Berbicang Soal Menulis, Sembari menikmati Mie Aceh

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

( Sebuah Catatan Yang Tercecer )

Bagian Pertama

Oleh Tabrani Yunis

Malam itu, 5 Maret 2019. Hari sudah senja dan suara azan magrib menggema dari masjid-masjid di sekitar jalan T.Panglima Polem, Peunayong Banda Aceh. Kami kala itu berada di sebuah warung mie Razali, sebuah warung mie yang sangat terkenal di kota ini. Kerena waktu salat magrib sudah tiba, kami melaksanakan salat magrib di musala kecil di lantai dua warung itu. Usai salat magrib, para pelayan warung mie baru mendatangi kami, bertanya mau pesan apa saja. Ia memberikan kami daftar menu. Ada banyak pilihan mie yang ada didaftar tersebut, mulai dari mie biasa, mie daging, hingga mie kepiting yang tampaknya nikmat sekali bagi mereka yang masih kuat darah, tidak sedang mengalami asam urat, dan juga tidak sedang menderita kelebihan kolesterol. Sebab, kalau dua penyakit itu sedang menggerayangi tubuh, lebih baik nikmati yang lain saja. Pokoknya, ada banyak pilihan. Bukan saja mie, tetapi juga minuman segar. Ya, ada banyak jus buah yang segar-segar. Pesanan pun sudah diberikan kepada pelayan.

Sajian mie Razali ( kalau di luar dikenal dengan mie Aceh), begitu menggoda. Sebelum mie disajikan, ruangan yang ber-AC dan tertutup itu terdengar penuh hiruk pikuk suara kami yang sedang berbincang-bincang tentang pelatihan menulis. Namum, ketika sajian mie datang, semua memilih diam, karena ingin menyicipi sajian mie Aceh yang disajikan berdsarkan pesanan masing-masing. Ada yang pesan mie dengan campuran daging, ada yang pesan mie goring, mie goreng basah dan juga mie kepiting. Begitu juga dengan sajian minuman, tersedia berbagai macam jus buah, serta sajian rujak Aceh. Jadi lengkaplah meja di depan kami. Jadi, kalau sejenak semua terdiam, artinya kami sedang menikmati nikmatnya sajian mie dan lainnya. Walau sekali-sekali ada yang berbicara, bergurau atau nyeleneh sambil makan.

Pokoknya, saat menikmati sajian mie Aceh yang sangat terkenal, bukan hanya di Aceh, tetapi juga di tanah air, bahkan di luar negeri, terutama di kalangan masyarakat dunia yang pernah berkunjung ke Aceh. Hampir tidak ada orang di Banda Aceh yang tidak kenal dengan mie Razali, yang berlokasi di jalan Teuku Panglima Polem, Peunayong,Banda Aceh itu. Nah, malam itu, bukan saja menarik karena menyantap mie Aceh ( Mie Razali), tetapi yang tidak kalah nikmatnya adalah diskusi sejenak sebelum dan usai menikmati sajian mie tersebut. Sehingga, bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memberi asupan gizi otak. Bagaimana bisa?

Tentu saja bisa. Apalagi malam itu yang hadir adalah orang-orang istimewa yakni Prof. Dr. Irwan Abdullah, Guru Besar Antropolog, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada yang akan melatih calon dan peneliti di Aceh yang concern dengan isu pembangunan perdamaian (peace building) di Aceh. Mereka berasal dari beberapa Universitas di Aceh mendapat kesempatan mengikuti pelatihan riset dan penulisan artikel terkait isu perdamaian tersebut yang berlangsung di ruang Memorial Perdamaian, Kesbangpol Aceh, keesokan harinya. Prof. Dr. Irwan Abudullah menjadi pelatih utama pada kegiatan selama dua hari tersebut. Tidak kalah penting juga, pada malam itu, selain Prof. Dr. Abdullah, ada Dr. Wening Udasmoro, dekan Fakultas  Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada, Yogjakarta bersama Dr. Arifah Rahmawati, SE, MA, peneliti Pusat study  Keamanan dan Perdamaian, UGM Jogjakarta yang kala itu masih melakukan penelitian di Aceh dan sekaligus sebagai pihak penyelenggara kegiatan ini, sebagai bentuk kontribusi dan kepeduluan terhadap upaya pembangunan perdamaian di Aceh. Jadi, mereka yang hadir adalah orang-orang yang sudah sangat ahli dalam dunia riset dan penulisan artikel ilmiah tentunya.

Maka, di akhir  atau di ujung waktu menikmati santapan mie Aceh itu, Prof. Dr. Irwan mengatakan, sebenarnya apa yang membuat sesorang itu merasa menulis itu mudah adalah ketika seseorang tersebut mau menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah tradisi. Ya, sebenarya ketika mendengar ungkapan “Menulis sebagai tradisi”, ungkapan tersebut mengingatkan kita pada ungkapan- ungkapan yang sudah lama membumi di dalam masyarakat kita. Misalnya kita sering mendengar  pameo atau pepatah seperti “ lancar kaji karena diulang, pasal jalan karena dilalui”. Juga banyak ungkapan bahasa Inggris seperti the key of learning is practice, practice, practice. Juga ungkapan seperti practice makes perfect.

Oleh sebab itu, kalau mau menulis itu jangan direncanakan, tetapi menulis saja terus. Kalau direncanakan nanti hanya akan tinggal rencana. Pertanyaannya, bagaimana menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah tradisi? Ternyata sangat mudah. Ya, kita bisa memulainya segera. Yang penting sediakan saja waktu khusus untuk menulis. Misalnya menulis di pagi hari dan selesaikan. Jadi, sebagai tradisi adalah membiasakan menulis apapun di waktu pagi,lakukan satu jam dan jangan lakukan hal yang lain.Pusatkan saja perhatian pada menulis dan selesaikan, lalu setelah itu silakan lakukan aktivitas atau pekerjaan lain. Namun, agar kita mudah memulai sebuah tulisan, tidak pusing mau memulai kalimat apa yang pertama kita tulis, maka untuk memudahkan dan melancarkan di saat memulai tulisan, bisa ditempuh dengan cara di bawah ini.

Mulailah menulis dengan mengutip kata pepatah, kemudian bisa dilanjutkan dengan mengangkat cerita dari sebuah kisah atau sejarah. Misalnya dalam cerita Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Laksamana Malahayati dan lain-lain. Bahkan, untuk kalimat pertama tersebut, bisa pula kita tulis seperti ini, “ Saya tidak tahu mau mulai dari mana untuk menulis tulisan ini”. Kalimat tersebut akan membantu kita memulai, karena kita bisa menceritakan dahulu apa yang menjadi kesulitan kita, baru kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat lain di belakangnya. Jadi begitu mudah memulai sebuah tulisan. Maka, biasakanlah menulis. Ya, menjadikan menulis sebagai sebuah tradisi.

Click to comment