan untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak yatim/piatu/dhuafa agar mereka mendapatkan kesetaraan hak dalam memperoleh pendidikan yang layak. Program beasiswa syafaat ini tidak hanya memberikan uang secara tunai kepada penerima, tetapi juga disertai dengan program-program pendamping dan mentoring terhadap para penerima beasiswa yang dilakukan oleh para relawan.

                Beasiswa syafaat dijalankan dengan sistem mencari Orang Tua Asuh (OTA) yang berstatus sebagai donatur perbulannya. Sistem menjalakan beasiswa syafaat ini terdiri dari beberapa tahap yaitu: (1) kita terima laporan tentang anak dhuafa yang perlu bantuan, (2) kita lakukan survey, (3) kita laporkan hasil survey ke forum, (4) menunggu keputusan dari ketua dan forum, (5) data dari penerima beasiswa (anak asuh) di input, (6) kita carikan Orang Tua Asuh (OTA), (7) admin menghubungi Orang Tua Asuh (OTA) dan menyerahkan biodata lengkap penerima beasiswa. Setelah itu semua, proses selanjutnya adalah mentoring dan monitoring minimmal 1 kali/bulan.Kegiatan mentoring dan monitoring ini sekaligus untuk penyaluran beasiswa ke anak asuh. 
               Selain mentoring dan monitoring setiap anak asuh juga diikut sertakan dalam program mentoring ceria yang sifatnya lebih besar dari mentoring yang berlangsung rutin setiap bulannya. PMC (Program Mentoring Ceria) ini layaknya event yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh anak-anak penerima beasiswa syafaat di suatu daerah. Biasanya berupa kunjungan ke suatu tempat yang bersifat edukatif sambil mengikuti sederet acara seperti cerdas cermat, berdogeng dan game edukasi. 
               Kami  berdoa semoga sampai kapan pun  Allah SWT, tetap mengizinkan kami untuk memberikan yang lebih berarti kepada anak-anak dhuafa. Mereka anak-anak yang masih membutuhkan perhatian dari kelurga dan masyarakat untuk dibina dan dibimbing agar suatu saat mereka menjadi pemudan dan pemudi yang bisa membanggakan orang tua dan mengharumkan nama bangsa ini.Karena kemakmuran dan kesejahteraan suatu negara didukung oleh kualitas pemuda dan pemudi yang memiliki kemampuan daya intelektual dan rasa sosial yang tinggi.
Panasnya terik matahari di kala siang menjelang sore di sepanjang jalan menuju ke tempat tinggal salah satu anak asuh lembaga peduli dhuafa tidak membuat kami  menunda lagi pertemuan ini dikarenakan mengingat kegiatan sekolah sudah berlangsung selama dua hari. Saya sebagai salah satu relawan yang bergerak dibidang pendidikan  ditugaskan untuk mengantarkan uang saku kepada anak asuh yang sudah dimasukkan kedalam katagori dhuafa. 
Mulki dan Rifki mereka berdua adalah saudara kandung yang merupakan pilihan dari puluhan anak yang menerima beasiswa syafaat dari Lembaga Peduli Dhuafa (LPD). Pihak lembaga hanya menanggung kebutuhan sekolah seperti seragam sekolah, buku-buku sekolah dan uang saku serta ilmu pengetahuan umum dari program monitoring, memang pihak lembaga tidak bisa menanggung sepenuhnya tetapi bantuan tersebut sudah sangat meringankan beban dari orang tua mereka.
Mulki anak pertama sedangkan Rifki anak kedua dari tiga besaudara. Mulki dan keluarga saat ini tinggal di sebuah gubuk yang dibangun di atas tanah milik warga. Keluarga Mulki merupakan keluarga perantau yang berasal dari Aceh Timur. Mereka telah tinggal di Banda Aceh sejak tahun 2007 dan tinggal berpindah-pindah karena menyewa rumah. Sejak tahun 2010, keluarga Mulki meminta untuk tinggal di sebuah tanah milik warga sekitar yang digunakan untuk berternak ayam potong, sekaligus bekerja sebagai penjaga di perternakan itu, namun usaha itu tidak berlanjut.
