Maafkan Hana Bunda

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh  Dwina Azzira Ulfa
Siswi SMP IT Kahfi,  Padang, Sumatera Barat

“Assalamualaikum bunda, Hana pulang“, teriak Hana ketika baru memasuki rumah. Segera dilemparnya sepatu dan kaus kaki ke pojok teras sembarangan, kemudian masuk dan menghempaskan badannya ke sofa ruang tamu yang empuk. Masih menggunakan tas dan seragam sekolah, dirabanya saku roknya dan sesegera mungkin mengeluarkan benda yang dari tadi terus bergetar nyaring menandakan pesan masuk di line. Hana tampak asik menekan-nekan layar benda yang bernama handphone itu dan langsung online di grup.
                  “Waalaikumussalam Hana, ganti bajunya dulu ya..! sesudah itu tolong bunda di dapur sebentar!” teriak bunda dari dapur. Suara batuk bunda yang terkena asap, letupan minyak dan beberapa peralatan dapur dari besi yang bertautan terdengar jelas ke ruang tamu. ”Ah” dengus Hana pelan. Masih dengan seragam sekolah dan handphone di tangan kanannya, Hana berjalan pelan ke arah dapur sembari beberapa kali berhenti dan cekikikan karena chat teman temannya yang menurutnya menarik.

                   “Apa bun?” tanya Hana setiba di dapur dengan malas. ”Kok cepat banget kamu ganti bajunya? ya sudah tolong bunda . . . ASTAGHFIRULLAH.. letakan dulu handphonenya sana, ganti bajunya!”, seru bunda terkejut ketika membalikkan badan dan melihat Hana masih sibuk dengan handphone-nya. ”Iya..iya..”, jawabnya dengan malas. Hana menaiki tangga menuju kamarnya, kemudian meletakkan handphone-nya yang masih menyala di atas meja belajar. Dengan sigap, dia mengganti seragam sekolahnya dengan baju harian. Belum selesai seutuhnya dia mengganti pakaian, tiba-tiba bunda  berteriak dari belakang pintu kamarnya. ”Hana, nanti kalau sudah selesai ganti bajunya tolong bunda bersihkan ruang makan ya...! ambil piring dan air minum untuk papa!” teriak bunda ketika Hana sedang memakai kaus birunya. ”Ah, ganggu saja”, gerutunya pelan sembari menyambar handphone dan berjalan menuruni anak tangga ke ruang makan. Dibawanya juga sekalian sapu yang ada di sudut kamarnya.

