Menanti Sosok Polisi Yang Melindungi Rakyat dan Negara

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh : Harri Santoso




  

Judul di atas penulis ambil dari makna gambar perisai pada logo Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), bahwa Polri sebagai sebuah institusi negara harus mampu menghasilkan sosok-sosok polisi yang melindungi rakyat dan negara. Berangkat dari judul di atas, penulis mencoba melakukan survey referensi secara daring melalui blog salah satu penulis tentang respon masyarakat terhadap kinerja Polisi Indonesia dan salah satu anekdot yang pernah dilontarkan Gus Dur tentang Polisi Indonesia. Salah satu blog yang berhasil penulis baca adalah dari http://widiyaanggreany.blogspot.com/2015/06/pendapat-masyarakat-terhadap-kinerja.html. Dari blog ini dikemukakan bagaimana respon masyarakat terhadap kinerja salah satu penegak hukum di Indonesia ini. Pendapat pertama menyebutkan bahwa “Polisi adalah KEPARAT berseragam Aparat, tapi gue masih percaya masih ada polisi bersih, dulu gue punya teman pas jadi polisi malah dia jadi tak bener.”Pendapat kedua menyebutkan “Pendapat gue sama seperti pendapat sebagian besar masyarakat Indonesia, bukan Cuma berdasarkan kata orang, tapi gue pernah mengalami dan melihat sendiri, Polisi itu dibilang sampah masyarakat yang berseragam, Duduk dimarkas terima laporan dan cenderung tidak ditindak lanjuti, tinggal tunggu info dari yang memberikan laporan, kecuali ada uang rokok, tilang sana tilang sini cari kesalahan pengendara, Mungkin tidak semua Polisi seperti itu, hanya polisi yang mempunyai Idealisme dan keimanan yang masih punya rasa malu, tapi semua yang gue temui memang semuanya menunjukan hal yang sama”.

Adapun anekdot yang pernah diucapkan Almarhum Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, Mantan Presiden Republik Indonesia) tentang Polisi Indonesia, menurutnya bahwa hanya ada 3 Polisi Jujur di Indonesia “Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.”. 2 sosok polisi pertama adalah sosok polisi fiktif dan sosok polisi yang ketiga adalah sosok Kepala Polisi Republik Indonesia yang memimpin lembaga ini pada tahun 1969. Sosok Hoegeng yang pernah dinobatkan menjadi The Man Of The Year pada tahun1970 adalah sosok Polisi yang jujur, humanis, pembela rakyat kecil hingga pengayom masyarakat. Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).

Selama ia menjabat sebagai Kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yang diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan  yang menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng bertindak. Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better, tegas Hoegeng.

Kasus lainnya yang menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewahbernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak. Sungguh berkuasanya si penjamin sampai Kejaksaan Jakarta Raya pun memutuskan kasus ini. Siapakah si penjamin itu? Tapi, Hoegeng tak gentar. Di kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yang terbukti menerima sogokan ditahan. Rumor yang santer, gara-garamem bongkar kasus ini pula yang menyebabkan Hoegeng dipensiunkan pada 2 Oktober 1971 dari jabatan Kapolri. Kasus ini ternyata melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI pada saat itu. Bayangan banyak orang, memasuki masa pensiun orang pertama di kepolisian pasti menyenangkan. Tinggal menikmati rumah mewah berikut isinya, kendaraan siap pakai. Semua itu diperoleh dari sogokan para pengusaha, namun tidak bagi Hoegeng, dirinya hidup sepertinya masyarakat lainnya berbekal sedikit uang pension sebagai Kapolri hidupnya nyaris kekurangan. Sumber https://gariffianto.wordpress.com/2013/03/28/alm-gus-dur-di-indonesia-ini-hanya-ada-tiga-polisi-jujur-yakni-polisi-tidur-patung-polisi-dan-hoegeng/.

Jika kita membaca secara seksama bagaimana respon masyarakat terhadap sosok Polisi di paragraph awal tulisan ini sangat bertolak belakang dengan karakteristik polisi yang ada pada Hoegeng sosok Kapolri yang pernah memimpin institusi ini pada 50 tahun yang lalu. Kehadiran Polisi yang memiliki misi salah satunya menjadi lembaga yang mampu memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan secara mudah, responsif dan tidak diskriminatif saat ini masih menjadi sosok-sosok langka di negeri ini. Oleh karenanya menjadi Pekerjaan Rumah bagi para pemimpin di Polri untuk dapat mewujudkan sosok polisi yang memiliki jiwa humanis, ramah dan menyenangkan. Penulis sebagai masyarakat biasa tentunya bermimpi suatu saat akan muncul respon-respon seperti ini di masyarakat : Kami bangga dengan Polisi Indonesia dan Polisi Indonesia is the best. Selamat Hari Ulang Tahun Bhayangkara yang Ke- 73 Tahun.

Harri Santoso., S.Psi.,M.Ed adalah Pengajar di FakultasPsikologi UIN Ar-Raniry dan Direktur Eksekutif YayasanRumah Disabilitas Indonesia. Berdomisili di Banda Aceh.E-mail: harri.santoso@ar-raniry.ac.id.

Click to comment