Mulki dan keluarganya masih diizinkan untuk tinggal di gubuk tanah tersebut, sambil memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam, ayah Mulki sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan bila ada panggilan, untuk menambah penghasilan keluarga, ibu mulki juga pernah bekerja sebagai pencetak batu bata, namun karena harus merawat ke tiga anaknya pekerjaan itu tidak dapat dilanjutkan lagi. Keluarga mulki juga dibingungkan karena tidak lama lagi tanah yang mereka akan digunakan oleh pemiliknya untuk membangun  rumah, dan keluarga mulki belum memiliki tempat tinggal lainnya.
Meski dalam keterbatasan, Mulki dan Rifki tetap semangat untuk bersekolah. Mulki adalah murid yang berprestasi. Mulki memperoleh peringkat ke 3 besar saat kelas 3 SD, dan menjadi peringkat 1 saat kelas 4 SD. Saat awal masuk SD Mulki agak terkendala di akademis karena sebelumnya tidak masuk TK karena keterbatasan biaya. Keterbatasan biaya sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak-anak salah satu contohnya adalah Mulki dan Rifki yang tidak bisa masuk TK karena kedua orang tuanya tidak mampu untuk membiayai.
Saya dan kawan-kawan relawan yang lain memiliki keinginan untuk membantu anak-anak yang tidak mampu agar mereka bisa merasakan proses pendidikan yang formal. Selain dalam membantu proses pendidikan formal, pengurus dari lembaga peduli dhuafa yang khususnya bekerja dibidang pendidikan mengadakan kegiatan monitoring. Kegiatan monitoring yang dilakukan setiap bulan kepada setiap anak asuh bertujuan untuk menguji kemampuan serta memberikan motivasi untuk semangat dalam belajar.
            Orang tua memegang peranan penting dalam mendidik anak-anak mereka, karena dalam keluargalah pendidikan anak bermula, mulai dari dalam kandungan anak-anak sudah mendapatkan pendidikan dari ibunya, dan setelah lahir anak-anak mendapatkan kasih sayang dan motivasi dari keluarganya, dengan demikian setiap orang tua perlu menerapkan pola asuh yang tepat pada anaknya.
            Setiap anak selalu mencontohkan perilaku orang tuanya, maka dari itu orang tua hendaknya menjadi model dan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Pola asuh yang baik dan demokratis akan lebih berhasil dalam menciptakan pribadi anak yang tangguh, percaya diri, dan berkarakter.
Masyarakat juga memiliki peran dalam proses pembentukan karakter setiap anak karena karakter itu hal yang paling utamakan dalam suatu lingkungan masyarakat seorang anak akan dinilai baik apabila akhlak dan karakternya baik. Oleh sebab itu, seorang anak akan memiliki karakter yang baik apabila anak tersebut besar dalam lingkungan dengan masyarakat yang memiliki karakter yang baik pula. Karakter ada dua yaitu karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral yang meliputi beriman, bertakwa, jujur dan rendah hati. Sedangkan karakter kinerja yaitu kerja keras, tangguh, dan tak mudah menyerah. 
Setiap anak memiliki pemikiran yang berbeda-beda jadi kita sebagai orang tua dan  lingkungan masyarakat harus mengerti terhadap apa yang mereka inginkan serta memberikan solusi dan masukan dengan cara yang baik agar mereka menerima masukan dari kita dengan baik pula, jadi setiap anak menginginkan tanggapan yang baik dari kita bahwa yang mereka lakukan itu suatu kesalahan dan agar mereka tidak mengulangi untuk melakukan kesalahan yang sama.
Semua anak-anak membutuhkan kasih sayang dari orang tua ataupun dari lingkungan masyarakat, sebagai orang tua dan masyarakat yang memiliki tanggung jawab terhadap anak-anak seharusnya memberikan motivasi agar mereka bersemangat dalam melaukan suatu kebaikan dan dalam proses belajar. Ciptakan keharmonisan dengan anak sebaik-baiknya, agar anak pun terbuka dan merasa nyaman dengan kita sebagai orang yang menyayanginya.
Dr. dr. Tiara Aninditha, Sp.S. mengatakan bahwa setiap anak memiliki proses perkembangan otak yang berbeda-beda. Jadi, perlu untuk kita ketahui bahwa bagaimana proses  berkembang otak anak  “bisa kita amati dariperilakunyayang agresif, pemalu atau pendiam” kita sebagai orang tua atau lingkunganya bisa memberikan support sesuai dengan perkembangannya, karena hanya pada keadaan yang menyenangkan otak anak bisa menerima apapun yang diajarkan. 

Click to comment