Menata Kembali Cara Membaca Kita

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Tabrani Yunis

Setiap kali masuk mengajar, memberikan pelajaran atau kuliah kepada para mahasiswa di sebuah Universitas, sang dosen sebelum memulai kuliah atau menyajikan pelajaran, selalu bertanya kepada mahasiswa. Pagi ini, atau hari ini siapakah di antara kalian yang ada membaca?  Bisa membaca koran atau surat kabar, bisa membaca buku, bisa novel, cerpen dan apa saja yang memberikan kalian pengetahuan dan pencerahan.  Ya, Apa yang kalian baca?  Bila ada, bagaimana anda membacanya? Apakah kalian membacanya hingga tuntas?

Hampir tidak ada yang menunjuk jari atau angkat tangan mengatakan ada atau langsung berkata, ya saya membaca tentang wacana legalisasi poligami di Aceh, atau juga, saya membaca buku berjudul Mendidik Generasi Z & , Marwah Era Milenial Tuah Generasi Digital, karangan J. Sumardianta dan Wahyu Kris AW. Tidak ada pula yang berkata, saya tadi membaca sebuah artikel di Majalah POTRET yang berjudul “ Menebar Cinta Menulis di Pidie Jaya”, tulisannya Tabrani Yunis yang dikenal aktif bergerak di bidang literasi anak negeri itu. Ya, tidak ada. Bahkan ketika ditanya, siapa yang ada membaca koran atau surat kabar pagi ini? Kondisinya juga sama, hampir tidak ada yang membaca. Lalu, sang dosen bertanya lagi, kalau kalian tidak membaca buku,novel atau artikel, apa yang ada kalian baca?

Hampir semua dan serentak menjawab, baca facebook dan WA Pak. Wow! Dahsyat. Boleh dikatakan bahwa semua membaca, tetapi membaca status facebook dan chatting atau sharing tulisan di whatsapp. Nah, mendapatkan dan mendengar jawaban yang mengejutkan itu, sang dosen lalu bertanya lagi. Apa yang kalian lakukan terhadap isi status facebook dan WA tersebut. Sebagian dari mereka menjawab, seperti kebanyakan orang, menanggapi isi status tersebut atau paling kurang memberikan likeatau bisa langsung sharelagi. Apakah kalian membaca tulisan atau status itu dengan tuntas?

Sekali lagi, sudah dapat ditebak. Rata-rata memberikan jawaban yang bukan lagi mengejutkan. Sudah menjadi kebiasaan masa kini. Jawabannya adalah tidak. Jawaban yang memberikan sinyal bahwa ada kebiasaan baru dalam aktivitas membaca kita. Kita sering tidak membaca sebuha tulisan dengan cermat dan tamat.  Artinya hanya membaca sekilas atau membaca sambil lewat. Tidak membaca secara utuh dan bahkan tidak sepenuhnya difahami? Ya, jelas tidak. Lalu, ketika ditanya apa isi bacaan, maka semua isi bacaan tersebut seakan hilang esensi.

Begitulah fakta kekinian cara membaca masyarakat kita dalam gegap gempita perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sesungguhnya sangat memudahkan kita untuk meningkatkan minat membaca. Namun, disadari atau tidak ketika kian mudahnya akses terhadap bahan bacaan yang berbagai ragam dan bisa diakses kapan saja tersebut, tidak membuat minat baca, day abaca dan budaya membaca kita menjadi lebih baik. Bahkan minat membaca yang seharusnya tumbuh dengan pesat, tidak terjadi. Malah sebaliknya. Ini membuat 
kemampuan atau daya literasi masyarakat Indonesia makin rendah, bila dibandingkan  kemampuan literasi di negara-negara lain di dunia. Ini juga membukrikan bahwa  pola dan cara kita membaca pun semakin menurun kualitasnya.

Bayangkan saja, bagaimana masyarakat kita bisa memahami sebuah masalah atau konsep yang benar, kalau membaca sebuah masalah atau konsep dibaca secara tidak utuh? Bagaimana bisa memahami sebuah kalimat atau paragraf, bila cara membacanya sambil lalu, atau sekilas mata? Tentulah tidak bisa sempurna. Ketidaksempurnaan ini bisa kita amati ketika masyarakat kita terlibat dalam komunikasi di media sosial seperti facebook, Twitter, whatsapp dan lain-lain.

Sudah menjadi rahasia umum kalau selama ini masyarakat kita, sejak penggunaan gadgets dan smartphones meluas tanpa batas status sosial, geografis, budaya agama dan lainya, khususnya di Indonesia, telah membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pola, cara dan paradigma membaca bangsa ini. Dengan melimpah ruah atau banjir bandang informasi lewat Internet di berbagai aplikasi media sosial, telah mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat. Perubahan yang tergolong dahsyat adalah pada hal membaca.