                   Hana menyapu sekilas ruang makan itu, kemudian beralih untuk melap meja makan. Menyapu, melap meja, ambil nasi, tempat minum, dan piring segalanya sudah selesai olehnya, hanya dalam waktu 5 menit. Setelah merasa siap, Hana duduk di salah satu kursi makan dan mulai bermain game online. ”Astaghfirullah Hana, bunda suruhkan bersihkan dapur, kok malah main game di sini “, teriak bunda kaget melihat Hana yang sedang asyik bermain game online di salah satu kursi ruang makan. Hana hanya merespon dengan anggukan, lalu menjawab “sudah selesai kok” sekilas. “Apanya yang sudah, meja masih berminyak, di bawah meja debunya juga masih banyak kayak belum disapu. Hana ikhlas tidak bantu bunda atau ...” , perkataan bunda terputus oleh Hana yang tiba-tiba berseru.
“Ah, bunda tak usah suruh–suruh dan urusi Hana lagi. Hana malas disuruh-suruh, Hana capek. Bunda juga tak usah atur- atur Hana lagi, Hana sudah besar. Ah, capek berurusan sama bunda”, teriak Hana pada bunda, kemudian berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai 2. 
                   “Ah bikin repot saja“, gerutu Hana saat telah sampai di dalam kamar. Dikuncinya kamarnya dan meletakkan kunci itu di meja sebelah kasurnya. Kemudian segera mungkin direbahkannya badannya ke atas tempat tidur. ”Lanjut lagi ah”, gumamnya dengan tangan kiri sedang memegang handphone yang baru saja online di facebook. 
Baru beberapa menit dia bermain, dan kantuk begitu cepat datang menghampirinya,  menyebabkan matanya mendesak ingin tertutup dan pikiran terlelap. Sampai akhirnya Hana menuruti kantuknya. Hana tak ingat apa-apa lagi.
***
                  “Drrr”, handphone di kasur itu bergetar nyaring. Hana yang masih asyik menjelajahi dunia mimpi menjadi kesal ketika mimpinya harus di putus pada pertengahan, ”hahh...., sudah gelap saja ,aku tidur sampai malam larut begini ya?” tanya Hana terheran-heran sembari meraba permukaan kasurnya untuk mencari handphone-nya yang berdering tadi. “Siapa sih yang menelpon malam-malam begini?” gerutu Hana saat tak kunjung juga kutemukan handphone itu.
                   “Drrr”, handphone itu berdering lagi, menimbulkan cahaya keluar darinya. Disambarnya handphone yang sudah diketahuinya lokasinya itu untuk memeriksa siapa yang menghubunginya malam ini. “ Tak ada namanya nih, nomornya juga tak aku kenal. Nomor nyasar kali ya? Jawab sajalah,” ujar Hana sambil menekan tombol hijau di layar menandakan menerima telephone. 
                   “Halo dengan siapa ya?” tanya Hana hati-hati. Tak ada jawaban. Hening. Diliriknya layar handphone itu kembali, masih terhubung. ”Halo, ini dengan siapa ya?” tanya Hana kembali. Tak ada jawaban. Kembali hening. Hana mulai kesal, tak peduli lagi siapa yang menghubunginya malam-malam begini. Tangannya sudah siap menekan tombol mengakhiri telepon sebelum akhirnya jendela kamarnya yang tak terlalu jauh dari sisi ranjang terbuka, membawa angin malam yang bertiup kencang untuk menerbangkan tirainya. Seketika, perut Hana terasa kembung, membuatnya sakit perut. ”Aku tadi belum mengunci jendela ya?” tanya Hana terheran-heran pada diri sendiri sambil menoleh ke arah jendela dan mengetuk-ngetuk keningnya, berpikir. Diletakkannya saja handphone-nya di atas kasur, kemudian berjalan ke arah jendela untuk menutupnya, melupakan niatnya yang ingin memutus sambungan dari nomor yang tidak dikenal itu.
“Kayaknya mau hujan deh,” tebak Hana ketika melihat langit malam yang mendung dari jendela. Secepatnya dicobanya untuk menutup jendela sebelum akhirnya.... “Aaah....” teriak Hana takut. ”Siapa? Siapa yang menarik tangan ku?” teriaknya kembali sembari mundur ketakutan. Hampir saja Hana terjatuh dari jendela di lantai 2 itu karna lengannya yang terasa tertarik ke bawah. Untung saja tangan kirinya yang tak tertarik refleks memegang jendela, jika tidak, tentu saja dia sudah terjatuh dari ketinggian 7 m.
Dicobanya untuk menghilangkan rasa takut itu dan berlari ke arah sakelar untuk menghidupkan lampu yang sempat dilupakannya. Belum sampai dirinya pada tujuan, Hana terjerembap jatuh ke depan. Ah, entah siapa yang telah menarik kakinya, dia tak sempat lagi memikirkannya karena gusi dan dagunya kini telah terasa sakit, karena membentur keras lantai.
                  “Siapa? Siapa yang melakukannya?” tanya Hana lirih menahan rasa sakit di dagu sambil mencoba untuk bangkit. ”KAMU TAK DAPAT LARI” teriakan dari handphonenya yang belum sempat dimatikan itu serasa menggema ditelinganya. Suara serak yang mengerikan. “Si...si...siapa kamu? Mengapa kamu menggangguku?” lirih Hana yang sekarang sudah berdiri tertatih-tatih sambil memegang dagunya digelap kamarnya kali ini. Perutnya juga terasa masih sakit karna kembung. “Ah, jendela kamarku belum juga kututup” gerutunya, membiarkan angin malam yang dingin menusuk tulangnya. Hana tak tahu jika sekarang dia sudah menangis sesenggukan, tapi dicobanya untuk setangguh hati bunda. Oh tidak, bunda. pikirannya beralih pada kejadian tadi siang yang membuatnya mengunci diri di kamar sekarang. Rasanya ada perasaan bersalah yang berkecamuk di hatinya. Andai saja waktu bisa diulang, andai saja, maka Hana tak akan pernah melakukannya, sampai kapan pun, selamanya. Entah apa yang dilakukan bunda kini, akankah sudah tertidur hingga tak mendengar teriakannya atau belum? Tapi Hana tak akan membuang kesempatan, meminta tolong pada bunda adalah satu-satunya jalan keluar.