Gejala dan realitas seperti disebutkan di atas, memperlihatkan kita adanya gejala bahwa masyarakat kita kian  tak sabar. Tidak tahan berlama-lama membaca. Sebentar saja membaca, sudah selesai. Artinya, apa yang terjadi dengan aktivitas membaca tersebut adalah semakin tidak sabarnya orang dalam membaca. Tanpa membaca kalimat-kalimat di media sosial dengan cermat, langsung saja memberikan tanggapan. Padahal, kalimat yang dibaca, masih belum difahami, tetapi langsung ditanggapi, sehingga sering tidak terkoneksi dengan isi status yang sibuat seseorang. Gila bukan? Ya, tentu saja gila. Hal lain yang bisa kita amati adalah semakin kurang nikmatnya membaca. Biasanya, seorang pembaca yang sabar dan telaten, akan menikmati isi bacaan yang ia baca. Ketika ia membaca, tidak ada yang melekat di fikiran dan bisa diekpresikan dengan menceritakan atau menulis kembali dan sebagainya. Isi bacaan seakan hilang begitu saja, tanpa difahami secara utuh.

Akibat dari malasnya membaca secara utuh. Ya, cenderung membaca dengan cara tidak tunts tersebut, biasanya berdampak pada pemahaman yang tidak sempurna. Sehingga kalau dalam diskusi, banyak kita lihat kasus orang yang telmi alias telat mikir. Sering tidak nyambung dengan topik pembicaraan. Celakanya, dalam diskusi di dalam grup facebook, sering kita temukan kondisi di mana orang yang memberikan tanggapan dari sebuah status yang ditulis di facebook, tidak nyambung karena ketika memberikan tanggapan, tidak membaca dengan teliti isi status yang diresponnya. Kalau pemberi komentar yang terakhir marah dan memaki-maki, maka ia juga akan ikut memaki. Berbahaya bukan? Jelas ini berbahaya.

Juga sangat celaka, saat ini ketika hoaks atau cerita bohong semakin menjamur di media social, banyak orang yang ikut terjebak dalam derasnya arus distribusi berita hoaks di media social. Kita  sering melihat fakta bahwa semakin gegabah dalam membaca dan merespon. Lihatlah, amatilah ketika kita menggunakan sarana media sosial, baik facebook maupun instagram. Ada banyak hal aneh yang kita jumpai. Seringkali ketika tidak membaca postingan orang, ada banyak orang yang salbung. Ya, salah sambung. Cepat percaya dengan berita atau cerita bohong atau hoaks. Suka share apa yang ditulis orang lain dan belum tentu kebenaran isi tulisan tersebut. Lalu, kalau diingatkan akan marah-marah dan sebagainya. Aneh bukan?

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banya hal yang membuat kita menjadi semakin prihatin melihat perubahan perilaku membaca di tengah masyarakat kita saat ini, ketika gempuran penggunaan gadgets yang cenderung  bersifat entertainment, konsumtif dan addicted,kita melihat pula banyak fakta bahwa minat membaca dan daya membaca, apalagi budaya membaca masyarakat kita semakin menurun. Hingga banyak yang berkata bahwa minat dan daya membaca banyak orang, terutama yang demam gadgets dan smartphones tersebut sudah sangat rendah.

Perubahan pola membaca masyarakat kita yang demikian ini akan membawa dampak buruk bagi perkembangan generasi bangsa ini di masa depan.. Karena ketika minat baca menurun, daya baca melemah, kita akan lebih suka percaya berita bohong dari pada yang sebenarnya, itu adalah sebuah pertanda kehancuran yang sedang dan kita hadapi. Oleh sebab itu, persoalan ini harus disadari bersama bahwa ini akan menjadi masalah besar bersama, yang harus dicari upaya untuk menata kembali cara membaca masyarakat kita. Semua orang, secara pribadi dan kelompok, sudah harus dengan segera menata kembali cara membaca, tujuan membaca dan juga hal-hal lain yang perlu dan bisa ditangani agar, ke depan tidak membuat generasi bangsa ini, menjadi generasi yang besar jumlahnya, tetapi sedikit atau kecil kualitasnya. Oleh sebab itu, menjadi tugas dan tanggung jawab bersama untuk menta kembali cara membaca kita. Dari manaka kita memulai?

Dari diri sendiri. Ajak teman-teman dekat, keluarga dan masyarakat untuk kembali menata kemampuan membaca secara bai dan benar, secara holistic dan lebih berekualitas cara membaca. Karena dengan membaca tuntas, kita akan  bisa memberikan solusi terhadap sebuah masalah secara komprehensif. Mari kita tata kembali cara membaca kita. Masih ada waktu, bukan? Bacalah sampai tuntas.

Click to comment