                  “Bunda..., bunda...., tolong Hana, Hana takut, tolong Hana bunda” teriak Hana dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis karena menangis. Tak ada jawaban. “Buuk” Hana terduduk, kakinya tak kuat lagi menopang tubuh yang kini terasa sangat lemas. Tapi Hana tak menyerah semudah itu. Dicobanya untuk kembali mengumpulkan tenaga. Bekas hempasan saat dia terjerembap ke bawah tadi tak hanya menimbulkan rasa sakit tetapi juga merobek daerah dalam pipinya, terasa perih. Rasanya susah baginya berteriak dengan mulut yang di penuhi darah. “Shiit” keluhnya ketika tak sengaja menggigit lidah yang terasa kelu. Hana menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Bun...”,teriakannya terputus. Pintu yang posisinya sedang dibelakanginya kini seperti ada yang membukanya. Hana takut, ya, Hana takut, sangat takut. Tangan, kaki, bahkan jarinya terasa susah di gerakkan. Entah siapa yang membuka pintu itu, entahlah. Tapi Hana tak ingin lengah, dilirihkannya doa di dalam hati agar itu adalah bunda. Tak tahu bunda dapat dari mana kunci cadangan kamarnya, tapi Hana sangat berharap bundalah itu.
                  “Tekk” bunyi sakelar yang di tekan membuat lampu di kamarnya kini menyala.  Dibalikkannya badannya dan melihat bunda sedang berada di ambang pintu, mendekatinya yang ketika melihat bunda langsung berdiri, menghampirinya. Dihempaskannya badannya ke pelukan bunda dan memejamkan mata. “Hana kenapa? Kenapa panggil bunda?” tanya bunda sambil mengelus rambutnya. Hana menangis dan perlahan membuka matanya karena rambutnya yang terasa seperti tertarik. “Aaargh...” keluh Hana kesakitan. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat pakaian bunda telah berganti menjadi kain putih yang dikotori warna merah dan coklat tanah. Bau amis segera tercium, menusuk ke hidung. “Aaaaargh” teriak Hana kesakitan. Bunda menarik rambutnya yang dielusnya tadi, membuat kepala Hana kini menatap tepat di wajah bunda, membuat Hana jengkel.

                  Tetapi semua kejengkelan itu langsung sirna bersamaan dengan digantinya rasa takut yang memuncak. ”Aaa. . . “, teriak Hana takut sambil mencoba melepaskan diri dari sosok mengerikan yang kini sedang mendekapku. Kulit wajah yang terkelupas menimbulkan darah keluar dari luka itu, bibirnya juga tak ada lagi, membuat giginya yang telah hancur dan kotor terlihat jelas. ”Lepaskaaa. . . .nn”, teriak Hana sembari memukul sosok mengerikan itu agar ia melepasnya.
                  “Tekk”, entah siapa yang telah kembali menekan tombol sakelar itu, yang pasti lampu seketika padam bersamaan dengan lepasnya dekapan sosok mengerikan itu. Kini gelap gulita telah menyelimuti Hana sendiri di tengah kamar. Masih dengan ketakutan dan kegelapan menyelimutinya, Hana mengumpulkan keberanian untuk lari secepatnya ke arah pintu yang tak diketahuinya lagi letak pastinya karna gelap menutup mata. Hana berlari dengan kecepatan penuh, berusaha untuk menggapai gagang pintu.
                   “Bunda, bunda, tolong Hana bun...!” teriaknya diiringi isak tangis sambil memukul-mukul pintu kamarnya yang ternyata kini sudah kembali terkunci. Hana terduduk, tak tahu apa lagi yang akan dilakukan. Diliriknya pergelangan kakinya yang terasa tak nyaman, ”je...je...jemari siapa itu?” tanya Hana takut pada diri sendiri ketika melihat tangan keriput telah memegang pergelangan kakinya, tampak buram. ”Bunda...”, teriaknya sambil menarik kaki agar terlepas dari jemari keriput itu. Tapi tak ada peningkatan. Nihil. Tangan itu tetap menggenggam pergelangan kakinya dan bahkan semakin erat menggenggam. Tapi Hana tak menyerah, dicobanya terus untuk melepaskan tangan itu dari kakinya, tetapi malah. . . .‘Buuk’. “Aaa...” teriak Hana untuk ke sekian kalinya. Kini ketika tubuhnya tengah diseret ke bawah kolong tempat tidur yang gelap, pengap, dan berdebu. Darah dari gusinya yang telah cukup lama berhenti kini kembali keluar karna hempasan tadi. Dicobanya untuk merangkak agar bisa keluar dari tempat yang mengerikan itu dan duduk di sudut kamar. Kini ketakutan telah menyelimutinya secara keseluruhan, tubuhnya serasa gemetar karena tak kuasa menahan takut yang telah memenuhi hati dan kepalanya. Hana memeluk lututnya, mencoba untuk menenangkan jantung yang telah berdebar tak beraturan. Nafasnya tersengal dan air matanya merembes turun tak terkendali. ”Bunda, tolong Hana bun, Hana takut!” lirih Hana. Ternyata tanpa disadarinya, beberapa rambutnya telah melayan entah mengapa dan . . . . .
                  “Aaa . . .” teriak Hana ketika ternyata rambutnya yang melayang itu ditarik dan membawa sekalian tubuhnya. Hana melayang karna rambutnya yang ditarik ke atas. Kulit kepala Hana terasa sangat perih. Badannya juga dihempaskan ke dinding secara paksa, menimbulkan rasa sakit dan memar pada tubuhnya di beberapa tempat, terasa remuk. Ah, penglihatannya tiba-tiba menjadi merah dan juga mulai tercium bau amis. Dipegangnya kepalanya, ternyata darah segar telah keluar dari sana. Kaus biru yang sedang dipakainya pun telah kotor oleh bercik merah. Tiba-tiba kepala Hana serasa sakit dan penglihatannya juga bertambah buram. Hana menutup mata.
***
                  “Hah, hah, hah apa itu tadi?” tanya Hana pada diri sendiri ketika mendapati dirinya kini sedang berbaring nyaman di atas kasur sekarang. Diliriknya jendela yang tirainya belum tertutup – masih terang. Kemudian melihat jam dinding yang tepat berada di atas pintu masuk, pukul 16.15. Diperiksanya pula tubuhnya, tak ada luka dan darah. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi?

                  ‘Tok, tok, tok‘, bunyi ketukan pintu membuyarkan kebingungan Hana. ”Hana, Hana, buka pintunya sayang!! mengapa kamu teriak sayang, apa yang terjadi ?” teriakan itu mengiringi bunyi ketukan pintu tadi. Hana tahu siapa pemilik suara itu, suara yang sangat familiar diotaknya. Tiba-tiba senyumnya mengembang, Hana sangat senang. Tapi . . ., Hana takut itu bukan bunda.
                   Ditariknya nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu. ”Cklik” suara kunci yang diputar berbunyi. Diulanginya memutar kunci itu sekali lagi dan membuka pintu perlahan. Hana melihat bunda dengan wajah yang sangat cemas sedang berdiri diambang pintu. Ketika telah melihat Hana membuka pintu, bunda langsung memeluk tubuhnya erat. ”Kamu kenapa sayang, kenapa teriak meminta tolong?” tanya bunda lirih ketika melihat Hana sudah pucat diambang pintu. Hana tidak membalas pelukan bunda, takut jika itu bukan bunda. Ya, Hana teringat lagi ketika sosok mengerikan itu juga memeluknya erat hingga sesak, walau kejadian mimpi itu sudah terasa samar di ingatannya. Tapi yang ini sama sekali tidak menyesakkan, justru terasa lembut dan hangat.

Tapi Hana harus tetap berjaga ketika ternyata ini bukan bunda. Didorongnya tubuh bunda kuat hingga melepaskan pelukannya. Bunda terkejut ketika melihat Hana menatapnya tajam. ”Ada apa sayang? Kamu masih marah pada bunda? tolong maafkan bunda yang tadi siang ya! bunda tadi tidak benar-benar memarahimu, bunda hanya kelelahan, maafkan bunda!” lirih bunda sambil membentangkan tangannya, meminta Hana untuk kembali memeluknya .
                  Mata Hana langsung sayu ketika mendengar kata itu, Hana tertunduk, menyesal akan perbuatanku tadi. Hana kembali melangkah mendekati bunda ketika tadi sempat mundur ketakutan. Dia memeluk bunda erat. “Tidak bunda, Hana yang salah karna tak mau membantu bunda. Maafkan Hana bunda”, ucap Hana menyesal

Click to comment